Opini
Terimakasih Debat Pilgub DKI
Oleh: Rafyq Panjaitan
Minggu, 22 Jan 2017 09:28
BERDEBAT adalah tradisi intelektual, budaya akademis dan proses mempertentangkan ide. Lawan berdebat adalah teman berpikir, sungguh beruntung mereka yang gemar berdebat secara objektif dan argumentatif, karena pikirannya terus mengalami proses dialektika.
13 januari 2017 debat pertama Pilkada DKI Jakarta, momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh publik Jakarta bahkan seluruh rakyat Indonesia. Pada debat itu, kita disuguhkan pada pertarungan ide dan gagasan yang cukup menakjubkan. Tetapi sangat disayangkan, masih juga terdapat penyerangan pada pribadi kandidat yang penulis rasa tidak perlu.
Seperti 'salah ucap' yang dilakukan oleh Sylviana Murni pada Anies yang mengatakan 'pak menteri' kemudian Ahok yang mengatakan 'teori, dosen' mengarah kepada Anies Baswedan. Inilah komunikasi politik yang cenderung ngeledek, padahal debat publik tersebut telah berkomitmen untuk tidak menyerang pribadi masing-masing kandidat.
Karena seyogyanya, menyerang pribadi juga bukan tradisi debat, debat adalah menyerang, mengkritisi program, ide, gagasan bukan masalah personal. Apapun itu, secara keseluruhan, dekorasi kata-kata indah tentang kemanusiaan, pembangunan, kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan lingkungan menjadi hal yang terpenting untuk kita ambil sebagai masukan pemikiran.
Bahwa, debat kemaren adalah soal memprebutkan pikiran rakyat terhadap konsepsi masing-masing kandidat dalam memecahkan masalah sosial ekonomi. Dimana permasalahan tersebut merupakan pucuk dari segala penyakit sosial yang ada, seperti kemiskinan dan kebodohan.
Pendidikan politik
Sudah sekian lama kita menantikan sebuah pendidikan politik dari aktivitas politik elektoral kita. Politik yang selama ini kita nikmati hanyalah persoalan berlomba-lomba mencitrakan diri pada rakyat bahwa dirinya: baik, pelayan, dan amanah ketika nanti diberi kekuasaan, tanpa pernah beradu gagasan dan program yang terbaik satu sama lain.
Politik elektoral Amerika Serikat menjadi salah satu contoh pendidikan politik yang baik. Rakyat Amerika menentukan pilihan dengan membandingkan gagasan dan program kandidat, pun partai politik yang telah melalui proses dinamika panjang dari multi-partai menjadi dwi-partai yaitu partai republik dan demokrat tak pernah mencalonkan sosok yang tidak berkapasitas.
Di Amerika serikat, rakyat akan lebih tertarik melihat program (membandingkan program) ketimbang mengurusi identitas dan kepribadian si kandidat. Debat menjadi ajang 'mempertahankan, merasionalkan, meyakinkan' pemilih bahwa program mereka adalah yang terbaik dan masuk akal.
Kembali pada Pilgub DKI, lalu lintas debat menurut penulis termasuk dalam debat kandidat terbaik sepanjang sejarah Pilkada di Indonesia. Dari sosok kandidat sebenarnya kita sudah bisa mengukur kapasitas mereka.
Agus seorang mantan perwira militer yang karir militer dan pendidikannya cemerlang, Sylviana murni seorang birokrat berpengalaman, Ahok telah banyak memakan asam garam memimpin daerah dan menjadi anggota dewan, Djarot politisi senior PDIP DKI Jakarta, Anies seorang akademisi, rektor dan mantan menteri serta Sandiaga Uno seorang pengusaha sukses yang sehari-hari bergelut dengan dunia usaha (perekonomian).
Latar belakang kandidat tersebut cukup mempengaruhi gaya berkomunikasi serta keahlian menyampaikan pesan komunikasi politik yang memikat hati pemilih. Ketiga pasangan telah menunjukkan paling tidak untuk tahap awal bahwa mereka memiliki konsepsi dalam mengelola kekuasaan di Ibu kota lima tahun kedepan.
Agus-Sylvi dengan 'senjata' bantuan-bantuan langsungnya, Ahok-Djarot dengan ambisi pembangunan infrastrukturnya, bantuan 'non-cashnya' serta Anies yang fokus pada pendidikan berkelanjutan dan penciptaan pengusaha-pengusaha rakyat baru. Betapa landasan gagasan mereka tersebut mengisyaratkan latar belakang mereka.
Di dalam teori komunikasi politik, Teori media empati dan hemofili, teori ini beranggapan bahwa komunikasi politik akan berhasil jika sukses memproyeksikan diri ke dalam sudut pandangan orang lain. Hal ini erat sekali hubungannya dengan citra diri si komunikator politik dalam menyesuaikan suasana pikirannya dengan alam pikiran masyarakat. Teori ini juga mengatakan bahwa berkomunikasi yang dibangun atas kesamaan (hemofili) akan lebih lancar dan efektif daripada didasarkan oleh ketidaksamaan.
Kalau kita cermati, ketiga pasang kandidat semaksimal mungkin memosisikan diri sebagai solusi rakyat, sebagai sosok yang se-visi dengan rakyat. Bermodalkan ide masing-masing, para kandidat berupaya sekuat tenaga untuk meyakinkan bahwa 'cara' mereka yang terbaik. Anies dan Agus mengkritik habis soal kebijakan petahana yang gemar 'main gusur', tetapi Ahok juga tidak kekurangan ide untuk menjawab, bahwa penggusuran tidak mungkin dilakukan tanpa sebab, yakni akibat mendiami pinggiran sungai.
Anies pun menjawab balik jawaban petahana (Ahok) dengan brilian bahwa 5 tahun yang lalu ada kontrak politik, tetapi tidak dijalankan, dst dst. Serang-menyerang seperti inilah yang dibutuhkan oleh rakyat, sehingga rakyat memiliki referensi calon yang mana 'paham betul' menyelesaikan persoalan rakyat.
Secara komunikasi politik, Pilgub DKI telah memberikan performa yang sebanding dengan kehebohan yang telah menjalar ke seluruh Indonesia. Ekspektasi kita terhadap pendidikan politik yang mumpuni dari masing-masing kandidat, terjawab sudah. Bahwa DKI pantas dinobatkan sebagai barometer politik nasional, maka tak ayal, DKI satu menjadi salah satu kunci untuk melenggang mulus ke istana negara.
Revolusi partisipasi politik
Kita harus berterimakasih pada Pilgub DKI, bahwa pertarungan politik tersebut telah banyak merubah tatanan sosial-politik kita yang tadinya pasif menjadi aktif. Yang ini juga merambah pada entitas yang lebih luas, yakni 'budaya politik'.
Secara teoritik, ada tiga budaya politik: budaya politik parokial (tidak sadar politik), budaya politik subjek (sadar politik karena faktor tertentu) dan budaya politik partisipan (sadar politik). Sejak pertengahan 2016 sampai saat ini 'pesona' Pilgub DKI telah menyihir seluruh rakyat Indonesia. Baik di masyarakat maupun di dunia maya, Pilgub DKI tak habis diperbincangkan.
Budaya politik partisipan meningkat tajam, mereka (kaum tua, kaum muda) yang tadinya 'masa bodoh' dengan politik, kini ikut membincangkannya dengan serius. Analisis politik bukan lagi hanya di: kampus, warung kopi, perkumpulan elit parpol, tetapi di media sosial tempat segala macam karakter dan latar belakang pendidikan berkecimpung.
Agus, Ahok, Anies setiap perkataan, tindakannya dipantau oleh seluruh rakyat. Alasan pertama karena ini menjelang momentum politik, alasan kedua tentu karena kapasitas mereka yang sejauh ini masih menjadi yang terbaik sepanjang sejarah Pilkada di Indonesia. Yang pasti ketiga sosok tersebut telah memukul mundur peradaban kita yang kontra-produktif yaitu: budaya politik parokial.
Maju mundurnya demokrasi memang tidak bisa hanya diukur lewat partisipasi politik masyarakat dalam bingkai politik elektoral saja, ada banyak aspek yang dapat ditinjau jika hendak melihat kepekaan politik masyarakat. Tetapi, lewat aktif dan kritis dalam konteks pemilihan, perebutan kekuasaan, itu adalah langkah awal untuk menapaki paradigma politik yang lebih luas, seperti: distribusi kekuasaan, birokrasi, kesejahteraan, good-governance and clean governance dan lain sebagainya.
Terakhir, terimakasih debat Pilgub DKI,rakyat terdidik dengan ide, rakyat terdidik dengan kata-kata. Semoga pemimpin terbaik terlahir dan mampu menyelesaikan persoalan ibu kota!***
Penulis adalah pengamat politik
sumber:harian.analisadaily.com
Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya
JAKARTA �" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5 dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun
Masuk Ekosistem XLSMART, Defend IT360 Perkuat Keamanan Siber Terintegrasi
JAKARTA - Perusahaan keamanan siber Defend IT360 meluncurkan logo terbaru tepat di ulang tahun yang kedua. Peluncuran logo ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas dan posisi
Kenapa Biaya Kuliah Jalur Mandiri Lebih Mahal?
JAKARTA â€" Kenapa biaya kuliah jalur mandiri lebih mahal? Biaya pendidikan melalui jalur mandiri memang berbeda dibandingkan jalur prestasi maupun jalur tes. Karena itu, calon mahasisw
Kenapa Zinc dan Vitamin C dalam Suplemen Anak Tidak Dibuat 100 Persen? Begini Penjelasan Dokter
BANYAK orangtua sering kali merasa bingung saat membaca tabel komposisi pada label vitamin anak. Utamanya ketika melihat angka persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG) seperti kandungan zi
Tak Perlu Dibuang, Ikan Sapu-Sapu Bisa Diolah Jadi Pupuk
JAKARTA â€" Ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap hama ternyata memiliki manfaat besar. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, mengungkapkan bahw