Opini
Agus dan Anies tak Kompak?
Oleh: H. Sofyan Lubis
Minggu, 22 Jan 2017 09:13
KETIKA Basuki Tjahaja Purnama, akrab dipanggil Ahok, akan maju ke Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) DKI 2017 menggunakan jalur perorangan, baru Nasdem disusul Hanura yang mendukung. Beberapa pentolan partai sempat berkumpul dan menyatakan, Ahok sebagai musuh bersama. Setelah Megawati mendukung Ahok, menyusullah partai lain, termasuk Golkar. Sudah terjadi pergeseran.
Lihat saja debat politik pilkada DKI antara tiga pasangan calon Jumat (13/1) di salah satu hotel di Jakarta yang disiarkan langsung beberapa stasiun televisi. Pasangan petahana, Ahok-Djarot, seakan tenang melenggang di acara tersebut. Padahal biasanya pasangan petahana selalu akan "dihajar", diserang. Dan kebetulan pula posisi Ahok-Djarot memang dijepit pasangan Agus-Silvy dan pasangan Anies-Sandi. Ahok-Djarot nomor urut 2 dijepit Agus-Silvy nomor 1 dan Anies-Sandi nomor 3.
Di dalam debat, Ahok-Djarot ternyata merasa tidak banyak mendapatkan serangan. Ada isu yang dilempar seperti soal penggusuran, kemiskinan dan rumah deret. Tapi "sodokan"nya kurang tajam. Maka seenaknya Ahok-Djarot mampu mengatasinya. Seharusnya Ahok-Djarot terus dicecar. Padahal kesempatan untuk itu terbuka. Ira Koesno yang cukup handal sebagai moderator memberikannya. Tapi tak dimanfaatkan Agus dan Anies.
Malah Ahok kelihatan tak ingin menekan, terutama Agus-Silvy. Silvy birokrat tulen DKI. Pernah jadi Walikota Jakarta Pusat dan Deputy Gubernur DKI. Paling tidak, Silvy tak dapat melepaskan diri dari kebijakan Gubernur DKI Jakarta, dalam hal ini Basuki Tjahaja Purnama. Dan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat.
Perlu dipertanyakan kekompakan pasangan Agus-Silvy dan Anies-Sandi di dalam debat. Apakah mereka betul-betul menganggap Ahok-Djarot sudah bukan musuh bersama lagi? Padahal pentolan partai pengusungnya sudah pernah "berkoar", Ahok musuh bersama. Dari peluru pertanyaan yang dilepaskan keduanya pda debat, terkesan sudah ada pergeseran. Dan dengan mudah Ahok-Djarot dapat menangkisnya. Tidak menggigit. Tidak mematikan. Atau apakah karena baru debat publik pertama? Jadi baru tahap menjajaki.
Debat kedua akan berlangsung Jumat (27/1). Agus dan Anies harus memanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan buang-buang waktu seperti ditunjukkan Agus pertama kali bicara pada debat pertama. Di dalam debat, waktu sangat berharga. Ini sangat dijaga sang moderator. Dan memang sudah tugasnya. Beda dengan kampanye terbuka. Beri kesempatan juga wakil bicara. Jangan diborong sendiri. Ini perlu untuk menunjukkan kerjasama. Sebab mungkin saja dari debat, publik dapat menilai kekompakan dan keharmonisan pasangan calon. Kenapa? Karena beberapa contoh ada kepala daerah yang belakangan pecah kongsi dengan wakilnya. Tidak harmonis lagi.
Pada debat kedua, Agus dan Anies harus sudah siap "menggempur" petahana. Hanya saja, mampukah mereka membuat Ahok gelagapan? Mampukah mereka memancing emosi Ahok? Membuatnya marah? Pada debat pertama, kedua pasangan itu gagal. Mereka tak mampu membuat menaikkan emosi Ahok. Atau, karena Ahok tak dapat dibikin marah lagi. Sebab di dalam debat pertama terlihat Ahok tampil tenang. Rileks. Tidak emosi. Bahkan dia sempat bilang, "kita tidak cukup jujur, tapi juga harus santun". Santun, satu kata yang selama ini banyak dituntut banyak orang darinya. Selama ini sudah berapa kata tak santun dipertontonkannya.
Apakah Ahok sudah berobah? Atau apakah karena dia tidak mendapatkan apa-apa dari debat pertama? Tapi kenapa beberapa saat setelah debat pertama, Ahok sempat membuat pernyataan, dia ingin dikritik pada debat kedua? Kenapa dia sampai membuat pernyataan seperti itu? Apakah karena pada debat pertama dia merasa tidak menerima kritikan? Mungkin dia menganggap soal penggusuran, kemiskinan, kemacetan lalu lintas dan rumah deret baginya bukan bagian kritik. Lantas kritik yang bagaimana yang diharapkannya? Dua pasangan calon lain harus mampu menangkap dan menerjemahkannya. Terutama bagi Silvy yang sudah karatan di birokrasi DKI dan Anies yang sudah pernah jadi menteri.
Karena itu, debat publik pilkada DKI 2017 yang kedua, Jumat (27/1), bakal lebih menarik. Apalagi dengan moderator yang piawai. Kita tunggu! ***
Penulis, anggota Komisi I DPR-RI (1997-1999), alumni KRA 24 Lemhannas (1991), lulusan SMA Kesatria Medan (1960).
sumber:harian.analisadaily.com
Satresnarkoba Polres Inhu Ringkus Dua Pelaku
INHU-Keberhasilan pengungkapan peredaran gelap narkotika berlangsung dramatis di Desa Talang Suka Maju, Kecamatan Rakit Kulim. Dua pengedar sabu berhasil diringkus Satresnarkoba Polres Inhu, salah sat
Bahu Membahu Demi Desa Sehat, Satgas TMMD Bersama Warga Bersihkan Saluran Air
Halmahera Timur â€" Semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat kembali terlihat dalam pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 1505/Tidore. Personel Satgas TMMD bersama
Polres Rohil dan Pemkab Perkuat Sinergi Cegah Karhutla
BAGANSIAPIAPI-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir bersama Polres Rokan Hilir menggelar Apel Kesiapsiagaan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Lapangan MTQ, Jalan Perkantoran, Ke
Bertaruh Nyawa Tanpa Tabung Oksigen, Kisah Penyelam Tradisional Cari Bocah Tenggelam di Sungai Siak
SIAK-Berbekal kompresor, selang angin, dan batu pemberat seberat 20 kilogram, Samsir (50) alias Atan tak ragu menyelam ke dasar Sungai Siak yang dingin dan gelap gulita.Bersama tim gabungan dari Kanto
Plt Gubri Tinjau Operasi Pasar Murah
PEKANBARU - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto turut meninjau penyelenggaraan operasi pasar murah Pemprov Riau di Stadion Utama Riau, Kamis (6/8/26).Operasi pasar murah tersebut merupak