Jumat, 01 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika

Opini

Citizen Journalism dan Media Sosial Beretika

Oleh: Dedy Kurniawan
Minggu, 11 Feb 2018 05:44
(Foto: Internet)
Ilustrasi

MENYAKSIKAN maraknya be­rita-berita yang ada di media sosial, orang tua serta negara perlu menjadi pe­risai yang kuat untuk karakter anak. Tak jarang pula berita tersebut sama sekali tidak bermanfaat bahkan untuk anak. Jika dilihat perbandingannya an­tara berita yang mengedukasi de­ngan berita hiburan semata, maka yang lebih banyak adalah berita hiburan se­mata. Berita-berita di media sosial ter­sebut tak jarang pula yang meng­abai­kan privasi seseorang.

Memang, persoalan semacam ini sering dianggap remeh-temeh oleh ne­gara. Hal itu dapat disaksikan de­ngan minimnya media edukasi untuk anak. Anak hanya mendapatkan edu­kasi di sekolah atau tempat bimbingan be­lajar (bimbel).

Konsentrasi pemerintah sering mengabaikan kepentingan anak. Ke­ti­ka pemerintah asik menyiapkan diri me­masuki tahun politik, ada jutaan ribu anak yang kehilangan perhatian. Pemerintah hanya fokus di bidang ekonomi, bisnis, hukum, dan sebagai­nya. Ketika anak diabaikan maka sama artinya masa depan bangsa diabaikan.

Baiklah, mari kita lupakan sejenak ten­tang hiruk pikuk ekonomi yang ke­rap merosot atau politik yang ka­dang tak beretika. Luangkan sedikit te­naga untuk memikirkan masa depan anak terlebih menyiapkan wibawa bang­sa melalui kecerdasan anak. Sa­lah satu hal yang perlu disoroti se­ka­rang adalah persoalan citizen journalism (jurnalisme warga).

Citizen journalism merupakan ak­tivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (yang bukan warta­wan). Citizen journalism mempunyai peran aktif dalam proses pengumpul­an, pe­laporan, analisis, dan menyebar­kan berita serta informasi yang di­miliki.

Dalam artikel Review Jurnalisme Online tahun 2003, J. D. Lasica meng­klarifikasikan media jurnalisme warga ke dalam beberapa tipe: Pertama, partisipasi pemirsa, seperti komentar dalam berita online, blog pribadi, foto atau video. Kedua, berita dan infor­masi situs-situs independen. Ketiga, situs berita dengan partisipasi penuh atau murni. Keempat, kolabo­rasi situs-situs media. Kelima, Thin Me­dia, seperti newsletter e-mail. Ke­enam, situs penyiaran pribadi (video).

Namun, yang paling sering didapati sekarang adalah melalui media sosial. Me­dia sosial yang populer sekarang ada­lah facebook, twitter, dan insta­gram Pertanyaan adalah sejauh mana berita-berita yang ada di media sosial itu dapat mengedukasi anak.

Country Director Facebook In­do­ne­sia, Sri Widowati, me­nyampaikan me­lalui situs kompas.com bahwa peng­guna aktif bulanannya di Tanah Air terus meningkat. Tahun 2016 saja pengguna aktif bulanan jejaring sosial tersebut sudah mencapai angka 88 juta di Indonesia. Itu merupakan angka terakhir kuartal kedua di tahun 2016. Dengan demikian, jumlah peng­guna facebook di Indonesia mengalami kenaikan dibanding angka sebelum­nya sebesar 82 juta pengguna pada kuartal empat 2015. Sedangkan pada akhir 2014, jumlah peng­guna aktif bulanan facebook di Indonesia masih tercatat sebanyak 77 juta.

Dari angka 88 juta pengguna aktif bu­lanan itu, sebanyak 94 persen meng­akses facebook dari gawai. Para peng­guna gawai Indonesia rata-rata me­nge­cek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari. Itu pun kalau paket datanya ada. Kalau paket data sedang kosong. Pengguna internet itu akan berusaha sebisa mungkin dengan berbagai cara. Entah mencari wi-fi gratis atau meminjam gawai teman.

Di tingkat global, facebook memili­ki jumlah pengguna aktif bulanan sebanyak 1,7 miliar. Raksasa jejaring sosial ini juga memiliki sejumlah layanan lain yang sama-sama memi­liki basis pengguna yang besar, yakni layanan chatting WhatsApp (1 miliar pengguna), dan Messenger (1 miliar pengguna), serta layanan photo sharing Instagram (500 juta pengguna).

Dari data tersebut dapat kita sadari bah­wa bagaimana besarnya pengaruh media sosial terhadap kepribadian anak. Di Medan sendiri, banyak sekali akun media sosial yang kontens isinya me­rupakan berita warga (citizen jour­na­lism). Seperti akun instagram Me­dan Talk, Tauko Tembung, Me­dan­dubbing, Medan Heritage, Berita Me­dan, Ceritamedancom, dan lain-lain.

Sangat jarang sekali dijumpai akun yang berisi entah itu tips belajar, se­jarah Medan, kebudayaan, dan seba­gainya. Sehingga selain menghi­bur, anak juga akan mendapatkan edukasi dari media sosial.

Sekarang yang sering dijumpai dan vi­ral adalah video-video yang tidak mengedukasi, seperti video curhat ibu-ibu, video kecelakaan yang berdarah-darah, korban pelecehan seksual tanpa me­nyensor korbannya. Hendaknya para citizen journalism juga menda­pat­kan edukasi tentang hal itu. bahwa ada kode etik jurnalistik yang mesti di­laksanakan mereka juga.

Maraknya para pegiat citizen journa­lism setidaknya memberikan be­berapa dampak buruk buat anak bah­kan dampak buruk bagi karakter bang­sa ke masa mendatang. Pertama, waktu belajar yang berkurang.

Harus diakui bahwa anak lebih sering membuka akun me­dia sosial ketimbang membuka buku. Hal ini sejalan dengan tingkat minat baca masyarakat Indonesia yang tidak beranjak dari angka kurang dari 1 persen. Anak-anak yang sudah se­ko­lah akan membuka buku ketika me­ma­suki masa ujian. Bahkan ketika ada PR (Pekerjaan Rumah) atau tugas yang diberikan guru di sekolah kerap tidak dikerjaka. Tindakan me­reka ha­nya cepat datang ke sekolah dan me­lihat tugas yang dikerjakan teman. Me­­mang tidak semua anak demikian, te­tapi kebanyakan dari mereka me­mang begitulah kondisinya. Anak-anak di Indonesia, Medan khususnya tidak memiliki iklim belajar yang baik ke­timbang anak-anak yang ada di luar negeri. Tetapi kita tidak menutup mata bahwa masih ada pula anak-anak yang berprestasi.

Dampak kedua dari maraknya peng­guna media sosial adalah anak-anak akrab dengan kekerasan. Berita yang viral baru-baru ini tentang ba­gai­mana seorang ibu-ibu berkelahi de­ngan seorang tukang becak. Tidak jelas asal-muasal perkelahian itu. Te­tapi para pegiat citizen journalism de­ngan enteng menshare video ter­se­but tanpa ada keterangan yang jelas. Pola pikir anak-anak hanya kepada yang suara mayoritas sajalah yang be­nar. Kembali ke bulan-bulan se­be­lumnya, viral pula video seorang guru yang memukul muridnya. Pulang ke bulan-bulan sebelumnya lagi, video tentang pembunuhan yang menancap­kan cangkul ke alat vital perempuan. Berita-berita semacam itu hendaknya tidak dikonsumsi anak-anak.

Ketiga adalah konsumsi video porno. Jauh sebelum video viral orang yang mirip peserta pencarian ba­kat, Marion Jola, kita ketahui telah ber­edar video kasus asusila artis Ariel eks vokalis Peterpen dan artis Luna Maya. Pada saat pengguna internet be­­lum semarak sekarang pun anak-anak dapat mengakses video tersebut mes­kipun video tersebut sudah diblokir.

Keempat, hancurnya karakter anak. Dari ketiga kemungkin­an tersebut, yang keempat ini seperti rangkuman­nya. Bahwa segala yang terjadi dari citizen journalism ujung-ujungnya akan menghancurkan karakter anak.

Media sosial bukan tidak baik. Ting­gal bagaimana pihak pemerintah be­serta orang tua memberi kontrol ter­hadap anak. Dengan memberikan ke­bebasan menggunakannya itu arti­nya akan menghancurkan karakter anak terlebih menghancurkan karakter bangsa.

Citizen journalism pun tidak harus sembarangan mengunggah berita yang belum tentu kebenarannya. Alangkah lebih baik lagi bila konten-konten yang diberikan memiliki edu­kasi yang memadai ketimbang hanya memikirkan ke­untungan dari mem­buat konten yang viral.

Kita sangat meyakini bahwa masih banyak anak Indonesia yang mampu berbuat baik melalui media sosial. Kepercayaan itu hendaknya dijawab dengan sebuah karya. Beban pemerin­tah dalam mengurus perekonomian masyarakat sudah sangat berat. Kita sebagai generasi muda harus memban­tu. Minimal dengan tidak membuat pe­kerjaan tambahan untuk pemerin­tah. ***

Penulis adalah alumnus UMSU. Pegiat literasi di FOKUS UMSU.

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.