Heboh Biduan Joget di Meja Saat Turnamen Golf Piala Gubernur Riau, Fraksi PKS : Beri Sanksi Panitia
Admin
Senin, 22 Agu 2022 14:34
PEKANBARU - Masyarakat Riau dihebohkan dengan beredarnya video saat perhelatan acara Turnamen Golf Piala Gubernur Riau dalam rangkaian acara HUT Riau ke-65.
Video Biduan joget di atas meja itu mengundang kritik dan kecaman dari berbgai pihak.
Karena dalam video itu ada aksi biduan menghibur peserta dengan mempertontonkan tarian erotis.
Sontak semua elemen masyarakat di Riau langsung bereaksi, karena acara tersebut sejatinya acara Pemerintah Provinsi Riau dengan memperebutkan piala Gubernur.
Termasuk kecaman dari Fraksi PKS DPRD Riau. Mereka melihat acara tersebut sudah jauh melenceng dari yang harusnya diperlihatkan anak kemenakan Melayu.
Ketua Fraksi PKS DPRD Riau Markarius Anwar mengatakan, untuk hal ini diharapkan pada gubernur untuk memberikan sanksi pada panitia penyelenggara turnamen tersebut.
Apalagi membawa nama gubernur.
"Fraksi PKS DPRD Riau tentunya sangat mengecam adanya tarian erotis, yang terjadi di agenda golf memperebutkan piala Gubernur Riau Syamsuar. Hal itu jelas tidak sesuai dengan budaya di daerah ini yang kental budaya Melayu. Karena itu kami harapkan pada gubernur untuk memberi sanksi panitia,"ujar Markarius.
Bendahara DPW PKS Riau ini menambahkan adanya tarian erotis yang digelar di satu lapangan Golf di Pekanbaru itu, jelas tidak sesuai dengan budaya bangsa.
"Inikan sudah jelas tidak sesuai dengan budaya bangsa, khususnya itu budaya melayu yang memegang erat nilai-nilai agama islam,"ujar Markarius.
Tentunya, lanjut Ketua Komisi III DPRD Riau ini, aksi ini dapat mencoreng nama baik Gubernur Riau sebagai orang nomor satu di Bumi Lancang Kuning.
"Untuk itu, harus ada ketegasannya Syamsuar agar segera memberi sanksi ke pihak panitia, supaya kejadian tersebut tidak terulang kembali,"jelas Markarius.
Senada dengan Markarius Anwar, Sekretaris Fraksi PKS DPRD Riau Arnita Sari, juga menyayangkan adanya tarian erotis tersebut.
Menurutnya kejadian itu merupakan bentuk pelecehan terhadap perempuan dan bentuk eksploitasi pada perempuan.
"Kami berharap pemerintah dapat melindungi perempuan dari tindakan eksploitasi, baik secara individu, maupun kelompok para pelaku kesenian. Kita harus wariskan pendidikan positif kepada generasi muda,"ujar Arnita Sari.