Sabtu, 20 Jun 2026
  • Home
  • Peristiwa
  • Belasan Kerbau Mati Mendadak di Kampar Meluas ke Tambang

Belasan Kerbau Mati Mendadak di Kampar Meluas ke Tambang

admin
Selasa, 27 Sep 2022 09:54
pekanbaru.tribunnews.com

KAMPAR - Kerbau mati mendadak meluas Kecamatan Tambang. Disbunnak Keswan Kampar mengungkap kronologisnya.

Wabah Kerbau mati mendadak tepatnya di Desa Kuapan.

Kabar ini tersiar ke berbagai penjuru Kampar.




Sebelumnya, fenomena ini geger di XIII Koto Kampar dan Koto Kampar Hulu.

Dua kecamatan tersebut berada dekat perbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat.

Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) Kampar, Syahrizal melalui Kepala Bidang Keswan Kampar, drh. Deyus Herman menegaskan bukan mati massal secara serentak.

"(Kerbau) mati mendadak. Bukan mati massal dalam waktu bersamaan," ungkap Deyus, Senin (25/9/2022).

Pihaknya masih mendata total hewan yang mati.

Saat dikonfirmasi, data sementara yang dihimpun dari petugas di lapangan sebanyak 17 ekor.



"Data ini belum terhimpun semua. Kita masih melakukan pendataan," katanya.

Menurut dia, berdasarkan keterangan yang digali, fenomena ini diperkirakan mulai terjadi sejak 18 September 2022.

Ia menduga kuat, Kerbau mati mendadak karena wabah bakteri Septicaemia Epizootica (SE) atau Kerbau Ngorok.

Hewan ternak yang mati terkonsentrasi di Desa Kuapan.


Lebih detilnya, kasus ini melanda hewan yang digembalakan di padang rumput sekitar 4 hektare.

Ia menjelaskan, dapat disimpulkan sementara bahwa hewan ternak yang diserang wabah berasal dari daerah endemi XIII Koto Kampar atau Koto Kampar Hulu.

Hewan ternak dari wilayah tersebut sampai ke Kuapan melalui jalur perdagangan.

Ada penjual yang membawa hewan berukuran besar dari daerah endemi.

"Kerbau yang besar ditukar dengan yang kecil ke XIII Koto Kampar atau Koto Kampar Hulu,," ujarnya. Lalu hewan yang besar dijual ke Kuapan.

Menurut Deyus, hal ini sudah dikhawatirkan bakal terjadi.



Sebab peternak di daerah endemi asal melakukan aksi jual besar-besaran hewan ternak mereka setelah kasus pertama terjadi pada 16 Agustus 2022 lalu.

"Masalahnya kan, kita nggak tau ke daerah mana dijual. Inilah sulitnya megontrol jalur perdagangannya," ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah bersama pihak terkait terus mengimbau agar tidak asal beli hewan ternak.

Pembeli perlu menelusuri asal hewan ternak yang dijual itu.




Editor: 1

Sumber: pekanbaru.tribunnews.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.