Rabu, 29 Apr 2026

Paradigma Pendidikan di Indonesia Belum Inklusif

Jumat, 04 Des 2015 08:36
Dok. Okezone
JAKARTA – Sistem pendidikan di Indonesia bagi penyandang disabilitas masih dinilai diskriminatif. Sebab, masih tampak beberapa pembeda antara pendidikan bagi penyandang disabilitas dengan siswa yang normal.

"Bahkan diskriminasi tak hanya di sekolah, tetapi juga di tingkat perguruan tinggi. Contohnya, aturan-aturan bagi penyandang tuna tertentu tidak boleh masuk, itu bentuk diskriminasi," ujar pemerhati pendidikan dan pengembang pendidikan karakter, Doni Koesoema, belum lama ini.

Pendidikan, kata Doni, harus dilaksanakan secara inklusif. Untuk itulah, hal pertama yang harus dilakukan adalah kesiapan pendidik, orangtua, dan siswa dalam mengubah paradigma.

"Paradigma membedakan siswa penyandang disabilitas dan siswa normal perlu diubah. Undang-undang yang berlaku saat ini sudah tidak relevan sehingga harus ada UU baru tentang penyandang disabilitas yang tidak ada tururnannya. Saat ini memang sudah ada draftnya, yakni sekira ada 500 pasal," tuturnya.

Doni mengungkapkan, tantangan mengubah paradigma sendiri adalah pendidikan. Menurutnya, pendidikan inklusif bisa berjalan kalau proses pendidikan juga berjalan di masyarakat. Maksudnya, penyandang disabilitas tak perlu merasa dikasihani dan yakin punya kemampuan yang sama dengan orang pada umumnya.

"Kalau di luar negeri penyandang disabilitas merasa mampu mengerjakan aktivitas sendiri. Orang yang mau membantu juga harus bilang dahulu. Kalau di Indonesia sebagian masih menggantungkan diri dan ingin dikasihani. Kondisi itu cocok dengan paradigma pemerintah dan orangtua yang selalu berbelaskasih," ucapnya.

Dia menambahkan, perlakuan tersebut tidak mendidik sehingga harus pelan-pelan diubah. Sementara orangtua, lanjut Doni, memasukkan anaknya ke sekolah luar biasa (SLB) disebabkan sekolah umum yang tidak mampu mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas.

"Harus ada rintisan sekolah yang inklusif. Sekarang yang terjadi sekolah tertentu yang diberi kebijakan inklusif melakukan, tapi yang tidak ya sudah. Padahal, pendidikan harus inklusif," tandasnya.

(okezone.com)
Pendidikan
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.