Opini
Wabah McDonaldisasi Jelang Pilkada dan Pilpres
Oleh: Firman Situmeang
Minggu, 11 Feb 2018 05:53
POLITIK "Jalan Tol" kini sedang menjangkiti partai politik dan menjadi wajah baru dunia perpolitikan tanah air. Partai politik yang seyogyanya bertugas untuk melahirkan kader-kader yang berkualitas, dewasa ini lebih cenderung menggunakan jalan pintas dengan mengusung figur non-kader. Misalnya saja pada perhelatan Pilkada DKI tahun lalu. Dari ketiga pasangan gubernur dan wakil gubernur hanya Djarot Saiful Hidayat seorang sajalah yang diusung partainya sendiri, sementara yang lain macam Ahok, Anies, AHY, Sandiaga, dan Sylviana merupakan figur non-kader bahkan non-partai.
Jelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, tren ini semakin menguat saja. Di Sumuatera Utara, Gerindra lebih memilih mengusung eks-Pangkostrad Edy Rahmayadi dibandingkan kader terbaiknya di Provinsi itu, Gus Irawan. Di Jawa Barat PKB, Hanura, dan NasDem memilih mengusung Ridwan Kamil dibandingkan memajukan kadernya sendiri. Lalu di Jawa Timur, Gerindra-PKS yang biasanya membuat poros sendiri secara mengejutkan mengusung Gus Ipul - Puti yang didukung oleh rival politiknya PDIP. Di saat yang bersamaan, Golkar dan Demokrat juga melakukan hal yang sama dengan mengusung Khofifah (kader PKB) dan Emil Dardak (kader PDIP).
Politik serba instan yang dipraktekkan oleh berbagai partai guna memenangkan Pilkada dapat secara sosiologis dikategorikan sebagai fenomena McDonaldisasi. Sebagaimana dikemukakan George Ritzer dalam The McDonaldization of Society (2004), McDonaldisasi adalah proses-proses di mana prinsip-prinsip restoran cepat saji mendominasi masyarakat. Menjelang Pilkada dan Pilpres, partai politik pun tampaknya tidak ketinggalan meniru gaya ini dengan begitu vulgar.
Ada empat unsur Mcdonaldisasi yang dijalankan oleh partai-partai di Indonesia. Pertama, Efisiensi. Prinsip efisiensi menuntut partai politik untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya yang sekecil-kecilnya. Semakin hemat atau sedikit penggunaan sumber daya, maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses yang efisien ditandai dengan penyederhanaan proses sehingga menjadi lebih murah dan lebih cepat. Hal ini juga berlaku dalam pengusungan calon.
Hal ini yang dilakukan oleh kebanyakan partai politik di Indonesia dalam Pengusungan Calon Presiden atau calon Kepala Daerah. Dimana partai lebih memilih untuk mengusung siapapun figur yang dianggap populer. Mereka tidak mau repot-repot melakukan kaderisasi secara bertahap karena dinilai sulit, repot, dan mahal. Belum lagi harus mengeluarkan biaya ekstra guna mensosialisasikan kader yang mereka usung.Bagi mereka suara pasar adalah suara partai. Sosok yang dianggap "dibutuhkan pasar", dengan mengabaikan kualitas, yang akan diusung partai politik. Alhasil ada partai yang bekerja lima tahun sekali, mempersiapkan calon ketika menjelang Pilkada/Pilpres dilaksanakan saja.
Salah satu contoh yang bisa kita jadikan rujukan yakni pencalonan artis kawakan Deddy Mizwar sebagai calon gubernur Jawa Barat. Partai-partai pengusung menjadikan ketenaran dan nilai jual Deddy sebagai salah satu strategi atau cara yang efisien untuk menarik suara rakyat. Langkah yang sama juga dilakukan Gerindra di Sumatera Utara dengan mengusung figur yang terlanjur tenar Edy Rahmayadi, sampai-sampai Gerindra mengabaikan kader ideologisnya, Gus Irawan.
Kedua, kalkulabilitas. Ritzer (2011) menyatakan bahwa prinsip kalkulabilitas dalam McDonaldisasi lebih menekankan pencapaian kuantitas sehingga mengorbankan aspek kualitas. Dalam kaitannya dengan Pemilu gejala yang sama juga ditunjukkan oleh partai politik. Partai politik tidak mengusung calon berdasarkan kualitas kepemimpinan calon, baik dari sisi ideologi maupun sisi kecakapan memimpin. Namun lebih mengutamakan hitung-hitungan suara melalui keterkenalan.
Mereka tidak peduli terhadap kualitas calon, tidak peduli apakah ideologi si calon sejalan dengan ideologi partai, dan tidak ambil pusing dengan kemampuan si calon dalam mensejahteraan rakyat. Targetan partai politik hanya berdasarkan hitung-hitungan suara, misalnya, bagaimana mereka mampu meraih suara terbanyak dalam Pilkada maupun Pilpres. Tidaklah mengherankan bila di Jawa Timur, Gerindara dan PDIP yang selama ini selalu berlawanan mendadak mengusung calon yang sama. Bagi mereka kalkulasi suara lebih penting dibandingkan ideologi partai.
Di samping suara, kalkulasi dana juga menjadi pertimbangan partai dalam mengusung seorang calon. Demi menambah kasnya, banyak partai yang mengajukan "mahar politik" bagi calon non-kader yang haus akan kekuasaan. Dengan dalih untuk membesarkan partai, sosialisasi, logistik, dan kepentingan tim pemenangan, elite parpol tidak segan mengajukan mahar politik yang super tinggi. Tidaklah mengherankan bila banyak pengusaha ataupun orang kaya yang maju dalam kontestasi Pilkada.Ingat dengan La Nyalla?
Ketiga, prediktabilitas yang berarti segala sesuatu harus dapat diperkirakan. Dengan adanya kalkulabilitas maka dengan sendirinya dapat diprediksikan keuntungan yang akan diperoleh si partai. Entah itu keuntungan kekuasaan maupun keuntungan ekonomi. Alhasil masyarakat bisa menebak tindakan yang akan dilakukan partai berdasarkan sinyal yang diberikan sejak awal.
Salah satunya fenomena yang sangat menarik dari keterprediksian ini ialah pengusungan Presiden Jokowi oleh Partai Golkar sebagai calon presiden 2019 mendahului PDIP yang notabene partai asal Jokowi. Pasca Golkar beberapa partai ikutan mendeklarasikan dukungannya pada Jokowi semisal Nasdem, Hanura, dan PPP.Antusiasme partai-partai tersebut dalam mengusung Jokowi tentu tidak terlepas dari prediksi keuntungan yang sudah dilakukan oleh partai yang bersangkutan.
Sekurang-kurangnya ada tiga (3) gendang (prediksi) dibalik "keterburu-buruan" partai-partai tersebut dalam mendukung Jokowi. Pertama, Jokowi memiliki popularitas dan elektabilitas tertinggi sehingga paling berpeluang untuk memenangkan Pilpres 2019. Kedua, dengan mendukung Jokowi maka partai besar kemungkinan akan mendapatkan jatah kursi menteri dalam pemerintahan saat ini maupun yang akan datang. Ketiga, dengan mendukung Jokowi yang banyak dicintai itu, maka diharapkan dapat meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai yang bersangkutan.
Keempat, kontrol. Prinsip kontrol McDonaldisasi menjadikan partai politik terlalu mengidolakan teknologi. Misalnya dalam menentukan siapa calon yang diusung pada Pilkada maupun Pilpres, partai acapkali menjadikan hasil survei sebagai pertimbangan utama. Semakin tinggi popularitas dan elektabilitas seseorang figur maka partai akan cenderung mengusung orang tersebut.
Di samping itu McDonaldisasi telah menjadikan para calon dikomodifikasi menjadi alat produksi partai. Artinya popularitas dan elektabilitas si calon diharapkan dapat pula meningkatkan popularitas dan elektabilitas partai yang bersangkutan. Dengan mendukung seorang calon yang populer dan memiliki banyak idola, si partai berharap dapat mengontrol perhatian/emosi masyarakat. Sehingga segala kegiatan dan pembicaraan yang dilakukan si calon dan fans selalu mengarah pada dukungan maupun isu yang diinginkan partai yang bersangkutan.
Disfungsional
Dampak paling nyata dari McDonaldisasi dalam penentuan calon pemimpin yakni disfungsional partai. Parpol yang seyogyanya bertanggungjawab untuk melakukan kaderisasi guna melahirkan calon pemimpin terbaik atau sekurang-kurangnya mengusung calon yang kompeten, kini bersikap pasif dan hanya melakukan seleksi menjelang perhelatan Pemilu. Tak sampai disitu, keterpesonaan partai akan popularitas membuat interaksi partai dengan masyarakat dewasa ini kian melemah. Partai yang seharusnya berkomunikasi secara langsung dengan rakyat sebelum mengusung seorang calon, kini hanya berpatokan pada hasil survei semata.
Kondisi ini jelas menjadi kabar buruk bagi masyarakat. Pasalnya hingga kini partai politik masih menerima subsidi berupa "dana parpol" yang tahun ini naik menjadi Rp 1.000 per suara. Kalau pada akhirnya partai menghalalkan cara-cara instan dalam menentukan calon yang diusungnya, maka uang yang dikeluarkan rakyat menjadi mubazir. Perlu dicatat bahwa perhelatan Pilkada dan Pilpres adalah pesta rakyat, sehingga sudah sepantasnya prinsip dari, oleh, dan untuk rakyat dikumandangkan kembali oleh parpol. Salam.***
Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi USU, serta Pegiat Literasi di Toba Writers Forum (TWF).
sumber:analisadaily.com
Opini
Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau
DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga
Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi
Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L
Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir
TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da
Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang
Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan
Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme
Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k