Jumat, 01 Mei 2026

Opini

Memaknai Ulang Mudik

Oleh: Riduan Situmorang
Minggu, 07 Jan 2018 07:26
internet
Ilustrasi

Kita kembali sedang merayakan pe­ris­tiwa paling erotis di negeri ini: mudik. Apa itu mudik? Mudik sebenarnya hanya­lah sebuah peristiwa pulang kampung. Tetapi, bukan pulang kampung biasa. Ada banyak motif, hasrat, bahkan belakangan ditarik dan dibuat se­macam ideologi baru. Demi ideologi ini­lah kita rela berkeringat-keringat, bah­kan berda­rah-darah mencari modal mu­dik. Mudik digubah menjadi semacam ke­ha­rusan. Tak boleh tidak, kecuali ada hal yang sangat mendesak.

Peristiwa inilah-apalagi setelah di­pi­kir-pikir-yang membuat saya bisa pusing setengah mati. Logikanya hampir tak masuk akal. Seseorang semasa muda­nya berjuang keras meninggalkan kam­pung halamannya. Bentangan sawah, ladang, pekik burung, hawa sejuk, dan sejuta pesona lainnya nyata-nyata bahkan tak sanggup menghalanginya. Semua itu ma­lah ibarat sebuah "badai" sehingga ce­pat-cepat dia harus bergegas dan me­nyingkir.

Mengapa bergegas dan harus pula me­­nying­kir? Apa tak ada gunung tempat un­­t­uk berlindung dan menangkis badai tadi? Ternyata, ini bukan masalah badai se­mata. Ini masalah karena di seberang sana ada godaan yang sangat menyilau­kan. Supermarket, mal, bioskop, dan segu­dang hedonisme kota yang lebih memikat. Maka, seseorang membiarkan sawahnya di­garap orang lain atau bahkan kosong, mem­biar­kan ladangnya menganggur, lalu pergi menggerayangi kota dengan sejuta mimpi.

Namun, mimpi tetaplah mimpi. Kini, kota ternyata kuyup dengan berbagai ke­semrawutan, debu, kebisingan, pe­ram­po­kan. Kota adalah tempat di mana tak ada lagi rasa keke­luargaan. Kota men­jauhkan anak dari ibunya, manusia de­ngan rasa persaudaraannya. Silau kota ha­nya rayuan, bukan jaminan. Sebab pada praktiknya, kita harus pandai ber­silat lidah, berdarah-darah, bertipu mus­lihat demi bisa bertahan hidup di kota.

Tak Masuk Akal

Saya yakin, beberapa dari mereka menyesal karena tertipu. Karena itu, seseorang mau saja sesegera mungkin pulang. Tetapi, pulang tak bisa semba­rang pulang karena harga diri harus dija­ga. Malu kalau nanti dicap sebagai orang gagal. Maka, dipilihlah waktu yang tepat unt­uk pulang. Mungkin setelah lama atau me­­nunggu hari-hari besar seperti Natal, Le­­baran, dan peristiwa besar lainnya. Ini­­lah yang saya sebut tak masuk akal tadi: ketika seseorang berusaha sekuat te­­na­ga sekadar mudik ke kampung yang semula begitu bersemangat untuk me­ning­­galkannya.

Demi mudik itu, seseorang nyaris tak pe­duli pada statistik yang mengatakan bah­wa dalam perjalanan, mereka harus ber­desak-desakan, ongkos tiba-tiba naik, ma­cet cukup mem­buat stres, bahkan ada ri­buan orang yang celaka. Sederha­nanya, yang kita telan dari fenomena itu adalah bahwa mereka sudah sangat rela melalui itu, termasuk rela mati. Urusan nyawa men­jadi urusan probabilitas. Dengan sok reli­gius mereka berkata, nyawa hanya Tu­han yang tahu. Tentu saja ini pantas ditanyakan: sepenting apa mudik itu sehingga seseorang rela mati di jalanan?

Mudah-mudahan ini bukan unjuk gigi demi mengatakan: aku telah berhasil karena itu, Anda juga harus ikut aku me­ninggalkan desa ini. Sebab kalau itu yang terjadi, desa akan menjadi tempat mati dan kota menjadi keramaian yang me­matikan. Sekali lagi ini perlu dita­nya­kan: untuk apa mudik itu sebenarnya? Apa­kah mudik dilakukan setelah bosan de­ngan sejuta tawaran hedonisme kota, lalu, ingin lagi bermesraan dengan kam­pungnya? Kalau mereka rindu, mengapa mereka tak tinggal di kampung saja.

Lagipula, kebanyakan dari mereka bu­kannya sukses-sukses kali! Bahkan, tak se­dikit yang menggadai, meminjam, bah­kan mengemis hanya untuk mudik. Bu­kankah ini meng­gelikan? Pergi ke kota meng­gadaikan sawah, lalu pulang lagi de­ngan menggadaikan, meminjam, bah­kan mengemis dari kampung? Saya ber­cu­riga, tepatnya miris, melihat ke­ba­nyakan dari mereka pergi mening­gal­kan desa ha­nyalah modal semangat. Tidak ada ke­ahlian, apalagi pendidikan memadai.

Karena tanpa pendidikan dan keahlian ini, pikiran kotor saya mulai ribut: jangan-ja­ngan mereka-mereka inilah yang kemudian jadi perampok dan pembunuh di kota. Oh, kalau pikiran kotor saya itu be­nar, segeralah khawatir bahwa mung­kin saja virus ini akan menyebar dan akan disebarkan oleh mereka, di kam­pung mereka sendiri pula. Gejalanya su­dah mulai tampak! Desa, misalnya, mulai patuh pada ukuran untung rugi, sudah tak lagi guyub seperti selama ini. Ini masuk akal.

Sebab, tanpa pendidikan dan keahlian, mereka ini ha­nyalah sekadar kurir, tak jarang malah terkatung-katung di kota. Bisa jadi mereka menjadi perampok dan pen­copet, bahkan menjadi penjaja seks ko­mersial. Saya sebut saja secara vulgar karena memang begitulah faktanya. Ini me­mang tak masuk akal. Tak masuk akal­nya begini! Coba pikirkan, apa lebih mu­lia sebagai penjaja es keliling, kuli ba­ngunan, tukang kebun orang kaya, ke­timbangmenjadi tuan atas tanahnya di kampung?

Bukankah itu menggelikan jika se­seorang merindukan kota supaya pre­di­katnya yang mulanya tuan atas tanahnya men­jadi buruh atas tanah orang lain? Oke, itu hanya seke­lumit. Supaya adil, bagaimana dengan mereka yang berpen­didikan dan merasa punya keahlian? Ya, tentu saja mereka ini bernasib lebih baik. Mestinya demikian. Namun, ada juga hal yang menurut saya tak masuk akal. Ini gejala feo­dalisme. Bayangkan, seseorang bercucur keringat men­jadi seorang terdidik dan terlatih hanya demi meninggalkan desa untuk kelak menak­luk­kan kota .

Seseorang menempuh pendidikan se­mata-mata agar tidak lagi menjadi petani dan pekebun. Padahal, pendidikan itu mes­tinya memanusiakan manusia yang kon­tekstual dan integratif dengan tempat ting­gal dan kelahiran. Ternyata yang ter­jadi justru sebaliknya: dengan pen­di­dikan, kita menjadi manusia penjajah ne­geri lain. Baiklah, baiklah, baiklah jangan shoudzon dulu! Saya tahu-meski ini hanya pembenaran-alasan menjajah kota dan tak menjadi petani adalah karena di negeri ini, petani dan pekebun kastanya begitu rendah.

Mudik yang Sesungguhnya

Hanya saja, adalah tak bisa diterima me­ngapa demi pen­di­dikan itu, kita harus menjual sawah dan ladang. Men­jualnya bahkan tak jarang kepada para pengusaha atau tengkulak yang congkak. Sebab, sawah dan ladang ini kelak akan menjadi areal proyek dan industri. Itulah sebabnya ke­tika kita pulang, kita tak jarang me­ngeluh dan melenguh karena desa sudah be­rubah. Yang dulunya asri, alami, indah, kini mulai disusupi virus-virus kota. Kita jengkel. Betapa tidak?

Kita pulang untuk mencari kesejukan, te­tapi kini kesejukan itu sudah menjadi kenangan. Maka dengan geram, sebagai yang terdidik, kita lalu mengkritik dengan keras: kembalikan fungsi sawah. Setelah dikembalikan, oh, ternyata tanah yang dulunya gembur menjadi gersang. Tak tum­buh apa-apa, kecuali dipaksa dengan pupuk. Walhasil, dana produksi tani lebih besar daripada hasil yang diperoleh. Dampaknya lebih miris pula, orang tak mau lagi bertani dan mungkin kelak tak akan mau lagi tinggal di desa.

Mereka akan ramai-ramai menjual tanah­nya ke pemegang proyek. Tebaklah, setelah tanah dijual, ketika berpuluh-puluh tahun lagi, mereka yang menjual tanahnya akan ter­­heran-heran. Desa yang dulunya asri de­ngan sawah berubah menjadi lahan industri atau perkebunan. Itu tanah kita dulunya. Lalu, karena merasa desa sudah menjadi kota, kita banting stir dan kembali lagi ke desa itu.

Namun, kedudukannya kini sudah beda. Kita bukan lagi sebagai "pribumi" dan tuan. Kita bertukar peran: menjadi buruh, bahkan budak di bekas tanah kita. Beruntunglah yang berpendidikan karena kita akan diberi posisi lebih elitis. Tetapi, ini sama sekali tak elok karena dulunya relasi kita dengan tetangga adalah relasi keluarga, kini menjadi relasi bawahan dan atasan. Masih syukur kalau kita yang berpendidikan datang ke desa bukan untuk menjajah. Bagai­mana kalau mental kota berhasil membuat kita menjadi orang yang bermental feodal, kolonial, kapital?

Pada saat ini terjadi, desa waktu mudik akan menjadi tempat percekcokan, desa akan menjadi tempat bisnis, desa menjadi lahan garapan. Kini, musim mudik sudah tiba. Saya tak tahu di mana posisi Anda, sebagai terdidik ataukah sebagai yang bermodal sema­ngat? Saya hanya ingin mene­guhkan bahwa pada hakikatnya mudik itu adalah ritual di mana kita kembali ke jati diri, bukan kembali ke kampung. Mudik itu bukan sinonim de­ngan urbanisasi.

Kalau hanya sekadar rindu, pamer, unjuk gigi, bahkan mencari tender proyek, ini bu­kanlah mudik. Mudik harus spiritual-sosial: me­ngeratkan silaturahmi, membangun sifat gu­yub, bukan mengacaukan desa, apalagi menju­alnya. Maka, kalau kebetulan kita tak punya modal, jangan dipaksakan dan jangan berkecil hati. Jangan pula merasa rendah jika mudik dengan bus. Mudik bukan pamer-pa­meran. Pa­mer-pameran akan melahirkan kebencian.

Padahal, mudik adalah mengantar kerindu­an menjadi kedamaian. Lagipula, mudik sama sekali bukan urusan fisik. Mudik itu di dalam diri, yaitu kembali kekedirian kita yang paling hakiki. Mengasyiki kesejukan jiwa. Itulah mudik yang sesungguhnya. ***

Penulis adalah Pengajar di Bimbel Prosus Inten-Medan, Pegiat Literasi dan Kebudayaan di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Penulis Buku Konspirasi Suci

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.