Opini
TDL, BBM, STNK. Selanjutnya Apa?
Oleh: Ali Fikri Hasibuan
Minggu, 15 Jan 2017 05:13
AWAL tahun 2017 masyarakat dikejutkan "kado" tahun baru yang membuat sebagian orang di negeri ini seperti kebakaran jenggot. Dimulai pengumuman naiknya tarif dasar listrik (TDL) untuk golongan 900 VA. Secara bertahap tarif untuk pelanggan listrik tersebut naik dari Rp605 menjadi Rp791/KwH per 1 Januari 2017, Rp1.034/KwH mulai 1 Maret 2017, dan Rp1.352/KwH per 1 Mei 2017. Lalu, mulai 1 Juli 2017, pelanggan rumah tangga pengguna listrik 900 VA dikenai penyesuaian tarif otomatis setiap bulan seperti 12 golongan tarif nonsubsidi lainnya.
Belum hilang rasa terkejut akibat tarif listrik, per 5 Januari lalu, Pertamina ikut-ikutan mengumumkan kenaikan harga BBM non subsidi yang ada di pasaran. Rentang kenaikan sekitar Rp300 per liter dianggap sangat memberatkan masyarakat. Di sisi lain, pemerintah tidak tegas dalam menentukan jenis BBM di pasar.
Sebagai contoh, baru-baru ini mengesahkan penggunaan regulasi standar emisi euro2. Tapi di pasar, Pertamina masih menjual premium ber RON 88 yang sangat jauh di bawah ketentuan euro2. Kemudian dari data migrasi pengguna premiun ke pertamax hampir menyentuh angka 50 persen (tidak termasuk migrasi dari premium ke petralite). Kenapa tidak dihapus saja premium dan mengalihkan subsidi ke jenis pertalite atau bahkan pertamax.
Puncaknya, belum genap seminggu kita di tahun baru, pemerintah melalui PP nomor 60 tahun 2016 melakukan pemberlakuan kenaikan tarif sebagai bagian Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku di Kepolisian. Ada beberapa hal yang menjadikan kenaikan tarif tersebut menjadi headline nasional. Pertama karena persentase kenaikan tarifnya mencapai maksimal 300 persen. Kedua karena tidak massifnya publikasi mengenai kenaikan tarif sehingga mengakibatkan kepanikan selama dua hari (tanggal 4 dan 5 Januari) di hampir semua gerai Samsat setiap kota.
Ketiga, dan yang memprihatinkan, Presiden Jokowi sebagai orang yang menandatangi PP tersebut malah keheranan dengan tingginya tarif baru. Apa presiden tidak membaca dan mencermati apa yang dia tandatangani. Kemudian mengenai besaran kenaikan tarif baru menjadi ajang lempar tanggung jawab.
Dalam keterangan persnya Rabu (4/1/2017) Kapolri Jendral Tito Karnavian mengatakan kalau usulan kenaikan tarif bukan berasal dari Polri melainkan dari temuan BPK dan hasil banggar DPR. Dalam penjelasannya Kapolri menjelaskan pada temuan BPK ada kenaikan harga material untuk pembuatan STNK dan BPKB sehingga harus ada penyesuaian tarif baru. Sedangkan berdasarkan hasil banggar DPR menyimpulkan tarif pengurusan surat kendaraan di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia.
Lalu Bagaimana Sekarang?
Apapun manuver pemerintah di awal tahun, jelas masyarakat yang merasakan efeknya. Gejala inflasi tinggi hanya menunggu waktu saja. Gambaran inflasi ini sudah tergambar dari harga kebutuhan pokok di pasar. Bahkan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo sudah memperingatkan kemungkinan inflasi parah di tahun ini. "Kami melihat bahwa ke depan harga-harga sudah mulai meningkat dibanding awal 2016. Kami lihat indeks harga ekspor di Desember 2016 diperkirakan naik rata-rata 3,6 persen, sedangkan 2017 itu akan naik di atas 7 persen jadi saya perkirakan akan ada tekanan inflasi," kata Agus di Kantor Kemenko Ekonomi usai pelantikan pejabat eselon I, Rabu (4/1/2016).
Tidak harus menunggu dan memperkirakan kapan inflasi akan terjadi. Lihat saja harga bahan pokok hari ini di pasar. Penderitaan rakyat Indonesia semakin berat karena sekarang untuk menikmati rasa pedas di makanan saja pun harus dengan harga mahal.
Harga cabe yang tidak stabil bukan hanya kado awal tahun tapi warisan permasalahan dari tahun-tahun berikutnya. Faktanya, saudara kita di kabupaten Raja Ampat, Papua, selama sepekan terakhir merasakan harga cabe naik hingga mencapai Rp200.000 per kilogram. Masyarakat bisa apa? Mau menanam takut kena isu virus. Mau membuka keran impor, malah mematikan petani lokal. Bukan hanya cabe, harga daging sapi juga tidak kunjung membaik meski pemerintah ikut mengintervensi pasar dengan memasukkan sapi India dengan harga Rp80.000 per kg.
Kembali ke permasalah di awal, kenapa pemerintah seakan kejar setoran dari masyarakat untuk menggeser nilai fiskal ke arah positif. Kenapa kesuksesan tax amnesty (yang diklaim sebagai tax amnesty tersukses di dunia) masih dianggap belum cukup sehingga pemerintah membuat keputusan ekonomi yang tidak populer.
Sepertinya pemerintah sedang gencar membangun infrastuktur dan tidak mau membebani APBN 2017 dengan belanja modal yang menyentuh nilai negatif. Jadi jalan keluarnya semua masyarakat harus tanggung renteng dalam permasalahan negara ini. Pemilihan kenaikan TDL, BBM dan STNK merupakan alasan tepat jika dilihat dari sisi massifnya ketergantungan masyarakat dengan produk tersebut. Bisa jadi kedepannya akan ada perubahan PP tentang tarif PNBP yang langsung bersinggungan dengan masyarakat, misalnya saja tarif pembuatan paspor, jasa komunikasi, dan lain-lain.
Penutup
Sebagai penutup, pemerintah harus tetap mengingat dari kenaikan biaya pengurusan STNK (sebagai contoh), hanya 8 persen yang masuk ke kas negara sedangkan 92 persen digunakan meningkatkan pelayanan PNBP. Jadi jangan sampai kenaikan hingga 300 persen tapi kondisi jalan dan sarana tidak meningkat.
Kemudian, pemerintah juga tidak perlu malu jika harus merevisi PP ini dengan penurunan tarif yang sewajarnya. Sewajar mengingat bahwa biaya pengurusan STNK/SIM dan sejenisnya terakhir kali berubah adalah 10 tahun lalu. Akhirnya, mari kita nikmati 2017 ini. Mungkin bukan tahun politik, karena gelaran pilpres baru akan dilaksanakan dua tahun lagi. Tahun ini pemerintah membuat kebijakan tidak populer dan tahun depan mengguyur dengan kebijakan pro rakyat. Karena rakyat Indonesia gampang lupa dan sangat pemaaf. Selamat tahun baru 2017.***
*Penulis adalah Pengajar di Fakukltas Ekonomi Unimed
sumber:harian.analisadaily.com
Sensus Ekonomi 2026 di Riau Dimulai dari Kediaman Plt Gubernur
Hari ini, Senin (15/6/2026) Sensus Ekonomi resmi dimulai. Serentak secara nasional. Di Provinsi Riau, Sensus Ekonomi diawali dari kediaman Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto. Tim sensus dari Badan Pusat
Bedah Potensi Ekonomi Kepri, Tifatul: 'Kenapa Harus Bali Melulu?
Jakarta - Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) MPR RI Ir Tifatul Sembiring mengajukankan konsep 'Ekonomi Utara' sebagai strategi baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.H
Kolaborasi Menahan Sampah Sebelum ke Laut
Jakarta - Laporan Plastic Overshoot Day 2025 yang dirilis lembaga riset Swiss EA Earth Action menempatkan Indonesia dalam daftar 12 negara penyumbang terbesar sampah plastik tidak terkelola di dunia.
PWI Riau Buka Pendaftaran Anugerah Jurnalistik Ali Kelana 2026, Angkat Tema Energi Berkelanjutan
PEKANBARU - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau mulai mematangkan pelaksanaan Anugerah Jurnalistik Ali Kelana 2026. Ajang penghargaan tahunan ini akan mempertandingkan dua kategori, yakni karya tu
Said Abdullah Beberkan Pengembangan Digital Istana Gebang, Pikat Muda-mudi
Blitar - Selain pembenahan fisik yang diresmikan hari ini, Ketua DPD PDIP Jawa Timur, Said Abdullah menyebut rencana pengembangan Istana Gebang ke depannya.Ia mengungkapkan kawasan bersejarah tersebut