Opini
Laku Ekoteologi Menyambut Bulan Suci Ramadan
Oleh: Ribut Lupiyanto.
Kamis, 17 Mei 2018 17:07
Kini sudah paruh akhir bulan Sya'ban menurut kalender Hijriyah atau ruwah menurut kalender Jawa. Artinya sebentar lagi, umat Islam sedua akan masuk pada bulan suci Ramadan atau pasa. Teologi Islam menuntut adanya upaya persiapan dalam multi aspek guna menyambut datangnya Ramadan.
Upaya menyambut Ramadan banyak dilakukan dengan rangkaian kajian, bersih masjid dan kampung, ritus tradisi, dan lainnya. Satu aspek yang sering luput atau terpinggirkan adalah persiapan menghadirkan kesalihan lingkungan atau ekologi. Kesalihan ekologi merupakan bentuk laku ekoteologi yang penting hadir dalam setiap diri muslim.
Renungan Bersama
Kejadian bencana selalu memberikan hikmah bagi setiap insan yang berpikir. Masyarakat, baik korban, penghuni daerah rawan bencana, maupun khalayak luas penting menyikapi bencana ini secara bijak salah satunya dalam kerangka teologis. Bencana sebagian besar terjadi karena kelalaian manusia yang menimbulkan degradasi lingkungan. Konskuensi logisnya setiap terjadi bencana mesti mampu membangkitkan kesadaran dan motivasi untuk melakukan perbaikan diri menjadi manusia yang memiliki kesalehan ekologi.
Semua yang terjadi di muka bumi tidak semuanya alamiah. Sejumlah bencana dan permasalahan lingkungan justru kebanyakan disebabkan oleh tindakan manusia sendiri atau antropogenik. Al-Qardhawi (2002) menegaskan bahwa permasalahan lingkungan pada dasarnya merupakan persoalan moralitas sehingga solusi efektifnya adalah dengan revitalisasi nilai-nilai moral, keadilan, keramahan, dan sebagainya.
Peradaban modern sekarang ini menunjukkan kondisi bahaya yang justru berasal dari internal, lebih dahsyat dibandingkan dari pengaruh eksternal (Giddens, 2001). Realitas menunjukkan semakin modern kehidupan, semakin banyak kerusakan dan permasalahan pelik.
Peradaban materialisme sekarang tidak dapat lagi dipertahankan. Pandangan baru yang akan mendasari peradaban zaman selanjutnya adalah agama dan filsafat kehidupan kontemporer. Spiritualisme hadir sebagai oase bagi kekeringan moralitas dan psikologis manusia modern.
Islam telah memperingatkan akan implikasi yang dirasakan dari diabaikannya pengelolaan alam yang arif dan berkelanjutan (QS ar-Rum: 41). Penyebab utama banjir dan tanah longsor misalnya bukanlah hujan (God error), melainkan perbuatan manusia yang merusak keseimbangan lingkungan (human and social error). Allah SWT sesungguhnya menurunkan hujan dengan ukuran (QS. Al Mukminun:18). Al Imam Al Suyuthi dalam kitab tafsir al-Jalalain memberikan tafsiran "dengan ukuran" yaitu yang sesuai dengan kecukupan dan kemaslahatan.
Umat penting disadarkan dengan sentuhan spiritual bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari bukti keimanan. Setiap insan penting didorong untuk menjalani kehidupan yang sadar etika lingkungan serta pandai memahami keseimbangan dalam ayat-ayat kauniyah (alam) sebagai wujud kembali kepada kebenaran.
Kesalehan Ekologi
Ekospiritualisme mestinya terpancar melalui aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan bukti telah hadirnya kesalehan ekologi. Hikmah ekospiritualisme hingga aplikasi kesalehan ekologi penting diresapi oleh umat yang sudah dan sedang ibadah haji maupun masyarakat umum.
Banyak hal konkrit bisa dilakukan untuk mengaplikasikan kesalehan ekologi. Misalnya dengan menghijaukan daerah tangkapan air dan mata air, mengupayakan memanen air hujan, membangun fasilitas yang ramah lingkungan, dan sebagainya. Musim banjir kiranya dapat menjadi momentum untuk merenung bagi semua pihak bahwa Islam sesungguhnya sangat arif dan memperhatikan lingkungan. Islam memiliki konsep dan strategi untuk melestarikannya. Semua ini memberikan catatan bahwa sebagai bagian ajaran keagamaan, melestarikan lingkungan hendaknya menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses da'wah dan ibadah.
Pemanfaatan sumber daya alam secara ekonomis mesti tanpa mengorbankan sisi ekologis. Kaidah universal Islam salah satunya menyebutkan bahwa menghindari bahaya lebih diutamakan daripada mengambil manfaat dan nilai kerusakannya. Islam juga mengenal kaidah mendahulukan kepentingan publik (mashlahah murshalah), artinya penegelolaan sumber daya alam harus memprioritaskan aksebilitas rakyat dibandingkan proyeksi manfaat secara finansial.
Islam memandang bahwa bumi bahkan alam semesta adalah nikmat Allah Sang Pencipta, maka menjadi konskuensi logis untuk bersyukur dengan terus menjaga kelestarian dan keberlanjutannya. Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan bahwa setelah mati, seluruh amal manusia otomatis terputus, kecuali tiga hal yakni anak sholeh, ilmu yang bermanfaat, dan amal jariyah. Anak sholeh dapat berarti sadar lingkungan, ilmu bermanfaat dengan mendakwahkan ajaran Islam yang ramah lingkungan secara normatif dan aplikatif, serta amal jariyah dengan upaya konkrit agar generasi mendatang masih dapat menikmati sumberdaya alam.
Bagi pemerhati lingkungan non Muslim, semoga akan menstimulasi untuk segera mengorek bagaimana agamanya masing-masing memberi solusi dalam permasalahan ini. Ekospiritualisme dikenal dalam ajaran berbagai agama (Ling, 1994). Refleksi teologis merupakan sarana ampuh menggugah kesadaran pemeluknya untuk semakin peduli pada lingkungan yang lestari.
Komunikasi intensif antar-stakeholder perlu melibatkan para ulama atau rohaniwan yang selama ini masih terlupakan. Refleksi ekoteologi akan menghadirkan stakeholder yang saleh ekologi. Bersatunya visi dan potensi masing-masing merupakan modal besar di tengah kebuntuan mengatasi persoalan lingkungan dan mitigasi bencana. Kesalihan ekologi sebagai manifestasi laku ekoteologi menjadi modal memasuki Ramadan. Ramadan penting dihadirkan sebagai bulan welas asih termasuk bagi alam dan lingkungan. ***
Penulis, Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration)
sumber:harian.analisadaily.com
Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau
DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga
Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi
Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L
Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir
TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da
Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang
Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan
Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme
Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k