Minggu, 21 Jun 2026
- Home
- Pendidikan
- Menengok Pendidikan Inklusif Kolaborasi Indonesia dan Australia di NTB
Menengok Pendidikan Inklusif Kolaborasi Indonesia dan Australia di NTB
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 15 Jun 2026 13:29
Jakarta-Di ruang-ruang kelas SDN 1 Teros, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), siswa yang sebelumnya mengalami hambatan fungsional dalam mengikuti pelajaran, kini dapat lebih nyaman mengenyam pendidikan sesuai dengan kebutuhannya.
Perubahan ini hasil potret nyata kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, orang tua hingga tenaga kesehatan lewat program Inovasi, kemitraan Indonesia-Australia dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif.Pengawas SDN 1 Teros, Baiq Suriatun, mengatakan sekolahnya setiap tahun menerima murid dengan hambatan fungsional belajar maupun disabilitas. Namun, selama bertahun-tahun guru kerap kesulitan mengenali kebutuhan anak dan menentukan bentuk pendampingan yang tepat.
Perubahan mulai terlihat ketika sekolah menggunakan instrumen Profil Belajar Siswa (PBS), yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Agama untuk mengidentifikasi hambatan fungsional belajar peserta didik.
"Sebelum kami mengenal PBS, kami tidak tahu anak ini hambatannya apa, kemudian bagaimana cara menanganinya, itu kami belum tahu sama sekali," kata Suriatun di lokasi, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, tantangan itu semakin besar karena sebagian murid di Teros tidak tinggal bersama orang tua. Banyak anak diasuh keluarga lain lantaran orang tua bekerja di luar daerah maupun luar negeri.
Dari pendataan awal, sebanyak 59 siswa di SDN 1 Teros teridentifikasi memiliki hambatan belajar dalam tujuh kategori, mulai dari penglihatan, pendengaran, bicara, disleksia, kognitif, emosional, hingga perilaku sosial.
Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui skrining berlapis yang melibatkan Universitas Hamzanwadi, psikolog dari Komunitas Parenting Keren Lombok, serta Puskesmas Labuan Haji. Dari 59 siswa, sebanyak 27 anak mengikuti identifikasi lanjutan oleh tim dosen.
Selanjutnya, 19 anak menjalani asesmen mendalam oleh psikolog dan pemeriksaan kesehatan. Hasil akhir menunjukkan sembilan peserta didik teridentifikasi sebagai penyandang disabilitas dengan diagnosis dominan slow learner.
Selain itu, sekolah juga menemukan bahwa sejumlah anak mengalami lebih dari satu hambatan fungsional belajar sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih spesifik."Ternyata setelah melalui skrining lanjutan, ditemukan juga (anak) yang memiliki hambatan kognitif, disleksia, keterlambatan membaca. Sekali lagi satu orang anak bisa teridentifikasi memiliki lebih dari satu gangguan belajar," ujar Suriatun.
Berdampak
Koordinator Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Hamzanwadi, Abdul Aziz, mengatakan keterlibatan kampus berangkat dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya akses pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Abdul Aziz menyebut temuan di berbagai sekolah di NTB menunjukkan masih banyak anak dengan hambatan fungsional belajar yang belum terdeteksi sejak dini. Padahal, kata dia hanya sekitar 2,8 persen penyandang disabilitas yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Oleh karenanya, dalam hal ini Universitas Hamzanwadi tidak hanya berperan dalam proses identifikasi tetapi juga ikut melatih guru, mendampingi pengawas sekolah, dan membuka layanan konsultasi gratis bagi pendidik maupun orang tua.
"Jangan sampai, 'Anak saya tidak disabilitas, anak saya tidak ada hambatan, dia baik-baik saja di rumah.' Tapi di sekolah kok tidak mau belajar? Nah, itu tugas kami, menyatukan, mendiskusikan, bagaimana sih pemahaman guru ini bisa satu dengan wali murid," katanya.
Lewat program inovasi, SDN 1 Teros telah mendapatkan pendampingan berkelanjutan untuk memperkuat pembelajaran yang lebih berdiferensiasi terhadap anak dengan gangguan fungsional belajar. Pasalnya, kapasitas guru dalam memberikan layanan yang lebih inklusif juga ditingkatkan.
Kini, dampak program inovasi sudag terasa langsung di ruang kelas SDN 1 Teros. Guru Kelas 2B SDN 1 Teros, Purwayuni, mengaku lebih percaya diri mendampingi murid yang memiliki hambatan fungsional belajar setelah mengikuti pelatihan.
Ia sudah mampu menyesuaikan konten, proses pembelajaran, hingga asesmen berdasarkan kemampuan masing-masing anak.
"Saya lebih percaya diri ketika mendampingi anak murid saya yang memiliki hambatan ini. Saya melakukan pembelajaran berdiferensiasi dengan membedakan konten, proses, dan asesmennya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak itu," (liputan6)
Sumber: https://berita.liputan6.com/peristiwa/read/7890211/menengok-pendidikan-inklusif-kolaborasi-indonesia-dan-australia-di-ntb
komentar Pembaca