Opini
Memaknai Ulang Mudik
Oleh: Riduan Situmorang
Minggu, 07 Jan 2018 07:26
Kita kembali sedang merayakan peristiwa paling erotis di negeri ini: mudik. Apa itu mudik? Mudik sebenarnya hanyalah sebuah peristiwa pulang kampung. Tetapi, bukan pulang kampung biasa. Ada banyak motif, hasrat, bahkan belakangan ditarik dan dibuat semacam ideologi baru. Demi ideologi inilah kita rela berkeringat-keringat, bahkan berdarah-darah mencari modal mudik. Mudik digubah menjadi semacam keharusan. Tak boleh tidak, kecuali ada hal yang sangat mendesak.
Peristiwa inilah-apalagi setelah dipikir-pikir-yang membuat saya bisa pusing setengah mati. Logikanya hampir tak masuk akal. Seseorang semasa mudanya berjuang keras meninggalkan kampung halamannya. Bentangan sawah, ladang, pekik burung, hawa sejuk, dan sejuta pesona lainnya nyata-nyata bahkan tak sanggup menghalanginya. Semua itu malah ibarat sebuah "badai" sehingga cepat-cepat dia harus bergegas dan menyingkir.
Mengapa bergegas dan harus pula menyingkir? Apa tak ada gunung tempat untuk berlindung dan menangkis badai tadi? Ternyata, ini bukan masalah badai semata. Ini masalah karena di seberang sana ada godaan yang sangat menyilaukan. Supermarket, mal, bioskop, dan segudang hedonisme kota yang lebih memikat. Maka, seseorang membiarkan sawahnya digarap orang lain atau bahkan kosong, membiarkan ladangnya menganggur, lalu pergi menggerayangi kota dengan sejuta mimpi.
Namun, mimpi tetaplah mimpi. Kini, kota ternyata kuyup dengan berbagai kesemrawutan, debu, kebisingan, perampokan. Kota adalah tempat di mana tak ada lagi rasa kekeluargaan. Kota menjauhkan anak dari ibunya, manusia dengan rasa persaudaraannya. Silau kota hanya rayuan, bukan jaminan. Sebab pada praktiknya, kita harus pandai bersilat lidah, berdarah-darah, bertipu muslihat demi bisa bertahan hidup di kota.
Tak Masuk Akal
Saya yakin, beberapa dari mereka menyesal karena tertipu. Karena itu, seseorang mau saja sesegera mungkin pulang. Tetapi, pulang tak bisa sembarang pulang karena harga diri harus dijaga. Malu kalau nanti dicap sebagai orang gagal. Maka, dipilihlah waktu yang tepat untuk pulang. Mungkin setelah lama atau menunggu hari-hari besar seperti Natal, Lebaran, dan peristiwa besar lainnya. Inilah yang saya sebut tak masuk akal tadi: ketika seseorang berusaha sekuat tenaga sekadar mudik ke kampung yang semula begitu bersemangat untuk meninggalkannya.
Demi mudik itu, seseorang nyaris tak peduli pada statistik yang mengatakan bahwa dalam perjalanan, mereka harus berdesak-desakan, ongkos tiba-tiba naik, macet cukup membuat stres, bahkan ada ribuan orang yang celaka. Sederhananya, yang kita telan dari fenomena itu adalah bahwa mereka sudah sangat rela melalui itu, termasuk rela mati. Urusan nyawa menjadi urusan probabilitas. Dengan sok religius mereka berkata, nyawa hanya Tuhan yang tahu. Tentu saja ini pantas ditanyakan: sepenting apa mudik itu sehingga seseorang rela mati di jalanan?
Mudah-mudahan ini bukan unjuk gigi demi mengatakan: aku telah berhasil karena itu, Anda juga harus ikut aku meninggalkan desa ini. Sebab kalau itu yang terjadi, desa akan menjadi tempat mati dan kota menjadi keramaian yang mematikan. Sekali lagi ini perlu ditanyakan: untuk apa mudik itu sebenarnya? Apakah mudik dilakukan setelah bosan dengan sejuta tawaran hedonisme kota, lalu, ingin lagi bermesraan dengan kampungnya? Kalau mereka rindu, mengapa mereka tak tinggal di kampung saja.
Lagipula, kebanyakan dari mereka bukannya sukses-sukses kali! Bahkan, tak sedikit yang menggadai, meminjam, bahkan mengemis hanya untuk mudik. Bukankah ini menggelikan? Pergi ke kota menggadaikan sawah, lalu pulang lagi dengan menggadaikan, meminjam, bahkan mengemis dari kampung? Saya bercuriga, tepatnya miris, melihat kebanyakan dari mereka pergi meninggalkan desa hanyalah modal semangat. Tidak ada keahlian, apalagi pendidikan memadai.
Karena tanpa pendidikan dan keahlian ini, pikiran kotor saya mulai ribut: jangan-jangan mereka-mereka inilah yang kemudian jadi perampok dan pembunuh di kota. Oh, kalau pikiran kotor saya itu benar, segeralah khawatir bahwa mungkin saja virus ini akan menyebar dan akan disebarkan oleh mereka, di kampung mereka sendiri pula. Gejalanya sudah mulai tampak! Desa, misalnya, mulai patuh pada ukuran untung rugi, sudah tak lagi guyub seperti selama ini. Ini masuk akal.
Sebab, tanpa pendidikan dan keahlian, mereka ini hanyalah sekadar kurir, tak jarang malah terkatung-katung di kota. Bisa jadi mereka menjadi perampok dan pencopet, bahkan menjadi penjaja seks komersial. Saya sebut saja secara vulgar karena memang begitulah faktanya. Ini memang tak masuk akal. Tak masuk akalnya begini! Coba pikirkan, apa lebih mulia sebagai penjaja es keliling, kuli bangunan, tukang kebun orang kaya, ketimbangmenjadi tuan atas tanahnya di kampung?
Bukankah itu menggelikan jika seseorang merindukan kota supaya predikatnya yang mulanya tuan atas tanahnya menjadi buruh atas tanah orang lain? Oke, itu hanya sekelumit. Supaya adil, bagaimana dengan mereka yang berpendidikan dan merasa punya keahlian? Ya, tentu saja mereka ini bernasib lebih baik. Mestinya demikian. Namun, ada juga hal yang menurut saya tak masuk akal. Ini gejala feodalisme. Bayangkan, seseorang bercucur keringat menjadi seorang terdidik dan terlatih hanya demi meninggalkan desa untuk kelak menaklukkan kota .
Seseorang menempuh pendidikan semata-mata agar tidak lagi menjadi petani dan pekebun. Padahal, pendidikan itu mestinya memanusiakan manusia yang kontekstual dan integratif dengan tempat tinggal dan kelahiran. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya: dengan pendidikan, kita menjadi manusia penjajah negeri lain. Baiklah, baiklah, baiklah jangan shoudzon dulu! Saya tahu-meski ini hanya pembenaran-alasan menjajah kota dan tak menjadi petani adalah karena di negeri ini, petani dan pekebun kastanya begitu rendah.
Mudik yang Sesungguhnya
Hanya saja, adalah tak bisa diterima mengapa demi pendidikan itu, kita harus menjual sawah dan ladang. Menjualnya bahkan tak jarang kepada para pengusaha atau tengkulak yang congkak. Sebab, sawah dan ladang ini kelak akan menjadi areal proyek dan industri. Itulah sebabnya ketika kita pulang, kita tak jarang mengeluh dan melenguh karena desa sudah berubah. Yang dulunya asri, alami, indah, kini mulai disusupi virus-virus kota. Kita jengkel. Betapa tidak?
Kita pulang untuk mencari kesejukan, tetapi kini kesejukan itu sudah menjadi kenangan. Maka dengan geram, sebagai yang terdidik, kita lalu mengkritik dengan keras: kembalikan fungsi sawah. Setelah dikembalikan, oh, ternyata tanah yang dulunya gembur menjadi gersang. Tak tumbuh apa-apa, kecuali dipaksa dengan pupuk. Walhasil, dana produksi tani lebih besar daripada hasil yang diperoleh. Dampaknya lebih miris pula, orang tak mau lagi bertani dan mungkin kelak tak akan mau lagi tinggal di desa.
Mereka akan ramai-ramai menjual tanahnya ke pemegang proyek. Tebaklah, setelah tanah dijual, ketika berpuluh-puluh tahun lagi, mereka yang menjual tanahnya akan terheran-heran. Desa yang dulunya asri dengan sawah berubah menjadi lahan industri atau perkebunan. Itu tanah kita dulunya. Lalu, karena merasa desa sudah menjadi kota, kita banting stir dan kembali lagi ke desa itu.
Namun, kedudukannya kini sudah beda. Kita bukan lagi sebagai "pribumi" dan tuan. Kita bertukar peran: menjadi buruh, bahkan budak di bekas tanah kita. Beruntunglah yang berpendidikan karena kita akan diberi posisi lebih elitis. Tetapi, ini sama sekali tak elok karena dulunya relasi kita dengan tetangga adalah relasi keluarga, kini menjadi relasi bawahan dan atasan. Masih syukur kalau kita yang berpendidikan datang ke desa bukan untuk menjajah. Bagaimana kalau mental kota berhasil membuat kita menjadi orang yang bermental feodal, kolonial, kapital?
Pada saat ini terjadi, desa waktu mudik akan menjadi tempat percekcokan, desa akan menjadi tempat bisnis, desa menjadi lahan garapan. Kini, musim mudik sudah tiba. Saya tak tahu di mana posisi Anda, sebagai terdidik ataukah sebagai yang bermodal semangat? Saya hanya ingin meneguhkan bahwa pada hakikatnya mudik itu adalah ritual di mana kita kembali ke jati diri, bukan kembali ke kampung. Mudik itu bukan sinonim dengan urbanisasi.
Kalau hanya sekadar rindu, pamer, unjuk gigi, bahkan mencari tender proyek, ini bukanlah mudik. Mudik harus spiritual-sosial: mengeratkan silaturahmi, membangun sifat guyub, bukan mengacaukan desa, apalagi menjualnya. Maka, kalau kebetulan kita tak punya modal, jangan dipaksakan dan jangan berkecil hati. Jangan pula merasa rendah jika mudik dengan bus. Mudik bukan pamer-pameran. Pamer-pameran akan melahirkan kebencian.
Padahal, mudik adalah mengantar kerinduan menjadi kedamaian. Lagipula, mudik sama sekali bukan urusan fisik. Mudik itu di dalam diri, yaitu kembali kekedirian kita yang paling hakiki. Mengasyiki kesejukan jiwa. Itulah mudik yang sesungguhnya. ***
Penulis adalah Pengajar di Bimbel Prosus Inten-Medan, Pegiat Literasi dan Kebudayaan di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Penulis Buku Konspirasi Suci
sumber:analisadaily.com
Opini
Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau
DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga
Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi
Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L
Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir
TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da
Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang
Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan
Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme
Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k