Opini
Aksi Terorisme Merusak Penganut Agama
Oleh: Multajimah MA
Kamis, 17 Mei 2018 09:41
Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah terorisme. Tergambar dari para pelaku bom bunuh diri yang sebagaian besar adalah anak muda. Mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang terpengaruh oleh doktrin jihad. Begitu mudahnya mereka terjebak dan tertipu akan "iming-iming" yang dijanjikan para teroris yang mendoktrin mereka agar mereka bersedia menjadi pelaku teror yang menghancurkan bangsanya sendiri.
Mereka umumnya melakukan teror dengan bentuk serupa. Gejala praktik kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang itu, secara historis-sosiologis, lebih tepat sebagai gejala sosial politik ketimbang gejala keagamaan meskipun dengan mengibarkan panji-panji keagamaan.
Fenomena radikalisme yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat Islam, oleh pers Barat dibesar-besarkan, sehingga menjadi wacana internasional dan terciptalah opini publik bahwa Islam itu mengerikan dan penuh dengan kekerasan. Akibatnya tidak jarang image negatif banyak dialamatkan kepada Islam. Sehingga umat Islam terpojokkan sebagai umat perlu dicurigai. Hal yang demikian terjadi karena masyarakat Barat mampu menguasai pers yang dijadikan instrumen yang kuat guna memproyeksikan kultur dominan dari peradaban global. Apa yang ditangkap masyarakat dunia adalah apa yang didefinisikan dalam media-media Barat.
Istilah salah kaprah itu sesungguhnya tidak perlu terjadi, jika Barat mau mengkaji Islam secara objektif. Islam berbeda dengan perilaku Muslim, artinya kebrutalan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme.
Sebaliknya, kelompok-sekolompok kecil umat Islam yang fanatik dan mengarah kepada kekerasan juga menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. Gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok orang, termasuk Muslim, merupakan kanker rohani yang kronis yang mengancam manusia dan kemanusiaan. Di luar itu semua, praktik-praktik arogansi Barat dan hegemoninya atas dunia Islam harus juga disadari. Sebab, Islam sangat menghargai perbedaan, seperti pernah dikemukakan oleh Kuntowijoyo, Islam justru tumbuh menjadi agama besar dalam semangat pluralisme.
Piagam Madinah menjadi tonggak demokrasi dan sifat inklusifisme paling awal di dunia. Lebih jauh, menurut Ahmad Syafi'i Ma'arif, karya monumental Rasulullah Saw itu punya tujuan strategis bagi terciptanya keserasian politik dengan mengembangkan toleransi sosio-religius yang seluas-luasnya. Bahkan sejumlah pengamat Barat pun mengakui piagam Madinah itu merupakan sebuah konsensus bersama antara berbagai golongan, ras, suku, maupun agama, yang paling demokratis sepanjang sejarah.
Piagam Madinah telah mewariskan kepada kita prinsip-prinsip inklusifisme dalam menata masyarakat yang pluralistik dan harmonis berlandaskan moral religius yang kokoh dan anggun, serta merupakan dasar penghormatan yang kokoh bagi sebuah kehidupan yang toleran dengan menjamin hak-hak kaum non-muslim.
Menurut Harun Nasution, fundamentalisme istilah yang tidak dipakai dalam umat Islam, dengan demikian berarti istilah yang cocok adalah modernisme atau pembaruan (tajdid). Tapi kalau yang dimaksud dengan fundamentalisme bukanlah paham kembali ke ajaran-ajaran dasar, tetapi paham dan gerakan mempertahankan ajaran-ajaran lama dan menentang pembaruan, seperti dalam gerakan Protestan Amerika yang muncul pada abad ke 19 lalu, maka istilah demikian tidak sesuai dengan paham dan gerakan sejenisnya yang terdapat dalam Islam.
Istilah fundamentalisme Islam sebenarnya disodorkan oleh media Barat di luar kehendak kita supaya diadopsi oleh kalangan umat manusia melalui media massa. Ada istilah yang mengatakan jika kebohongan diucapkan berkali-kali, maka pada akhirnya akan dipercaya. Dengan demikian istilah fundamentalisme ini; "kalaupun berpegang kepada Islam secara benar, baik dalam sisi aqidah, syariat, minhaj kehidupan, dakwah kepadanya, dianggap sebagai "fundamentalisme", maka biarlah orang-orang yang merasa keberatan mau memberi kesaksian bahwa memang kita para "fundamentalis (Yusuf Qardhawi: 1997)
Banyak label-label yang diberikan oleh kalangan Eropa Barat dan Amerika Serikat untuk menyebut gerakan Islam radikal ini, mulai dari sebutan kelompok garis keras, ekstrimis, militan, Islam kanan, fundamentalisme, sampai terrorisme. Bahkan negara-negara Barat pascahancurnya ideologi komunisme (pascaperang dingin) memandang Islam sebagai sebuah gerakan peradaban yang menakutkan (Nurcholish Madjid, 1995: 270). Hal yang demikian terjadi karena orang-orang Eropa Barat dan Amerika Serikat berhasil melibatkan diri dan mewarnai media sehingga mampu membentuk opini publik.
Praktik-praktik kekerasan yang dilakukan sekelompok Islam dengan membawa simbol-simbol agama telah dimanfaatkan oleh orang-orang Barat dengan memanfaatkan media massa sebagai alat utama dalam memegang tampuk wacana peradaban, sehingga Islam terus menerus dipojokkan oleh publik.
Ketergesa-gesaan dalam generalisasi menyebabkan Barat tidak mampu memandang fenomena historis umat Islam secara objektif. Hal ini tidak berarti pembenaran terhadap praktik radikalisme yang dilakukan umat beragama, karena yang demikian bertentangan dengan pesan-pesan moral yang terkandung dalam agama dan moralitas mana pun.
Fundamentalis sangat menyenangkan bagi pers Barat ketimbang label Tamil di Srilangka, militan Hindu di India, IRA (kelompok bersenjata Irlandia Utara), militant Yahudi sayap kanan, sekte kebatinan di Jepang atau bahkan musuh lamanya, komunis-marxis yang tidak jarang menggunakan jalan kekerasan sebagai solusi penyelesaian masalah.
Karena terlalu mengkaitkan kata-kata radikalisme, fundamentalis, atau gerakan militan dengan Islam, seringkali media Barat mengabaikan perkembangan praktik kekerasan yang ditopang keyakinan keagamaan yang dilakukan oleh kalangan non-Islam atau pun yang ditopang oleh ideology "kiri."
Contoh yang sangat jelas adalah aksi tutup mulut para elit politik Barat ketika melihat praktik kekerasan yang dilakukan oleh ekstrimis Yahudi atau pun serdadu Israel atas orang-orang Arab Palestina.
Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat Edward Snowden menyatakan jika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan organisasi bentukan dari kerjasama intelijen dari tiga negara. Dikutip dari Global Research, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan jika satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad Israel bekerjasama untuk menciptakan sebuah negara khalifah baru yang disebut dengan ISIS. Snowden mengungkapkan, badan intelijen dari tiga negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstremis di seluruh dunia. Mereka menyebut strategi tersebut dengan nama 'sarang lebah'.
Whistleblower NSA, Edward Joseph Snowden, berbicara blak-blakan soal negaranya, Amerika Serikat (AS) sebagai biang kemunculan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dia mengatakannya dalam wawancara dengan wartawan koran Dagens Nyheter Swedia, Lena Sundström di sebuah hotel di Moskow. Tidak ada ISIS sampai kita mulai membom negara-negara ini (Irak dan Timur Tengah). Ancaman terbesar yang kita hadapi di wilayah tersebut lahir dari kebijakan kami sendiri, kata Snowden. AS berpikir pada tingkat emosional, bukan pada tingkat kecerdasan, sindir bekas kontraktor Badan Keamanan Nasional (NSA) AS itu.
Dokumen NSA yang dirilis Smowden menunjukkan bagaimana strategi sarang lebah tersebut dibuat untuk melindungi kepentingan zionis dengan menciptakan slogan Islam. Berdasarkan dokumen tersebut, satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi adalah menciptakan musuh di perbatasan. Strategi tersebut dibuat untuk menempatkan semua ekstremis di dalam satu tempat yang sama sehingga mudah dijadikan target. Tak hanya itu, adanya ISIS akan memperpanjang ketidakstabilan di timur tengah, khususnya di negara-negara Arab. ***
Penulis, Dosen STAIS TTD & UIN SU
sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau
DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga
Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi
Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L
Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir
TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da
Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang
Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan
Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme
Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k