Jumat, 01 Mei 2026

Opini

Agus dan Anies tak Kompak?

Oleh: H. Sofyan Lubis
Minggu, 22 Jan 2017 09:13
merdeka.com
Ilustrasi

KETIKA Basuki Tjahaja Pur­nama, akrab dipanggil Ahok, akan maju ke Pemilihan Kepala Daerah (pil­kada) DKI 2017 menggunakan jalur perora­ngan, baru Nasdem disusul Ha­nura yang mendukung. Beberapa pen­tolan partai sempat berkumpul dan menyata­kan, Ahok sebagai musuh bersama. Setelah Megawati men­dukung Ahok, menyusullah partai lain, termasuk Golkar. Sudah terjadi pergeseran.

Lihat saja debat politik pilkada DKI an­­tara tiga pasangan calon Jumat (13/1) di salah satu hotel di Jakarta yang di­­siarkan langsung beberapa stasiun te­­le­visi. Pasangan petahana, Ahok-Dja­rot, seakan tenang melenggang di aca­ra tersebut. Padahal biasanya pa­sangan petahana selalu akan "dihajar", di­serang. Dan kebetulan pula posisi Ahok-Djarot memang dijepit pasa­ngan Agus-Silvy dan pasangan Anies-Sandi. Ahok-Djarot nomor urut 2 dijepit Agus-Silvy nomor 1 dan Anies-Sandi nomor 3.

Di dalam debat, Ahok-Djarot ternyata merasa tidak banyak menda­pat­kan serangan. Ada isu yang dilem­pa­r seperti soal penggusuran, kemis­kinan dan rumah deret. Tapi "so­do­kan"nya kurang tajam. Maka se­enak­nya Ahok-Djarot mampu menga­tasi­nya. Seharusnya Ahok-Djarot terus di­cecar. Padahal kesempatan untuk itu terbuka. Ira Koesno yang cukup han­­dal sebagai moderator memberi­kan­nya. Tapi tak dimanfaatkan Agus dan Anies.

Malah Ahok kelihatan tak ingin menekan, terutama Agus-Silvy. Silvy birokrat tulen DKI. Pernah jadi Walikota Jakarta Pusat dan Deputy Gubernur DKI. Paling tidak, Silvy tak dapat melepaskan diri dari kebijakan Gubernur DKI Jakarta, dalam hal ini Basuki Tjahaja Purnama. Dan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat.

Perlu dipertanyakan kekompakan pa­sangan Agus-Silvy dan Anies-Sandi di dalam debat. Apakah mereka betul-be­tul menganggap Ahok-Djarot sudah bu­kan musuh bersama lagi?  Padahal pen­tolan partai pengusung­nya sudah per­nah "berkoar",  Ahok musuh bersa­ma. Dari peluru pertanya­an yang dile­pas­­kan keduanya pda debat, terkesan su­dah ada pergeseran. Dan dengan mu­dah Ahok-Djarot dapat menang­kisnya. Tidak meng­gigit. Tidak mema­tikan. Atau apakah karena baru debat publik pertama? Jadi baru tahap men­jajaki.                

Debat kedua akan berlangsung Jumat (27/1). Agus dan Anies harus me­manfaatkan sebaik-baiknya. Ja­ngan buang-buang waktu seperti di­tun­­juk­kan Agus pertama kali bicara pada de­bat pertama. Di dalam debat, waktu sa­ngat berharga. Ini sangat di­jaga sang mo­derator. Dan memang sudah tu­gas­nya. Beda dengan kam­pa­nye terbuka. Beri kesempatan juga wa­kil bicara. Ja­ngan diborong sendiri. Ini perlu untuk me­nunjukkan kerja­sa­ma. Sebab mung­kin saja dari debat, pu­blik dapat menilai ke­kompakan dan ke­har­monisan pasa­ngan calon. Kena­pa? Karena beberapa contoh ada ke­pala daerah yang be­la­kangan pecah kong­si dengan wakilnya. Tidak har­mo­nis lagi.

Pada debat kedua, Agus dan Anies harus sudah siap "menggempur" pe­ta­hana. Hanya saja, mampukah mere­ka membuat Ahok gelagapan? Mam­pu­kah mereka memancing emosi Ahok? Membuatnya marah? Pada de­bat pertama, kedua pasangan itu gagal. Mereka tak mampu membuat menaik­kan emosi Ahok. Atau, karena Ahok tak dapat dibikin marah lagi. Sebab di dalam debat pertama terlihat Ahok tam­pil tenang. Rileks. Tidak emosi. Bah­kan dia sempat bilang, "kita tidak cu­kup jujur, tapi juga harus santun". San­tun, satu kata yang selama ini ba­nyak dituntut banyak orang darinya. Se­lama ini sudah berapa kata tak san­tun dipertontonkannya.

Apakah Ahok sudah berobah? Atau apakah karena dia tidak mendapatkan apa-apa dari debat pertama? Tapi ke­napa beberapa saat setelah debat per­tama, Ahok sempat membuat per­nya­taan, dia ingin dikritik pada debat ke­dua? Kenapa dia sampai membuat per­nyataan seperti itu? Apakah karena pada debat pertama dia merasa tidak me­nerima kritikan? Mungkin dia meng­anggap soal penggusuran, ke­mis­kinan, kemacetan lalu lintas dan ru­mah deret baginya bukan bagian kri­tik. Lantas kritik yang bagaimana yang diharap­kannya? Dua pasangan calon lain harus mampu menangkap dan mener­jemahkannya. Terutama bagi Silvy yang sudah karatan di bi­rokrasi DKI dan Anies yang sudah per­nah jadi menteri.

Karena itu, debat publik pilkada DKI 2017 yang kedua, Jumat (27/1), ba­kal lebih menarik. Apalagi dengan mo­­derator yang piawai. Kita tunggu! ***

Penulis, anggota Komisi I DPR-RI (1997-1999), alumni KRA 24 Lemhannas (1991), lulusan SMA Kesatria Medan (1960).

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Jumat, 01 Mei 2026 10:39

    Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya

    JAKARTA ï¿½" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5  dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun

  • Jumat, 01 Mei 2026 10:37

    Masuk Ekosistem XLSMART, Defend IT360 Perkuat Keamanan Siber Terintegrasi

    JAKARTA - Perusahaan keamanan siber Defend IT360 meluncurkan logo terbaru tepat di ulang tahun yang kedua. Peluncuran logo ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas dan posisi

  • Jumat, 01 Mei 2026 10:35

    Kenapa Biaya Kuliah Jalur Mandiri Lebih Mahal?

    JAKARTA â€" Kenapa biaya kuliah jalur mandiri lebih mahal? Biaya pendidikan melalui jalur mandiri memang berbeda dibandingkan jalur prestasi maupun jalur tes. Karena itu, calon mahasisw

  • Jumat, 01 Mei 2026 10:32

    Kenapa Zinc dan Vitamin C dalam Suplemen Anak Tidak Dibuat 100 Persen? Begini Penjelasan Dokter

    BANYAK orangtua sering kali merasa bingung saat membaca tabel komposisi pada label vitamin anak. Utamanya ketika melihat angka persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG) seperti kandungan zi

  • Jumat, 01 Mei 2026 10:28

    Tak Perlu Dibuang, Ikan Sapu-Sapu Bisa Diolah Jadi Pupuk

    JAKARTA â€" Ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap hama ternyata memiliki manfaat besar. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, mengungkapkan bahw

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.