Selasa, 05 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Aksi Terorisme Merusak Penganut Agama

Opini

Aksi Terorisme Merusak Penganut Agama

Oleh: Multajimah MA
Kamis, 17 Mei 2018 09:41
(Foto: Internet)
Ilustrasi

Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah terorisme. Tergambar dari para pelaku bom bunuh diri yang sebagaian besar adalah anak muda. Mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang terpengaruh oleh doktrin jihad. Begitu mudahnya mereka terjebak dan tertipu akan "iming-iming" yang dijanjikan para teroris yang mendoktrin mereka agar mereka bersedia menjadi pelaku teror yang menghancurkan bangsanya sendiri.

Mereka umumnya melakukan teror dengan bentuk serupa. Gejala praktik keke­rasan yang dilakukan oleh sekelom­pok orang itu, secara historis-sosiologis, lebih tepat sebagai gejala sosial politik ketim­bang gejala keagamaan meskipun dengan mengibarkan panji-panji keaga­maan.

Fenomena radikalisme yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat Islam, oleh pers Barat dibe­sar-besarkan, sehingga menjadi wacana internasional dan tercip­talah opini publik bahwa Islam itu menge­rikan dan penuh dengan kekerasan. Aki­batnya tidak jarang image negatif banyak dialamatkan kepada Islam. Sehingga umat Islam terpojokkan sebagai umat perlu dicurigai. Hal yang demikian terjadi karena masyarakat Barat mampu menguasai pers yang dija­dikan instrumen yang kuat guna memproyeksikan kultur dominan dari peradaban global. Apa yang ditangkap ma­syarakat dunia adalah apa yang didefinisikan dalam media-media Barat.

Istilah salah kaprah itu sesung­guhnya tidak perlu terjadi, jika Barat mau mengkaji Islam secara objektif. Islam berbeda dengan perilaku Muslim, artinya kebru­talan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme.

Sebaliknya, kelompok-seko­lompok kecil umat Islam yang fanatik dan mengarah kepada kekerasan juga menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. Gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok orang, termasuk Muslim, merupa­kan kanker rohani yang kronis yang mengancam manusia dan kema­nusiaan. Di luar itu semua, praktik-praktik arogansi Barat dan hege­mo­ninya atas dunia Islam harus juga disadari. Sebab, Islam sangat menghargai perbedaan, seperti pernah dikemukakan oleh Kunto­wijoyo, Islam justru tumbuh menjadi agama besar dalam semangat pluralisme.

Piagam Madinah menjadi tonggak demokrasi dan sifat inklusifisme paling awal di dunia. Lebih jauh, menurut Ahmad Syafi'i Ma'arif, karya monu­mental Rasu­lullah Saw itu punya tujuan strategis bagi terciptanya kese­rasian politik dengan mengem­bangkan toleransi sosio-religius yang seluas-luasnya. Bah­kan sejumlah pengamat Barat pun me­ngakui piagam Madinah itu meru­pakan sebuah konsensus bersama antara ber­bagai golongan, ras, suku, maupun aga­ma, yang paling demokratis sepanjang sejarah.

Piagam Madinah telah mewa­riskan kepada kita prinsip-prinsip inklusifisme dalam menata ma­sya­rakat yang pluralistik dan harmonis berlandaskan moral religius yang kokoh dan anggun, serta merupakan dasar penghor­matan yang kokoh bagi sebuah kehidupan yang toleran dengan menjamin hak-hak kaum non-muslim.

Menurut Harun Nasution, funda­mentalisme istilah yang tidak dipakai dalam umat Islam, dengan demikian berarti istilah yang cocok adalah moder­nisme atau pemba­ruan (tajdid). Tapi kalau yang dimaksud dengan fundamenta­lisme bukanlah paham kembali ke ajaran-ajaran dasar, tetapi paham dan gerakan memper­tahankan ajaran-ajaran lama dan menen­tang pembaruan, seperti dalam gerakan Protestan Amerika yang muncul pada abad ke 19 lalu, maka istilah demikian tidak sesuai dengan paham dan gerakan sejenisnya yang terdapat dalam Islam.

Istilah fundamentalisme Islam sebe­narnya disodorkan oleh media Barat di luar kehendak kita supaya diadopsi oleh kalangan umat manusia melalui media massa. Ada istilah yang menga­takan jika kebohongan diucapkan berkali-kali, maka pada akhirnya akan dipercaya. Dengan demikian istilah fundamentalisme ini; "kalaupun berpegang kepada Islam secara benar, baik dalam sisi aqidah, syariat, minhaj kehidupan, dakwah kepadanya, dianggap seba­­­gai "fundamentalisme", maka biarlah orang-orang yang merasa keberatan mau memberi kesaksian bahwa memang kita para "fundamentalis (Yusuf Qardhawi: 1997)

Banyak label-label yang diberikan oleh kalangan Eropa Barat dan Amerika Seri­kat untuk menyebut gerakan Islam radikal ini, mulai dari sebutan kelompok garis keras, ekstrimis, militan, Islam ka­nan, fundamentalisme, sampai terroris­me. Bahkan negara-negara Barat pascahan­cur­nya ideologi komunisme (pascaperang dingin) memandang Islam sebagai sebuah gerakan peradaban yang menakutkan (Nurcholish Madjid, 1995: 270). Hal yang demikian terjadi karena orang-orang Eropa Barat dan Amerika Serikat ber­hasil melibatkan diri dan mewarnai media sehingga mampu mem­bentuk opini publik.

Praktik-praktik kekerasan yang dila­kukan sekelompok Islam dengan memba­wa simbol-simbol agama telah diman­faatkan oleh orang-orang Barat dengan meman­faatkan media massa sebagai alat utama dalam memegang tampuk wacana peradaban, sehingga Islam terus menerus dipojokkan oleh publik.

Ketergesa-gesaan dalam generalisasi menyebabkan Barat tidak mampu me­mandang feno­mena historis umat Islam secara objektif. Hal ini tidak berarti pem­benaran terhadap praktik radikalisme yang dilakukan umat beragama, karena yang demikian bertentangan dengan pesan-pesan moral yang terkandung dalam agama dan moralitas mana pun.

Fundamentalis sangat me­nye­­nangkan bagi pers Barat ke­tim­bang label Tamil di Srilang­ka, militan Hindu di India, IRA (kelompok bersenjata Irlandia Utara), militant Yahudi sayap kanan, sekte kebatinan di Jepang atau bahkan musuh lamanya, ko­munis-marxis yang tidak ja­rang menggunakan jalan keke­rasan sebagai solusi penyele­sa­ian masalah.

Karena terlalu mengkaitkan kata-kata radikalisme, funda­men­­talis, atau gerakan militan dengan Islam, seringkali media Barat mengabaikan perkem­ba­ngan praktik kekerasan yang ditopang keyakinan keagamaan yang dilakukan oleh kalangan non-Islam atau pun yang di­to­pang oleh ideology "kiri."

Contoh yang sangat jelas ada­lah aksi tutup mulut para elit po­litik Barat ketika melihat prak­tik kekerasan yang dilaku­kan oleh ekstrimis Yahudi atau pun serdadu Israel atas orang-orang Arab Palestina.

Mantan pegawai Badan Kea­ma­nan Nasional (NSA) Ame­rika Serikat Edward Snowden menyatakan jika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) meru­pakan organisasi bentukan dari kerjasama intelijen dari tiga ne­gara. Dikutip dari Global Re­search, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan jika satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad Israel bekerjasama untuk menciptakan sebuah ne­gara khalifah baru yang disebut dengan ISIS. Snowden meng­ungkapkan, badan intelijen dari tiga negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstremis di se­lu­ruh dunia. Mereka menyebut strategi tersebut dengan nama 'sarang lebah'.

Whistleblower NSA, Edward Joseph Snowden, berbicara blak-blakan soal negaranya, Ame­rika Serikat (AS) sebagai biang kemunculan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dia mengatakannya da­lam wawancara dengan warta­wan koran Dagens Nyheter Swe­dia, Lena Sundström di sebuah hotel di Moskow. Tidak ada ISIS sampai kita mulai membom ne­ga­ra-negara ini (Irak dan Timur Tengah). Ancaman terbesar yang kita hadapi di wilayah ter­sebut lahir dari kebijakan kami sendiri, kata Snowden. AS ber­pikir pada tingkat emosional, bukan pada tingkat kecerdasan, sindir bekas kontraktor Badan Keamanan Nasional (NSA) AS itu.

Dokumen NSA yang dirilis Smowden menunjukkan bagai­ma­na strategi sarang lebah ter­sebut dibuat untuk melindungi kepentingan zionis dengan men­ciptakan slogan Islam. Berda­sarkan dokumen tersebut, satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi adalah men­ciptakan musuh di perbata­san. Strategi tersebut dibuat un­tuk menempatkan semua ekstre­mis di dalam satu tempat yang sama sehingga mudah dijadikan target. Tak hanya itu, adanya ISIS akan memperpanjang keti­dakstabilan di timur tengah, khu­susnya di negara-negara Arab. ***

Penulis, Dosen STAIS TTD & UIN SU

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.