Travel
Menilik Filosofi Patung Gajah Duduk di Kompleks Gua Sunyaragi Cirebon
Rabu, 20 Mar 2019 09:36
JIKA berkunjung ke Kota Cirebon, mungkin tidak akan lengkap kalau tidak berkunjung ke Taman Sari Gua Sunyaragi. Tempat ini bisa juga disebut Gua Sunyaragi, dan menjadi destinasi wisata favorit di Cirebon.
Gua Sunyaragi sendiri terdiri dari berbagai gua buatan dan ruangan. Biasanya, gua-gua tersebut diberi nama, yang didalamnya mengandung makna tentang filosofi kehidupan.
Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah, sebuah patung gajah duduk yang terletak di dekat mulut Gua Peteng di Kompleks Gua Sunyaragi. Patung ini terbuat dari batu karang, dengan ketinggian sekitar 1,5 meter.
Menurut Pemerhati Budaya dan Sejarah Cirebon, sekaligus pengelola Gua Sunyaragi, Jajat Sudrajat menjelaskan, kalau patung gajah duduk tersebut, dulunya digunakan untuk menyemburkan air, saat para putra putri keraton yang sedang mandi di sekitarnya.
Jajat mengungkapkan, pada zaman dahulu Gua Sunyaragi merupakan taman air yang dikelilingi oleh danau. Biasanya tempat ini akan digunakan oleh keluarga Keraton untuk menyucikan diri maupun bersemedi.
"Dulu Gua Sunyaragi ini adalah taman air di tengah danau, " kata Jajat, saat ditemui Okezone, Selasa (19/3/2019).
Lebih lanjut, Jajat menerangkan, patung gajah duduk memiliki hubungan erat, dengan dua buah lukisan burung yang terletak di sebelah utara, dan satu di sebelah selatan di atas ruang panembahan.
Dalam Bahasa Cirebon, patung gajah duduk dan lukisan burung tersebut memiliki pribahasa 'kuntul umalayang anedaksi, gajah depa tanedaksi', yang berarti, 'burung kuntul pergi meninggalkan bekas, gajah tidur tidak meninggalkan bekas'.
Menurut Jajat makna filosofi yang terkandung didalamnya adalah, dua lukisan burung itu adalah simbol putra-putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, yaitu Pangeran Walang Sungsang serta Nyi Mas Rara Santang, yang memilih pergi dari Pajajaran, dan meninggalkan bekas berupa keturunan serta keraton-keraton Islam. Sedangkan patung gajah duduk, menandakan, jika bekas Kerajaan Pajajaran hingga saat ini tidak diketahui.
Terakhir, Jajat menambahkan, sebenarnya alasan mengapa lukisan burung di Gua Sunyaragi berjumlah dua, sedangkan anak Prabu Siliwangi ada 3, karena si bungsu atau yang biasa kita kenal dengan nama Kian Santang itu pergi, untuk membangun sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kota Sumedang. Padahal, dalam babad, ia merupakan pewaris sah tahta Kerajaan Pajajaran.
"Hanya dua yang meninggalkan bekasnya," pungkasnya.
Sumber: okezone.com
Belanda Pecahkan Rekor Tak Terkalahkan di Piala Dunia Usai Bantai Swedia 5-1
HOUSTON - Timnas Belanda memecahkan rekor tak terkalahkan terpanjang sepanjang gelara Piala Dunia. Kemenangan 5-1 atas Swedia pada Minggu (21/6/2026) dini hari membuat The Oranje mencetak re
Respon Keluhan Warga, Pemprov Riau Langsung Perbaiki Jalan Rusak Simpang Perak Pelalawan
PEKANBARU - Keluhan warga soal jalan rusak dan berlubang di Ruas Simpang Perak, Kabupaten Pelalawan, akhirnya mendapat respons nyata dari Pemerintah Provinsi Riau. Dinas Pekerjaan Umum, Penataan
200 Peserta Meriahkan Festival Gasing se Riau di Kabupaten Inhu
RENGAT - Gasing merupakan olahraga tradisional masyarakat Riau. Untuk melestarikan dan mengembangkan permainan gasing di tengah masyarakat, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menggelar festiva
Tabrakan Beruntun di Kuansing, Seorang Pelajar Tewas di Lokasi Kejadian
KUANSING â€" Kecelakaan lalu lintas beruntun yang melibatkan lima kendaraan terjadi di Jalan Kabupaten, Desa Seberang Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Sabtu (20/
Bupati Suhardiman Gandeng Wabup Inhu Tinjau Arena MTQ Riau, Pastikan Kuansing Siap Ukir Sejarah
KUANSING â€" Keseriusan Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dalam menyukseskan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 tingkat Provinsi Riau terus ditunjukkan.Bupati Kuansing, Suhardiman Am