Opini
Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika
Oleh: Dedy Kurniawan
Minggu, 11 Feb 2018 05:44
MENYAKSIKAN maraknya berita-berita yang ada di media sosial, orang tua serta negara perlu menjadi perisai yang kuat untuk karakter anak. Tak jarang pula berita tersebut sama sekali tidak bermanfaat bahkan untuk anak. Jika dilihat perbandingannya antara berita yang mengedukasi dengan berita hiburan semata, maka yang lebih banyak adalah berita hiburan semata. Berita-berita di media sosial tersebut tak jarang pula yang mengabaikan privasi seseorang.
Memang, persoalan semacam ini sering dianggap remeh-temeh oleh negara. Hal itu dapat disaksikan dengan minimnya media edukasi untuk anak. Anak hanya mendapatkan edukasi di sekolah atau tempat bimbingan belajar (bimbel).
Konsentrasi pemerintah sering mengabaikan kepentingan anak. Ketika pemerintah asik menyiapkan diri memasuki tahun politik, ada jutaan ribu anak yang kehilangan perhatian. Pemerintah hanya fokus di bidang ekonomi, bisnis, hukum, dan sebagainya. Ketika anak diabaikan maka sama artinya masa depan bangsa diabaikan.
Baiklah, mari kita lupakan sejenak tentang hiruk pikuk ekonomi yang kerap merosot atau politik yang kadang tak beretika. Luangkan sedikit tenaga untuk memikirkan masa depan anak terlebih menyiapkan wibawa bangsa melalui kecerdasan anak. Salah satu hal yang perlu disoroti sekarang adalah persoalan citizen journalism (jurnalisme warga).
Citizen journalism merupakan aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (yang bukan wartawan). Citizen journalism mempunyai peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisis, dan menyebarkan berita serta informasi yang dimiliki.
Dalam artikel Review Jurnalisme Online tahun 2003, J. D. Lasica mengklarifikasikan media jurnalisme warga ke dalam beberapa tipe: Pertama, partisipasi pemirsa, seperti komentar dalam berita online, blog pribadi, foto atau video. Kedua, berita dan informasi situs-situs independen. Ketiga, situs berita dengan partisipasi penuh atau murni. Keempat, kolaborasi situs-situs media. Kelima, Thin Media, seperti newsletter e-mail. Keenam, situs penyiaran pribadi (video).
Namun, yang paling sering didapati sekarang adalah melalui media sosial. Media sosial yang populer sekarang adalah facebook, twitter, dan instagram Pertanyaan adalah sejauh mana berita-berita yang ada di media sosial itu dapat mengedukasi anak.
Country Director Facebook Indonesia, Sri Widowati, menyampaikan melalui situs kompas.com bahwa pengguna aktif bulanannya di Tanah Air terus meningkat. Tahun 2016 saja pengguna aktif bulanan jejaring sosial tersebut sudah mencapai angka 88 juta di Indonesia. Itu merupakan angka terakhir kuartal kedua di tahun 2016. Dengan demikian, jumlah pengguna facebook di Indonesia mengalami kenaikan dibanding angka sebelumnya sebesar 82 juta pengguna pada kuartal empat 2015. Sedangkan pada akhir 2014, jumlah pengguna aktif bulanan facebook di Indonesia masih tercatat sebanyak 77 juta.
Dari angka 88 juta pengguna aktif bulanan itu, sebanyak 94 persen mengakses facebook dari gawai. Para pengguna gawai Indonesia rata-rata mengecek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari. Itu pun kalau paket datanya ada. Kalau paket data sedang kosong. Pengguna internet itu akan berusaha sebisa mungkin dengan berbagai cara. Entah mencari wi-fi gratis atau meminjam gawai teman.
Di tingkat global, facebook memiliki jumlah pengguna aktif bulanan sebanyak 1,7 miliar. Raksasa jejaring sosial ini juga memiliki sejumlah layanan lain yang sama-sama memiliki basis pengguna yang besar, yakni layanan chatting WhatsApp (1 miliar pengguna), dan Messenger (1 miliar pengguna), serta layanan photo sharing Instagram (500 juta pengguna).
Dari data tersebut dapat kita sadari bahwa bagaimana besarnya pengaruh media sosial terhadap kepribadian anak. Di Medan sendiri, banyak sekali akun media sosial yang kontens isinya merupakan berita warga (citizen journalism). Seperti akun instagram Medan Talk, Tauko Tembung, Medandubbing, Medan Heritage, Berita Medan, Ceritamedancom, dan lain-lain.
Sangat jarang sekali dijumpai akun yang berisi entah itu tips belajar, sejarah Medan, kebudayaan, dan sebagainya. Sehingga selain menghibur, anak juga akan mendapatkan edukasi dari media sosial.
Sekarang yang sering dijumpai dan viral adalah video-video yang tidak mengedukasi, seperti video curhat ibu-ibu, video kecelakaan yang berdarah-darah, korban pelecehan seksual tanpa menyensor korbannya. Hendaknya para citizen journalism juga mendapatkan edukasi tentang hal itu. bahwa ada kode etik jurnalistik yang mesti dilaksanakan mereka juga.
Maraknya para pegiat citizen journalism setidaknya memberikan beberapa dampak buruk buat anak bahkan dampak buruk bagi karakter bangsa ke masa mendatang. Pertama, waktu belajar yang berkurang.
Harus diakui bahwa anak lebih sering membuka akun media sosial ketimbang membuka buku. Hal ini sejalan dengan tingkat minat baca masyarakat Indonesia yang tidak beranjak dari angka kurang dari 1 persen. Anak-anak yang sudah sekolah akan membuka buku ketika memasuki masa ujian. Bahkan ketika ada PR (Pekerjaan Rumah) atau tugas yang diberikan guru di sekolah kerap tidak dikerjaka. Tindakan mereka hanya cepat datang ke sekolah dan melihat tugas yang dikerjakan teman. Memang tidak semua anak demikian, tetapi kebanyakan dari mereka memang begitulah kondisinya. Anak-anak di Indonesia, Medan khususnya tidak memiliki iklim belajar yang baik ketimbang anak-anak yang ada di luar negeri. Tetapi kita tidak menutup mata bahwa masih ada pula anak-anak yang berprestasi.
Dampak kedua dari maraknya pengguna media sosial adalah anak-anak akrab dengan kekerasan. Berita yang viral baru-baru ini tentang bagaimana seorang ibu-ibu berkelahi dengan seorang tukang becak. Tidak jelas asal-muasal perkelahian itu. Tetapi para pegiat citizen journalism dengan enteng menshare video tersebut tanpa ada keterangan yang jelas. Pola pikir anak-anak hanya kepada yang suara mayoritas sajalah yang benar. Kembali ke bulan-bulan sebelumnya, viral pula video seorang guru yang memukul muridnya. Pulang ke bulan-bulan sebelumnya lagi, video tentang pembunuhan yang menancapkan cangkul ke alat vital perempuan. Berita-berita semacam itu hendaknya tidak dikonsumsi anak-anak.
Ketiga adalah konsumsi video porno. Jauh sebelum video viral orang yang mirip peserta pencarian bakat, Marion Jola, kita ketahui telah beredar video kasus asusila artis Ariel eks vokalis Peterpen dan artis Luna Maya. Pada saat pengguna internet belum semarak sekarang pun anak-anak dapat mengakses video tersebut meskipun video tersebut sudah diblokir.
Keempat, hancurnya karakter anak. Dari ketiga kemungkinan tersebut, yang keempat ini seperti rangkumannya. Bahwa segala yang terjadi dari citizen journalism ujung-ujungnya akan menghancurkan karakter anak.
Media sosial bukan tidak baik. Tinggal bagaimana pihak pemerintah beserta orang tua memberi kontrol terhadap anak. Dengan memberikan kebebasan menggunakannya itu artinya akan menghancurkan karakter anak terlebih menghancurkan karakter bangsa.
Citizen journalism pun tidak harus sembarangan mengunggah berita yang belum tentu kebenarannya. Alangkah lebih baik lagi bila konten-konten yang diberikan memiliki edukasi yang memadai ketimbang hanya memikirkan keuntungan dari membuat konten yang viral.
Kita sangat meyakini bahwa masih banyak anak Indonesia yang mampu berbuat baik melalui media sosial. Kepercayaan itu hendaknya dijawab dengan sebuah karya. Beban pemerintah dalam mengurus perekonomian masyarakat sudah sangat berat. Kita sebagai generasi muda harus membantu. Minimal dengan tidak membuat pekerjaan tambahan untuk pemerintah. ***
Penulis adalah alumnus UMSU. Pegiat literasi di FOKUS UMSU.
sumber:analisadaily.com
Opini
Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau
DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga
Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi
Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L
Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir
TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da
Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang
Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan
Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme
Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k