Jam Tangan Syahrini yang Harganya Miliaran
Jumat, 20 Nov 2015 11:13
Syahrini menjadi bete dituding memakai jam tangan mahal itu karena ada sponsor, bukan miliknya sendiri.
"Nggak juga (disponsori) tuh," kata Syahrini disela menghadiri jumpa pers SCTV Awards 2015 di SCTV Tower, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/11) sore.
Meski menolak disebut pamer karena sedang memakai jam mahal, gaya dan aksi Syahrini setiap memajang foto di akun Instagram tetap menghebohkan agar di cap glamor.
"Di IG (Instagram), saya nggak pernah komentar apa pun soal harga (jam). Kalau ada kerja sama dengan manajemen, ya paling saya mention ke IG-nya (jam). Jelas ya," ucap Syahrini yang menolak menjelaskan harga jam tangan Richard Mille miliknya. Tak dijelaskan pula jenis jam Richard Mille milik dara bernama asli Rini Fatimah Jaelani itu.
Richard Mille merupakan merek jam tangan Swiss dari perusahaan dengan nama yang sama yang didirikan dan dimiliki pengusaha asal Perancis, Richard Mille. Merek jam tangan ini terkenal dengan harganya yang super mahal.
Jam tangan Richard Mille terkenal karena teknologi yang merupakan mekanisme tourbillon (meningkatkan akurasi pada jam tangan).
Desain khusus dan bahan berkualitas membuat harga jam tangan Richard Mille benar-benar mahal. Dilansir dari The Richest. Richard Mille tipe Bubba Watson's RM 38 misalnya, dipatok seharga 500.000 dolar AS atau setara Rp 5,8 Miliar.
Atau, tipe Rafael Nadal RM 027 yang dihargai 600.000 dolar atau Rp 6,9 Miliar, hingga tipe Panda RM 026-1 yang dibanderol harga 1.592.919 dolar atau Rp 18,5 Miliar.
Daripada bete menceritakan jam tangan mahalnya, Syahrini lebih senang berbagi cerita jalan-jalannya ke luar Indonesia yang rutin dilakukan hampir setiap sebulan sekali. Namun, gara-gara aksi para pelaku teror yang meledakkan lima tempat terpisah di Kota Paris, Perancis, Jumat pekan lalu, Syahrini mengaku ketakutan jalan jauh, setidaknya untuk sementara waktu.
Penyanyi pop sensasional itu kerap meninggalkan Indonesia dan berpergian terutama Eropa dan Amerika Serikat. Teror bom yang menewaskan hingga 129 orang dan tujuh pelaku teror, serta melukai ratusan orang di Paris itu membuat Syahrini terpaksa menunda sementara jalan-jalannya ke Benua Biru. Syahrini berharap, kondisi keamanan di Eropa, terutama Paris, membaik.
"Khawatir pasti ada. Sekarang mau ke Eropa juga mikir, agak takut, banyak isu beredar yang nggak jelas disana," kata Syahrini
yang selalu mampir ke Paris saat berada di Eropa. Gimmick 'maju mundur
cantik' itu dilakukannya ketika ada di sekitar Menara Eiffel, setahun
lalu. Namun, dalam waktu dekat ini Syahrini memang tidak ada rencana 'terbang' jauh hingga Eropa. "Akhir tahun jalan-jalan ke tempat bersalju aja," katanya.
(tribunnews.com)
Kemendes PDT dan FAO Gelar Pelatihan Perkuat Tata Kelola Sistem Pangan Berkelanjutan
JAKARTAâ€" Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), hari ini meluncurkan program pelatih
Spesialis Curanmor Dibekuk Polsek Ukui, Dadung Beraksi Dua Kali dengan Komplotan Berbeda
PELALAWAN â€" Unit Reskrim Polsek Ukui berhasil membongkar dua kasus pencurian sepeda motor (curanmor) yang terjadi di wilayah Kecamatan Ukui. Dari pengungkapan tersebut, polisi menangkap pelaku utama
LPSK Bentuk Tim Pengawal Kasus Kematian Dokter Icha
JAKARTA - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengerahkan tim untuk mengawal kasus kematian Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr Icha. Hal itu dilakukan untuk mendalami perkara yang
Dipercaya 23,3 Juta Pengusaha Ultra Mikro, Ini Rahasia Tata Kelola PNM dari Hulu ke Hilir
Survei lembaga riset independen INDEKSTAT 2025 mencatat pendapatan bersih nasabah PNM Mekaar meningkat dari Rp2,02 juta menjadi Rp2,90 juta per bulan, atau bertambah sekitar Rp875 ribu setiap bulan, d
OJK Serius Tanggapi Peringatan MSCI Terkait Risiko ke Frontier Market
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan keseriusan merespons peringatan lembaga indeks global MSCI terkait potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontie