Travel
Objek Wisata Susur Terowongan Menembus Bukit, Bakal Ada di Klaten
Sabtu, 23 Mar 2019 08:54
PEMERINTAH Desa (Pemdes) Jotangan, Kecamatan Bayat, Klaten, berencana menyulap terowongan saluran irigasi yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda sebagai objek wisata air yang menarik di waktu mendatang.
Wisata dengan menyusuri terowongan saluran irigasi yang berada di bawah bukit Pegat kawasan Rawa Jombor itu diklaim bakal menjadi objek wisata air tiada duanya di Jateng.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Pemdes Jotangan di bawah kendali Supono selaku penjabat (Pj) kepala desa (kades) sejak 26 September 2018 mulai melakukan gebrakan di desa.
Salah satunya mendirikan Badan Usaha Milik (BUM) Desa dalam beberapa waktu terakhir. Berbekal BUM Desa itu, Pemdes Jotangan ingin membangun unit usaha, yakni objek wisata air. Kebetulan, di Jotangan ada saluran irigasi yang sumber airnya dari Rawa Jombor.
Panjang saluran irigasi dari Rawa Jombor-Jotangan lebih dari 1,5 kilometer. Lebar saluran irigasi itu sekitar dua meter. Saat melintasi Desa Jotangan, saluran irigasi itu melalui terowongan irigasi yang menembus bukit Pegat tak jauh dari Rawa Jombor.
Di antara terowongan itu terdapat celah udara. Oleh warga setempat, celah udara itu disebut "sumur". "Sesuai hasil musyawarah warga, kami ingin memanfaatkan saluran irigasi di bawah bukit Pegat sebagai objek wisata. Jika berhasil, wisata menyusuri terowongan di Jotangan ini digadang-gadang menjadi satu-satunya di Jateng," jelas kata Pj. Kades Jotangan, Supono, saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (20/3/2019).
Terowongan saluran air di Jotangan sepanjang 300 meter sudah tertata rapi. Atap terowongan sudah disemen. Pintu masuk terowongan di bagian hilir berdiameter 1,5 meter.
Supono mengatakan di antara terowongan saluran irigasi itu ada rongga udara. Masyarakat di Jotangan biasa menyebut dengan sumur.
"Ada tiga sumur di Jotangan. Dua sumur berbentuk lingkaran. Satu sumur berbentuk kotak [sumur yang lain berada di Krakitan, berbentuk lingkaran]. Nantinya, susur terowongan ini akan diawali di sumur dengan diameter terbesar [sekitar 10 meter]. Susur terowongan menggunakan ban diproyeksikan bagi wisatawan yang suka tantangan. Bagi anak-anak atau para ibu, kami siapkan susur saluran irigasi seperti tubing di bagian hilir di Jotangan," katanya.
Anggota BUM Desa Jotangan, Sigit Budi, 36, mengatakan saluran irigasi di Jotangan dibangun pada zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1924. Hingga sekarang, bangunan konstruksi saluran irigasi itu masih kokoh termasuk terowongan irigasi yang menembus bukit Pegat.
"Terowongan saluran irigasi yang di Jotangan sudah tertata rapi. Atapnya sudah disemen. Kalau yang berada di Krakitan masih alami. Atap terowongan di Krakitan ada stalagtit. Sebagai tahap awal, kami fokus mempercantik pintu keluar terowongan dan masing-masing sumur. Sumber anggaran dari dana desa senilai Rp270 juta," ujar dia.
Pengembangan objek wisata air itu untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ke depannya Jotangan akan menggandeng desa lain, seperti Krakitan dan Krikilan untuk pengembangan objek wisata itu.
Sigit Budi mengatakan pengembangan wisata susur terowongan saluran irigasi di Jotangan akan dipadukan dengan objek wisata alam yang sudah ada, seperti bukit Randu Kombolo dan Watu Sepur.
"Membangun objek wisata dibutuhkan waktu lama. Paling tidak butuh lima tahun. Kami mengawali dari sekarang. Di puncak bukti Pegat juga akan disiapkan flying fox dan menara pandang dengan view Rawa Jombor. Total dana yang dibutuhkan minimal Rp1,5 miliar. Dengan memadukan objek wisata yang ada, semoga Jotangan dikenal masyarakat luas," katanya.
Salah satu warga Jotangan, Romi, 29, mengaku sudah menyusuri terowongan sepanjang 300 meter di daerahnya berulang kali. Romi menyusuri terowongan guna mencari ikan.
"Kondisi di dalam sangat gelap. Saya menyusuri dengan jalan kaki.
Ikannya memang banyak. Sekali menyusuri, biasanya memperoleh ikan satu
karung [karung berukuran 25 kilogram]. Jenis ikannya nila, gurameh, dan
lele. Terowongan saluran air yang di Jotangan memang sudah tertata rapi.
Kalau di Krakitan atapnya masih tanah. Lantaran sudah lama, sudah
muncul stalaktit juga. Saat menyusuri terowongan irigasi itu, saya tidak
menemukan hewan liar seperti ular," katanya.
Sumber: okezone.com
Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Nobar Piala Dunia 2026 Bersama Masyarakat
Mulia-Kodim 1714/Puncak Jaya menggelar kegiatan Nonton Bersama (Nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 bersama masyarakat Kabupaten Puncak Jaya, pada Minggu (21/06/2026). Kegiatan ini diselenggara
7 Fakta BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan ini ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur Bank In
PLN Percepat Pemulihan Pembangkit, Pasokan Batu Bara Diperkuat
JAKARTA â€" PT PLN (Persero) terus mempercepat langkah-langkah pengamanan keandalan sistem kelistrikan, khususnya di Pulau Jawa, melalui percepatan pemulihan pembangkit yang mengalami gangguan op
Ngeri! Wanita 52 Tahun Kena Kanker Kulit Karena Sering Menicure
JAKARTA - Perawatan kuku dengan cat gel dan lampu UV memang menjadi tren kecantikan yang digemari banyak wanita. Namun, sebuah laporan medis mengungkap kasus mengejutkan seorang wanita berusia 52
Tiba-Tiba Panik Lupa Matiin Kompor hingga Kunci Pintu saat Pergi? Ini Penjelasan Medisnya dari Dokter
JAKARTA â€" Pernah merasa panik di tengah perjalanan karena tiba-tiba ragu apakah kompor sudah dimatikan atau pintu rumah sudah dikunci? Meski sering dikaitkan dengan gejala pikun, kond