Terima Penghargaan Nirwasita Tantra, Bupati Siak Ajak Masyarakat Selamatkan Lingkungan
Admin
Kamis, 21 Jul 2022 16:44
SIAK - Bupati Siak Alfedri menerima penghargaan Nirwasita Tantra dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu (20/7/2022) di auditorium Dr Ir Soejarwo, gedung Manggala Wana Bakti, Jakarta.
Bupati Alfedri satu-satunya kepala daerah dari Provinsi Riau yang mendapatkan penghargaan bergengsi ini.
Nirwasita Tantra adalah penghargaan dari Kementerian LHK yang diberikan kepada kepala daerah atas kepemimpinannya dalam merumuskan dan menerapkan kebijakan dan/atau program kerja, sesuai dengan prinsip metodologi pembangunan berkelanjutan, guna memperbaiki kualitas lingkungan hidup di daerah.
Nirwasita Tantra diberikan kepada pemimpin daerah, kabupaten kecil, sedang, dan besar, kemudian kota kecil, sedang, dan besar.
Selain itu juga diberikan kepada provinsi, termasuk ke lembaga legislatifnya.
Bupati Alfedri mengajak masyarakat kabupaten Siak untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Ia juga mendorong generasi muda untuk berpartisipasi aktif dalam tindakan pelestarian alam dengan melahirkan inovasi dalam menjaga lingkungan.
“Alhamdulillah, kebijakan kita selama ini memang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai priorotas terhadap pembangunan berkelanjutan,” kata Bupati Siak Alfedri didampingi Asisten II Setdakab Siak Hendrisan.
Ia menyadari lingkungan yang ditinggali saat ini akan diwariskan kepada generasi berikutnya, hingga ke anak cucu. Ia ingin meninggalkan legacy lingkungan yang sehat dengan kesadaran yang tinggi untuk ikut bertanggungjawab melestarikannya.
“Prioritas kita tidak untuk mendapatkan penghargaan, namun penghargaan ini akan menambah motivasi kita dalam misi penyelamatan dan pelestarian lingkungan. Ada atau tidaknya penghargaan marilah kita semua senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan kita,” kata dia.
Selain itu, Alfedri juga telah menempatkan leadershipnya selama ini untuk penyelamatan lingkungan hidup dan kehutanan. Ia mengakui kunci utama dalam penyelamatan lingkungan dan kehutanan itu adalah leadership di daerah.
Bupati Alfedri juga telah menggaungkan investasi hijau hingga ke tingkat nasional. Investasi hijau yang dimaksud adalah penanaman modal yang mendukung pelestarian alam.
“Kita punya program besar namanya Siak Hijau, sebagai upaya pelestarian lingkungan. Program ini menjadi acuan bagi investor sehingga seluruh investor yang masuk mengacu kepada regulasi Siak Hijau, itulah yang kita namakan investasi hijau,” kata Alfedri, ssbelumnya.
Terkait investasi hijau ini sudah dipaparkannya di forum Presidensi G20 di Solo bulan lalu.
Dalam paparan itu, ia menguraikan Kabupaten Siak memiliki lanskap bentang alam hutan dan lahan gambut yang cukup luas, hampir 60 persen area total administrasi.
Pada 2015, Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang cukup dahsyat. Rata-rata lahan yang terbakar adalah lahan gambut.
“Kala itu total kerugian negara kita yang jika ditaksir mencapai 2,7 juta hektare atau setara 6 juta USD. Siak ikut memberi kontribusi atas kerugian itu sebagai akibat Karhutla itu. Masyarakat terserang ISPA, ekonomi lumpuh dan anak -anak terpaksa diliburkan dari sekolah,” kata dia.
Perjalanan Pemkab Siak untuk memastikan melindungi hutan dan gambut serta memastikan kesejahteran masyarakat telah berlangsung cukup lama. Upaya itu dilakukan dengan serius hingga saat ini.
Buah dari keseriusan itu pada 2018 Pemkab Siak menerbitkan Peraturan Bupati (Perbub) tentang Siak Hijau. Seiring berjalannya waktu Perbup tersebut ditingkatkan menjadi Peraturan Daerah (Perda). Perda tersebut menjadi aturan atau pedoman bagi pemangku kepentingan di Siak.
”Regulasi itu menjadi pedoman seluruh stakeholder bagaimana pengelolaan sumberdaya alam yang baik berkelanjutan dan lestari sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat,” kata dia.
Alfedri mengatakan, target utama Perda tersebut adalah alam di kabupaten Siak bisa dikelola secara berkelanjutan tanpa merusak. Pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan ekonomi juga dapat meningkatkan PAD.
“Di mana-mana kami selalu menegaskan, bahwa program Siak Hijau ini bukan sekadar program popularitas, tetapi program ini wajib direalisasikan hingga tingkat tapak,” kata dia.
Pihaknya melakukan pendekatan dengan rantai pasok memanfaatkan lahan gambut seperti budidaya nanas, sagu, dan pembuatan albumin yang bahan bakunya ikan gabus. Albumin adalah ekstraksi kulit ikan gabus.
“Jadi perusahaan yang memproduksi ikan gabus tersebut saat ini sedang mengembangkan pembudidayaan ikan gabus di kanal dan embung gambut. Jadi kanal atau embung antisipasi Karhutla dapat bermanfaat untuk bahan baku albumin,” kata dia.
Untuk mendorong program Investasi hijau, Pemkab Siak berkolaborasi dengan semua pihak pemerintah masyarakat swasta dan para pemerhati lingkungan dan LSM. Salah satu Portofolio yang ada di Siak yaitu PT Alam Siak Lestari yang memproduksi albumin, keberadaanya melibatkan para dokter dan komunitas anak Siak yang membatu produksi albumin ini.
Sedangkan di kawasan perkotaan atau pemukiman padat Alfedri juga telah membangun ruang terbuka publik berupa taman-taman hijau. Ruang Terbuka Publik ini tidak hanya terfokus di ibukota kabupaten saja tetapi juga dibangun di wilayah kecamatan-kecamatan.