Opini
Pilgub DKI dan Donald Trump
Oleh: Firman Pahala Siringoringo, S.Pd
Minggu, 29 Jan 2017 08:53
Calon gubernur terdiri dari 3 pasangan. Pasangan pertama Agus Harimurti Yudhoyono dan Slyvi, pasangan kedua yaitu calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama atau biasa kita kenal dengan sebutan Ahok dan Djarot Saiful Hidayat, dan pasangan ketiga yaitu Anies Baswedan beserta dengan Sandiaga Uno. Ketiga calon gubernur tersebut hadir dalam acara debat pilgub DKI Jakarta, dan itu menjawab keraguan dari beberapa masyarakat beserta netizen bahwasannya ada salah satu dari ketiga calon tersebut yang tidak bakalan hadir dan itu ditujukan kepada Agus-Sylvi yang merupakan calon gubernur no urut 1.
Debat dalam 5 sesi tersebut memang menjadi penilaian bagi masyarakat DKI Jakarta untuk memilih siapa yang pantas untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur ibukota negara Republik Indonesia tersebut. Saya mengambil beberapa gambaran dari debat yang berlangsung sejak pukul 20.00 WIB atau 8 malam sampai pukul 22.30 atau pukul setengah 11 malam ini. Saya akan memulainya dari pasangan no urut 1 Agus-Sylvi, pasangan ini membuat program yang memang ingin memanjakan seluruh masyarakat DKI Jakarta sebenarnya, tetapi jika dipergunakan itu malah jauh dari kata kurang atau kalau bahasa anak sekarang bilang tidak tergigit, misalnya seperti membuat program pemberian Rp.1 Milyar per RW (Rumah Warga) beliau mengatakan bahwa ada lebih dari 2000 RW yang ada di DKI Jakarta jadi jika dikalikan Rp.1 milyar per RW, maka pasangan nomor urut 1 ini harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 2 Triliun, kemudian memberikan bantuan langsung sementara (BLS) kepada keluarga yang tidak mampu yaitu sebesar Rp. 5 juta/keluarganya, jadi terdapat 200 ribu lebih keluarga yang tidak mampu jadi jika dihitung ada sekitar Rp. 10 Triliun yang akan mereka keluarkan untuk keluarga yang tidak mampu tersebut, kemudian menindak tegas segala macam kejahatan dan tempat-tempat prostitusi di Jakarta dan yang terakhir yaitu membuat DKI Jakarta menjadi kota apung dengan maksud untuk mengurangi banjir.
Kemudian calon nomor urut 2 Ahok-Djarot membuat program yaitu menjadikan Jakarta sebagai Singapura, menjalankan apa yang sudah dijalankan sebelumnya, mensejahterahkan perekonomian Jakarta dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Terakhir yaitu calon nomor urut 3 Anies - Sandi yang membuat program yaitu memperhatikan nasib guru dan juga pekerja lainnya, mengembangkan perilaku yang berkebudayaan dan berkarakter dengan berbagai pendidikan, pendekatan dan juga teladan, dan yang terakhir juga memberantas segala macam kejahatan dan tempat-tempat prostitusi guna memberikan rasa keamanan kepada masyarakat yang tinggal di Jakarta ini.
Saling menjatuhkan
Itulah yang saya perhatikan dalam debat DKI yang sudah berlangsung beberapa hari yang lalu yaitu masing-masing calon gubernur saling sikut dan menjatuhkan antara yang satu dengan yang lainnya, seperti yang dilakukan oleh Anies-Sandi kepada Agus-Sylvi yang mengatakan bahwa jawaban tidak nyambung dengan pertanyaan yang sudah diberikan, kemudian Ahok-Djarot yang menyerang Agus-Sylvi juga dengan mengatakan bahwa tidak mungkin Jakarta ini menjadi kota apung dengan kondisi yang ada, bagaimana mungkin sungai yang lebarnya 30 meter akan menjadi 3 meter?. Kemudian Anies-Sandi yang diserang Ahok-Djarot dengan mengatakan bahwa Anies seperti layaknya dosen yang hanya memberikan teori saja tanpa adanya sebuah praktek di dalamnya, dan Anies - Sandi pun membalas dengan mengatakan bahwa bukan hanya otak, perut dan dompet saja yang perlu diisi tetapi mental dan karakter yang baik pun juga harus diisi guna menjadikan masyarakat yang maju dalam hal intelektual dan juga karakternya.
Memang keseruan yang luar biasa tersaji di dalam debat tersebut, penonton yang ada di tempat dari debat bahkan yang ada di rumah mungkin ada yang memberikan tepuk tangan, kritikan serta pujian kepada masing-masing kandidat, memang berbeda pendapat sah-sah saja asalkan tidak menganggu ketertiban apalagi menjatuhkan harga diri orang lain, seperti itu jugalah yang dilakukan oleh ketiga kandidat gubernur DKI Jakarta, walaupun mereka saling sikut di debat, tetapi ketika selesai debat mereka kompak, saling menyapa bahkan saling merangkul antara yang satu dengan yang lainnya. Itulah mengapa politik itu sebenarnya indah jika dilakukan dengan benar juga.
Donald Trump
Mungkin kita bertanya apa hubungannya pilgub DKI dengan Donald Trump?. Donald Trump ketika itu bersaing dengan Hillary Clinton untuk memperebutkan kursi AS 1. Mereka yang merupakan utusan dari partai politik yang berbeda ini membuat programnya masing-masing, dan debat yang dilaksanakan pun tidaklah seperti yang terjadi di debat pada pilgub DKI Jakarta, mereka hanya menjawab pertanyaan dari pembawa acara dan mereka juga saling menjatuhkan dengan membuka segala kekuarangan yang ada di dalam diri mereka masing-masing, bahkan ada yang mengungkit masa lalu dan itu yang dilakukan oleh Donald Trump kepada Hillary Clinton.
Namun ketika pemilu akan berlangsung, banyak yang menfavoritkan bahwa anak dari Bill Clinton itu akan menjadi pemenang dalam perebutan kursi AS 1, namun setelah pemilu dilaksanakan dan dilakukannya pemungutan suara melalui online, suatu keajaiban terjadi tanpa diduga, Hillary yang menjadi favorit kuat menjadi presiden Amerika Serikat malah takluk oleh Donald Trump, dan itu juga membuat Al-Qaeda serta ISIS, dan para pendukung Donald Trump bersukacita akan kemenangan Trump, tetapi walaupun kalah, Hillary tidak marah, malahan beliau datang menjumpai Donald Trump untuk memberikan selamat atas kemenangannya, bahkan beliau hadir pada pelantikan Donald Trump yang dilaksanakan pada 20 Januari 2017 di sebuah tempat di Washington DC.
Terus hubungannya apa dengan pilgub DKI? Ya, pilgub (Pemilihan Gubernur) akan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari mendatang, banyak yang menfavoritkan bahwa Ahok-Djarot akan kembali menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, tetapi itu hanya sebuah pendapat dan kita harus mengikutinya sampai akhir siapa yang akan menjadi pemenang dalam Pilgub DKI Jakarta tersebut, karena bisa saja prediksi meleset karena politik ini kadang tidak menentu dan sewaktu-waktu apa yang dialami Donald Trump akan terjadi pada pilgub tahun ini, yang kita prediksi Ahok-Djarot akan menang bisa saja itu salah karena Agus –Sylvi atau bahkan Anies-Sandi bisa menjadi pemenang dalam kompetisi ini. Mari kita ikuti debat dan pilgub ini sampai tuntas untuk mengetahui siapa pemenang yang sebenarnya apakah Agus-Sylvi, Ahok-Djarot, atau Anies Sandi. Ingat, politik itu seperti bola yang bentuknya bundar, apapun bisa terjadi di dalam sebuah pertarungan atau kompetisi, dan siapa saja bisa jadi pemenangnya. Itu saja. ***
Penulis adalah Sekretaris PP/Remaja GKPI Partahanan RMT-II Wilayah Medan 1, Medan
sumber:analisadaily.com
Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya
JAKARTA �" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5 dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun
Masuk Ekosistem XLSMART, Defend IT360 Perkuat Keamanan Siber Terintegrasi
JAKARTA - Perusahaan keamanan siber Defend IT360 meluncurkan logo terbaru tepat di ulang tahun yang kedua. Peluncuran logo ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas dan posisi
Kenapa Biaya Kuliah Jalur Mandiri Lebih Mahal?
JAKARTA â€" Kenapa biaya kuliah jalur mandiri lebih mahal? Biaya pendidikan melalui jalur mandiri memang berbeda dibandingkan jalur prestasi maupun jalur tes. Karena itu, calon mahasisw
Kenapa Zinc dan Vitamin C dalam Suplemen Anak Tidak Dibuat 100 Persen? Begini Penjelasan Dokter
BANYAK orangtua sering kali merasa bingung saat membaca tabel komposisi pada label vitamin anak. Utamanya ketika melihat angka persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG) seperti kandungan zi
Tak Perlu Dibuang, Ikan Sapu-Sapu Bisa Diolah Jadi Pupuk
JAKARTA â€" Ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap hama ternyata memiliki manfaat besar. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, mengungkapkan bahw