Selasa, 05 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Laku Ekoteologi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Opini

Laku Ekoteologi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Oleh: Ribut Lupiyanto.
Kamis, 17 Mei 2018 17:07
(Foto:harian.analisadaily.com )
Ilustrasi

Kini sudah paruh akhir bulan Sya'ban menurut kalender Hijriyah atau ruwah menurut kalender Jawa. Arti­nya sebentar lagi, umat Islam sedua akan masuk pada bulan suci Ramadan atau pasa. Teologi Islam menuntut adanya upa­ya persiapan dalam multi aspek guna me­nyambut datangnya Ramadan.

Upaya menyambut Ramadan banyak dilakukan dengan rangkaian kajian, ber­sih masjid dan kampung, ritus tradisi, dan lainnya. Satu aspek yang sering luput atau terpinggirkan adalah persiapan meng­hadirkan kesalihan lingku­ngan atau eko­logi. Kesalihan ekologi merupakan ben­tuk laku ekoteologi yang penting hadir dalam setiap diri muslim.

Renungan Bersama

Kejadian bencana selalu memberikan hikmah bagi setiap insan yang berpikir. Masyarakat, baik korban, penghuni daerah rawan bencana, maupun khalayak luas penting menyikapi bencana ini se­cara bijak salah satunya dalam kerangka teo­logis. Bencana sebagian besar terjadi karena kelalaian manusia yang menim­bulkan degradasi lingku­ngan. Konskuen­si logis­nya setiap terjadi bencana mesti mampu membang­kitkan kesadaran dan motivasi untuk melakukan perbaikan diri menjadi manusia yang memiliki kesaleh­an ekologi.

Semua yang terjadi di muka bumi tidak semuanya alamiah. Sejumlah ben­cana dan perma­salahan lingkungan jus­tru keba­nyakan disebabkan oleh tindakan manusia sendiri atau antropogenik. Al-Qar­dhawi (2002) menegaskan bahwa permasalahan lingkungan pada dasarnya merupakan persoa­lan moralitas sehingga solusi efek­tifnya adalah dengan revita­lisasi nilai-nilai moral, keadilan, kera­mah­an, dan sebagainya.

Peradaban modern sekarang ini me­nunjukkan kondisi bahaya yang justru ber­asal dari internal, lebih dahsyat di­bandingkan dari pengaruh eksternal (Gid­dens, 2001). Realitas menunjukkan se­ma­­kin modern kehidupan, semakin ba­nyak kerusakan dan perma­salahan pelik.

Peradaban materialisme seka­rang tidak dapat lagi dipertahankan. Panda­ngan baru yang akan men­dasari peradab­an zaman selanjut­nya adalah agama dan fil­safat kehi­dupan kontemporer. Spiritua­lis­me hadir sebagai oase bagi kekeringan mo­ralitas dan psikologis manusia mo­dern.

Islam telah memperingatkan akan implikasi yang dirasakan dari diabaikan­nya pengelolaan alam yang arif dan berkelanjutan (QS ar-Rum: 41). Penye­bab utama banjir dan tanah longsor misal­nya bukanlah hujan (God error), melain­kan perbuatan manusia yang merusak ke­seim­ba­ngan lingkungan (human and social error). Allah SWT sesungguhnya menurun­kan hujan dengan ukuran (QS. Al Muk­minun:18). Al Imam Al Suyuthi da­lam kitab tafsir al-Jalalain memberikan taf­siran "de­ngan ukuran" yaitu yang se­suai dengan kecukupan dan kemaslaha­tan.

Umat penting disadarkan dengan sen­tuhan spiritual bahwa menjaga lingku­ngan adalah bagian dari bukti keimanan. Setiap insan penting didorong untuk men­jalani kehidupan yang sadar etika ling­kungan serta pandai mema­hami keseim­ba­ngan dalam ayat-ayat kauniyah (alam) sebagai wujud kembali kepada kebenar­an.

Kesalehan Ekologi

Ekospiritualisme mestinya terpancar melalui aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan bukti telah ha­dir­nya kesalehan ekologi. Hikmah ekos­piritualisme hingga aplikasi kesale­han ekologi penting diresapi oleh umat yang sudah dan sedang ibadah haji mau­pun masyarakat umum.

Banyak hal konkrit bisa dilakukan un­tuk mengaplikasikan kesalehan eko­logi. Misalnya dengan menghijaukan dae­rah tang­kapan air dan mata air, meng­upa­­yakan memanen air hujan, mem­ba­ngun fasilitas yang ramah lingkungan, dan sebagainya. Musim banjir kiranya da­pat menjadi momentum untuk mere­nung bagi semua pihak bahwa Islam sesungguhnya sangat arif dan mem­per­hatikan lingkungan. Islam memiliki kon­sep dan strategi untuk meles­ta­rikannya. Se­mua ini memberikan catatan bahwa se­ba­gai bagian ajaran keagamaan, me­les­­tarikan lingkungan hendaknya menja­di bagian tak terpisahkan dalam proses da'wah dan ibadah.

Pemanfaatan sumber daya alam secara ekonomis mesti tanpa mengorbankan sisi eko­logis. Kaidah universal Islam salah satunya menyebutkan bahwa menghin­dari bahaya lebih diutamakan daripada mengambil manfaat dan nilai kerusakan­nya. Islam juga mengenal kaidah men­da­hulukan kepentingan publik (mashla­hah murshalah), artinya penegelolaan sumber daya alam harus memprioritas­kan aksebilitas rakyat dibandingkan proyeksi manfaat secara finansial.

Islam memandang bahwa bumi  bah­kan alam semesta adalah nikmat Allah Sang Pencipta, maka menjadi konskuensi logis untuk bersyukur dengan terus men­jaga kelestarian dan keberlanjutan­nya. Nabi Muhammad SAW pernah men­je­las­kan bahwa setelah mati, seluruh amal ma­nusia otomatis terputus, kecuali tiga hal yakni anak sholeh, ilmu yang ber­­­manfaat, dan amal jariyah. Anak sholeh dapat berarti sadar lingkungan, ilmu ber­manfaat dengan mendakwahkan ajaran Islam yang ramah lingkungan secara nor­matif dan aplikatif, serta amal jariyah de­ngan upaya konkrit agar generasi men­datang masih dapat  menik­mati sum­ber­daya alam.

Bagi pemerhati lingkungan non Mus­lim, semoga akan menstimu­lasi untuk se­ge­ra mengorek bagaimana agamanya ma­sing-masing memberi solusi dalam per­ma­salahan ini. Ekospiritua­lisme dikenal dalam ajaran berbagai agama (Ling, 1994). Re­fleksi teologis merupa­kan sarana ampuh meng­gugah kesa­daran pemeluknya untuk se­makin peduli pada ling­kungan yang lestari.

Komunikasi intensif antar-stakeholder per­lu melibatkan para ulama atau rohani­wan yang selama ini masih terlupakan. R­efleksi ekoteologi akan menghadirkan stakeholder yang saleh ekologi. Bersatu­nya visi dan potensi masing-masing me­ru­pakan modal besar di tengah kebuntuan men­gatasi persoalan lingkungan dan mi­tigasi bencana. Kesalihan ekologi sebagai ma­nifestasi laku ekoteologi menjadi mo­dal mema­suki Ramadan. Ramadan pen­ting dihadirkan sebagai bulan welas asih ter­masuk bagi alam dan lingkungan. ***

Penulis, Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration)

sumber:harian.analisadaily.com


Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.