Rabu, 06 Mei 2026
  • Home
  • Sosial
  • Jumlah Hewan Kurban di Kampar Justru Naik dari Tahun Lalu Meski Ada Wabah PMK

Jumlah Hewan Kurban di Kampar Justru Naik dari Tahun Lalu Meski Ada Wabah PMK

Admin
Senin, 11 Jul 2022 15:50
pekanbaru.tribunnews.com

KAMPAR - Efek Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) terhadap ketersediaan hewan kurban yang dikhawatirkan jelang Hari Raya Idul Adha tak terbukti.

Jumlah hewan kurban di Kampar malah naik dari tahun lalu.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) Kampar, kenaikannya mencapai 13 persen. Lebih besar dari perkiraan.

Kepala Disbunnak Keswan Kampar, Syahrizal melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh. Deyus Herman mengemukakan, jumlah hewan kurban yang sudah disembelih hingga Minggu (10/7/2022) sebanyak 8.638 ekor.

Terdiri dari Sapi sebanyak 3.913 ekor, Kerbau 3.850 ekor dan Kambing 875 ekor.

"Kemungkinan ada penambahan lagi yang disembelih hari ini dan besok (Selasa, 12/7/2022) terakhir," ujarnya pada , Senin (11/7/2022).

Tahun 2021, total jumlah hewan kurban sebanyak 7.506 ekor. Pun naik dari tahun 2020 yang totalnya sebanyak 5.428 ekor.

Menurut Disbunnak Keswan, kenaikan tahun 2021 itu di luar dugaan sebab perekonomian masyarakat dihantam pandemi Covid-19.

Pada tahun ini, ia mengestimasi, kenaikannya hanya sekitar 3 sampai 4 persen dari 2021. Tetapi justru jauh di atas perkiraan. "Kenaikan tahun ini sungguh di luar perkiraan kita," katanya.

Deyus mengatakan, wabah PMK memang mengganggu arus pengiriman hewan kurban dari daerah asal. Seperti Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Namun antusiasme masyarakat untuk berkurban amat besar.

"Ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk berkurban meningkat. PMK hanya mengganggu lalu lintas pengiriman," katanya. Gangguan pada arus pengiriman diatasi dengan dispensasi pengetatan bagi hewan yang peruntukannya khusus kurban.

Menurut dia, kenaikan jumlah hewan kurban dikarenakan perekonomian meningkat. Kenaikan signifikan seperti terjadi seperti di Kecamatan Tambang dan Tapung.

"Ada di satu masjid di (Kecamatan Tambang) yan tahun lalu 20 ekor, tahun ini jadi 40 ekor," ungkapnya. Pertumbuhan ekonomi itu paling nampak dirasakan masyarakat petani sawit.

Ia mengatakan, harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit memang sedang anjlok. Tetapi belum lama berlalu saat harga Sawit sangat tinggi.

Anjloknya harga Sawit juga tidak mengurungkan niat masyarakat untuk berkurban.

"Walaupun sekarang harga sawit anjlok, tetapi mungkin masyarakat sudah menabung untuk berkurban pas harga sawit tinggi," pungkasnya

Sumber: pekanbaru.tribunnews.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.