Minggu, 21 Jun 2026

Paradigma Pendidikan di Indonesia Belum Inklusif

Jumat, 04 Des 2015 08:36
Dok. Okezone
JAKARTA – Sistem pendidikan di Indonesia bagi penyandang disabilitas masih dinilai diskriminatif. Sebab, masih tampak beberapa pembeda antara pendidikan bagi penyandang disabilitas dengan siswa yang normal.

"Bahkan diskriminasi tak hanya di sekolah, tetapi juga di tingkat perguruan tinggi. Contohnya, aturan-aturan bagi penyandang tuna tertentu tidak boleh masuk, itu bentuk diskriminasi," ujar pemerhati pendidikan dan pengembang pendidikan karakter, Doni Koesoema, belum lama ini.

Pendidikan, kata Doni, harus dilaksanakan secara inklusif. Untuk itulah, hal pertama yang harus dilakukan adalah kesiapan pendidik, orangtua, dan siswa dalam mengubah paradigma.

"Paradigma membedakan siswa penyandang disabilitas dan siswa normal perlu diubah. Undang-undang yang berlaku saat ini sudah tidak relevan sehingga harus ada UU baru tentang penyandang disabilitas yang tidak ada tururnannya. Saat ini memang sudah ada draftnya, yakni sekira ada 500 pasal," tuturnya.

Doni mengungkapkan, tantangan mengubah paradigma sendiri adalah pendidikan. Menurutnya, pendidikan inklusif bisa berjalan kalau proses pendidikan juga berjalan di masyarakat. Maksudnya, penyandang disabilitas tak perlu merasa dikasihani dan yakin punya kemampuan yang sama dengan orang pada umumnya.

"Kalau di luar negeri penyandang disabilitas merasa mampu mengerjakan aktivitas sendiri. Orang yang mau membantu juga harus bilang dahulu. Kalau di Indonesia sebagian masih menggantungkan diri dan ingin dikasihani. Kondisi itu cocok dengan paradigma pemerintah dan orangtua yang selalu berbelaskasih," ucapnya.

Dia menambahkan, perlakuan tersebut tidak mendidik sehingga harus pelan-pelan diubah. Sementara orangtua, lanjut Doni, memasukkan anaknya ke sekolah luar biasa (SLB) disebabkan sekolah umum yang tidak mampu mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas.

"Harus ada rintisan sekolah yang inklusif. Sekarang yang terjadi sekolah tertentu yang diberi kebijakan inklusif melakukan, tapi yang tidak ya sudah. Padahal, pendidikan harus inklusif," tandasnya.

(okezone.com)
Pendidikan
Berita Terkait
  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:12

    Simpatisan Komitmen Kawal Realisasi Target Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

    Ribuan massa aksi yang mengatasnamakan Simpatisan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Malang Raya menyelenggarakan Apel Akbar dan Senam Bersama di Alun-Alun Tugu, Kota Malang, Jawa Timur pada Sabtu (20

  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:02

    Presiden Prabowo Setujui Gagasan Pelatnas Multiyears, Mensetneg dan Seskab Follow Up Anggaran

    BOGOR - Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan besar untuk memperkuat pengembangan ekosistem olahraga nasional. Hal itu disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) E

  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:01

    Delegasi Malaysia Lirik Potensi Besar Kelapa Rangsang Meranti

    SELATPANJANG - Pasar internasional kembali melirik kekayaan alam Kabupaten Kepulauan Meranti. Perusahaan asal Malaysia, Grisek Jaya Sdn. Bhd, terjun langsung menjajaki peluang bisnis dan perdagangan k

  • Sabtu, 20 Jun 2026 15:05

    Bupati Tabanan Buka Festival Jatiluwih Ke-7, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pariwisata Lokal

    Bupati Tabanan, Bali, I Komang Gede Sanjaya, secara resmi membuka Festival Jatiluwih Ke-7 Tahun 2026 pada Sabtu, 20 Juni 2026. Acara ini akan berlangsung hingga Minggu, 21 Juni 2026, dengan tujuan uta

  • Sabtu, 20 Jun 2026 15:02

    Pemerintah Perluas Akses Internet Pendidikan dengan Starlink di Nias Utara: Solusi Daerah 3T

    Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat Akses Internet Pendidikan, khususnya di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T). Upaya ini diwujudkan melalui penye

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.