- Home
- Pendidikan
- Modifikasi Permainan Engklek untuk Siswa Tunarungu
Modifikasi Permainan Engklek untuk Siswa Tunarungu
Kamis, 26 Nov 2015 08:55
Setelah mengajar siswa tunarungu selama 19 tahun, Niken menyadari bahwa terbatasnya kosakata menjadi hambatan para siswanya untuk berkembang. Dia pun menciptakan inovasi dalam pembelajaran kosakata dengan memodifikasi permainan tradisional engklek.
Permainan engklek yang biasanya dilakukan dengan menggambar kotak-kotak di tanah atau lantai, dimodifikasi Niken dengan menggunakan lembar karpet karet tipis berukuran 40x40 sentimeter yang digambar kotak-kotak. Tujuannya, supaya permainan ini dapat dilakukan di mana saja, cukup dengan membentangkan karpet itu.
"Anak tunarungu miskin sekali kosakata. Pada setiap kotak engklek itu, saya letakkan 10 kartu bergambar sama. Permainan dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang jalan terlebih dahulu," ujar Niken dikutip dari laman Kemdikbud, Kamis(26/11/2015).
Setelah hompimpa, kata Niken, permainan dilanjutkan dengan melempar gacuk (pecahan genting) ke salah satu kotak. Kemudian, anak akan melompati semua kotak yang ada, kecuali kotak dengan gacuk tadi.
"Saat kembali, anak mengambil gacuk dan kartu gambar. Sampai di tepi, mereka diminta menyebutkan gambar yang dilihatnya dan kata yang berhubungan dengan gambar itu. Jika dapat menjawabnya, anak lanjut bermain. Jika tidak, gantian temannya yang bermain," terangnya.
Melalui permainan tersebut, anak didik Niken dapat menghafal kosakata lebih mudah dibandingkan dengan cara biasa. Menurutnya, kosakata anak juga bertambah karena dari satu satu gambar dapat diikuti dengan kosakata lain yang berhubungan.
Inovasi itu kemudian dia sertakan dalam Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi tingkat Nasional 2015. Dia mengusung judul makalah "Gaplek untuk Meningkatkan Penguasaan Kosa Kata Siswa Kelas 1 Tuna Rungu di SLB B-C YPCM Boyolali, Jawa Tengah".
"Gaplek merupakan akronim dari kartu gambar dalam permainan engklek," imbuhnya.
Permainan Gaplek, ucap Niken, juga mendukung pembelajaran kurikulum 2013 lantaran membuat siswa lebih aktif dan kreatif. Dengan karyanya tersebut, dia berhasil terpilih sebagai Peringkat I Guru Pendidikan Khusus Berdedikasi tingkat Nasional 2015. Meski demikian, hal yang paling membanggakan selama menjadi guru, yakni saat melihat anak didiknya mampu berkomunikasi dengan orang normal.
"Alhamdulillah, anak didik saya yang sekarang di kelas tujuh sudah dapat berkomunikasi lancar dengan orang normal. Rasanya bangga dan senang sekali," pungkasnya.
Simpatisan Komitmen Kawal Realisasi Target Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Ribuan massa aksi yang mengatasnamakan Simpatisan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Malang Raya menyelenggarakan Apel Akbar dan Senam Bersama di Alun-Alun Tugu, Kota Malang, Jawa Timur pada Sabtu (20
Presiden Prabowo Setujui Gagasan Pelatnas Multiyears, Mensetneg dan Seskab Follow Up Anggaran
BOGOR - Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan besar untuk memperkuat pengembangan ekosistem olahraga nasional. Hal itu disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) E
Delegasi Malaysia Lirik Potensi Besar Kelapa Rangsang Meranti
SELATPANJANG - Pasar internasional kembali melirik kekayaan alam Kabupaten Kepulauan Meranti. Perusahaan asal Malaysia, Grisek Jaya Sdn. Bhd, terjun langsung menjajaki peluang bisnis dan perdagangan k
Bupati Tabanan Buka Festival Jatiluwih Ke-7, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pariwisata Lokal
Bupati Tabanan, Bali, I Komang Gede Sanjaya, secara resmi membuka Festival Jatiluwih Ke-7 Tahun 2026 pada Sabtu, 20 Juni 2026. Acara ini akan berlangsung hingga Minggu, 21 Juni 2026, dengan tujuan uta
Pemerintah Perluas Akses Internet Pendidikan dengan Starlink di Nias Utara: Solusi Daerah 3T
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat Akses Internet Pendidikan, khususnya di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T). Upaya ini diwujudkan melalui penye