Jumat, 01 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Tahun Baru, Semangat Baru Melawan Narkoba

Opini

Tahun Baru, Semangat Baru Melawan Narkoba

Oleh: Fransisca Ayu K
Minggu, 07 Jan 2018 07:28
analisadaily.com
Ilustrasi

Tahun 2018 sudah dimasuki. Perta­ru­­ngan hidup untuk men­capai kebaikan te­­rus berjalan. Kita terus ber­ikhti­ar me­ma­­jukan nilai-nilai kemas­la­hatan dan men­jauhi serta memerangi ke­ja­hatan serta kebatilan untuk mencip­ta­kan spirit humanitas di tahun baru ini.

Satu hal yang pasti, di tahun 2018 ini, bangsa ini harus te­rus melakukan pe­pe­ran­gan masif terhadap narkoba, salah sa­tu musuh terbesar peradaban. Pemerin­tah se­jauh ini terus mela­kukan perang ter­ha­dap narkoba dari segala dimensi. Badan Nar­kotika Nasional telah menem­bak mati 79 tersangka ka­sus narkoba sepanjang 2017 dan berhasil membong­kar 46.537 ka­sus dan 27 kasus tindak pidana pencu­cian uang yang bersumber dari kejahatan nar­koba. Petugas gabu­ngan dari BNN, Bea Cu­kai, dan Polri me­nyita barang bukti 4,71 ton sabu-sabu, 151, 22 ton ganja, dan 2.940.748 butir eks­tasi. Ba­rang-barang lak­nat tersebut ter­­nyata sudah beredar luas di tangan-ta­ngan pihak yang tak bertang­gung ja­wab, bahkan ke generasi muda, ca­lon pe­mimpin bangsa. Data-data di atas ha­­nya gunung es dari fakta yang sebenar­nya.

Kepala BNN Budi Waseso menyata­kan narkoba telah ma­suk dan merambah ke kalangan pelajar dengan berbagai ben­­tuk dan jenis. Sebagian tersangka yang di­tangkap petugas ber­usia belasan ta­hun hing­ga 30-an tahun. Sungguh se­buah fak­ta yang merisaukan, jika sekolah yang di­anggap sebagai tempat pembe­nih­an nilai akh­lak dan moral justeru ikut disikat nar­koba. Kita selama ini mungkin terlena de­ngan euforia kebe­basan dan hedonisme yang menjamah hidup gene­ra­si muda se­hingga filter terhadap ke­mak­siatan nar­koba di kalangan ma­sya­rakat remaja tidak lagi menjadi per­gu­mu­lan bersama yang perlu dicarikan jalan keluar.

Sasaran empuk

Kini hanya dalam hitungan waktu, kita sudah menjadi sa­sar­an empuk pasar peredaran narkoba internasional. Negara luar berlomba-lomba memasarkan ba­rang ilegal nan nista tersebut dengan me­man­faatkan celah-celah teritorial yang ada. Hukum jual-beli konsumsi narkoba ter­jadi dengan sempurna di negeri ini. Apa­lagi kita memiliki jumlah penduduk yang besar, dengan permasalahan kom­pleks yang menyisakan masa­lah bertim­bun-timbun bagi penduduk, yang mana fe­no­me­na tersebut tentu saja menjadi sebuah pasar sangat meng­giurkan.

Para artis, pengusaha, tentara, polisi, po­­l­itisi, birokrat, guru, dosen, jaksa, ha­kim, dan lain-lain tidak kebal dan ikut men­­­jadi mangsa brutal narkoba. Mereka ke­­rap menjadikan narkoba sebagai ins­tru­­men pelarian diri dari masalah, mere­guk ketenangan se­saat nan palsu, karena pada ujungnya hanya akan mence­la­kakan diri dan orang lain. Tunas-tunas muda bangsa kerap terlihat dari media televisi, terkapar tak berdaya di­h­ajar jarum suntik barang laknat ter­sebut, menyiratkan dengan tegas bahwa bang­sa ini ada dalam intaian musuh be­sar, narkoba.

Bicara penegakan hukum, bukannya ne­gara ini tak berbuat apa-apa. Sudah ada beberapa napi narkoba yang ditem­bak mati, namun itu belum menjerakan. Ib­arat roh kesetanan yang menyeringai dari waktu ke waktu menyasar mangsa, para pengguna dan pengedar narkoba seperti tak kenal takut. Fulus menggiur­kan dari hasil penjualan narkoba terasa lebih kuat efeknya ketimbang ancaman hu­kum yang kerap kelai tidak ber­gigi, tidak serius dan konsisten, karena buk­tinya, oknum apa­rat hukum, banyak juga yang berbisnis barang hitam terse­but, mereka berdalih mencari sumber peng­ha­si­lan tambahan, tetapi bukan saja untuk kebutuhan hidup keluarga tapi juga un­tuk hidup foya-foya. 

Lembaga pemasyarakatan yang diha­rap­kan menjadi ruang pertobatan para napi narkoba justru telah menjadi "se­ko­lah" bagi para calon bandar. Sebagai­mana tes­ti­moni yang sering ter­de­ngar,  jus­teru dari da­lam LP narkoba dipro­duk­si dan di­ken­­da­­likan dengan jaringan ra­hasia yang sis­temik dan rapi. Sulit menyangkal adanya pe­tugas yang terli­bat, membekingi per­edar­an narkoba ter­se­but, karena salah sa­tunya mereka mem­­butuhkan fulus yang jum­lahnya tidak sedikit. Para petugas LP pun tiba-tiba bisa berubah hidupnya se­ke­jap, bah­kan bisa membeli barang mewah.

Untuk menarik perhatian calon peng­guna, kemasan narkoba pun kini tidak lagi hanya dalam bentuk serbuk, linti­ngan, dan pil. Kita tentu masih ingat pe­risti­wa penggerebekan di Diskotik MG Ja­karta Barat belum lama ini, di mana diskotik terse­but juga menjadi tempat mem­pro­duksi narkoba. Di situ ditemukan adanya sabu cair siap pakai dalam kemasan air minum. Inovasi kemasan narkoba ternyata makin hari makin kreatif dan berkembang, sepertinya lebih pamungkas dari kecepat­an dan kekuatan menyerbu dan membe­rantas barang tersebut.

Tak boleh diam diri

Kalau sudah begini,bangsa ini tak boleh lagi terus berdiam diri menyaksikan narkoba merajalela menawarkan kenikmatan dan surga fulus, lalu menghancurkan generasi bangsa. Mereka harus diselamatkan agar asa bangsa ini untuk menapaki ke­ung­­gulan seba­gai bangsa terhormat tak pupus. Para peng­edar narkoba tak boleh dimaafkan lagi. Hu­ku­man mati adalah sebu­ah keniscayaan bagi mereka, bukan karena ingin mereproduksi den­dam, tapi karena rasa mengasihi yang besar terhadap masa depan anak bangsa.

Bea Cukai bekerja sama dengan Polri dan BNN harus serius dan lebih berani meng­ung­kap, menggagalkan, dan menangkap orang-orang yang terlibat dalam penyalahgu­naan narkoba. Ko­mit­men Sri Mulyani, Budi Waseso, dan Kapolri Tito Kar­na­vian yang menjadikan institusi yang dipimpinnya men­jadi agen utama pemberantasan narkoba per­lu kita dukung, bahkan hal tersebut sudah selayaknya diikuti oleh institusi-insititusi lain sehingga barikade perlawanan narkoba ma­kin kokoh. Mereka sudah berkomitmen, jika ada anak buah mereka yang kedapatan terli­bat sebagai bagian dari kejahatan narkoba, maka mereka harus ditembak mati, tanpa kompromi. Ini sebuah revolusi sikap yang wajar dan harus. Kita tak ingin, orang-orang yang memahami selukbeluk peredaran kare­na me­miliki otoritas penindakan justeru ikut menjadi pelaku atau beking pengedar narko­ba. Kelompok tersebut layak disebut sebagai pengkhianat bangsa dan layak mendapat hu­ku­man berat lebih dari warga biasa.

Spirit tahun baru harus memberi semangat baru melawan nar­koba sesuai dengan peran masing-masing. Masyarakat dari seluruh ele­men harus bersatu memerangi narkoba. Lem­baga pendidikan jangan pernah henti me­ngedukasi bahaya narkoba. Para penge­muka agama harus terus mengedukasi masya­rakat tentang pentingnya hidup dalam keimanan dan menjauhi kebatilan. Kita jangan kalah cepat dari agen-agen narkoba tersebut. Sebab ini hanya masalah waktu. ***

Penulis adalah Pemerhati sosial

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.