Berita satu.com
Warga Kabupaten Pandeglang, Banten, mengeluhkan kondisi lampu hias di kawasan Alun-alun Pandeglang yang sudah bertahun-tahun mati total tanpa adanya perbaikan.
Minimnya penerangan membuat pusat kota tersebut tampak gelap dan rawan disalahgunakan oleh para remaja untuk aktivitas tak terpuji seperti mesum atau tindakan asusila, Sabtu (23/8/2025).
Salah seorang warga asal Kecamatan Karang Tanjung Leli (48), yang kerap membawa keluarganya beraktivitas di alun-alun, mengaku resah. Ia menilai gelapnya kawasan tersebut membuat pasangan muda-mudi kerap memanfaatkan suasana untuk perbuatan yang tidak pantas.
"Kalau malam gelap banget, sering dimanfaatkan pasangan muda-mudi yang suka mojok enggak jelas. Dulu juga pernah ada kejadian pasangan ketahuan mesum sampai viral di sini," kata Leli, saat ditemui di Alun-alun Pandeglang, Minggu (23/8/2025).
Leli juga menilai kondisi tersebut berdampak pada keindahan kota. Menurutnya, alun-alun yang seharusnya menjadi tempat bermain bagi anak-anak dan keluarga kini tidak lagi nyaman.
"Kalau lampunya menyala lagi, suasananya pasti lebih bagus, lebih indah, dan remaja juga enggak berani macam-macam," ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang dapat segera memperbaiki fasilitas, terutama penerangan lampu hias, agar tidak menimbulkan tindakan asusila.
"Harapan saya sebagai warga Pandeglang, alun-alun ini bisa lebih diperhatikan, terutama lampu penerangannya. Kalau terang, suasana pasti lebih bagus lagi," harap Leli.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang, Winarno, mengakui pemeliharaan lampu hias merupakan tanggung jawab instansinya. Namun, keterbatasan anggaran membuat perbaikan terpaksa ditunda.
"Memang area alun-alun tanggung jawab DLH. Ada anggaran pemeliharaan, tetapi terbatas. Padahal lampu hias penting untuk mempercantik suasana kota di malam hari sekaligus menjaga keamanan," kata Winarno saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Winarno juga mengakui, minimnya penerangan berpotensi membuat alun-alun dijadikan tempat aktivitas yang tidak wajar. Meski begitu, Winarno tidak bisa menjelaskan secara terperinci mengapa lampu dibiarkan mati bertahun-tahun.
"Kenapa tidak diadakan lagi? Karena ada kendala anggaran. Kita utamakan program prioritas, baik sebelum masa Presiden Prabowo Subianto maupun sekarang. Pada 2026 nanti, kita akan usulkan kembali ke TAPD," jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Pertamanan DLH Kabupaten Pandeglang, Suprihatiningsih, membenarkan pada tahun ini tidak ada alokasi anggaran untuk pemeliharaan lampu hias. Bahkan kata dia, usulan perbaikan jaringan listrik bawah tanah senilai Rp 97 juta dicoret dari anggaran.
"Tahun ini enggak ada anggaran sama sekali. Kami sempat usulkan Rp 97 juta untuk ganti jaringan listrik bawah tanah yang hampir semuanya rusak, tetapi dihapus. Mudah-mudahan tahun depan bisa disetujui," ungkapnya.
Menurutnya, alun-alun yang berada di jantung kota seharusnya mendapat perhatian lebih serius. "Layaknya diberi anggaran yang memadai supaya bersih, indah, nyaman, dan lampu hias bisa kembali berfungsi," pungkasnya.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com
Peristiwa