JAKARTA â€" Pasar modal Indonesia sedang berada dalam posisi terjepit. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung rontok 7,3 persen ke level 8.320,56 setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) melayangkan peringatan keras terkait transparansi data kepemilikan saham di Tanah Air.
Lembaga indeks global tersebut memberikan tenggat waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk membenahi data kepemilikan saham. Jika gagal memenuhi standar transparansi yang diminta, klasifikasi pasar saham Indonesia terancam turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengakui bahwa data yang disodorkan otoritas pasar modal saat ini dinilai belum memenuhi metodologi transparansi MSCI. Jika penurunan peringkat ini benar-benar terjadi, posisi Indonesia akan merosot dan berada sejajar dengan negara seperti Vietnam dan Filipina.
“Apabila transparansi data yang mereka harapkan tidak terpenuhi sampai dengan bulan Mei, MSCI akan menurunkan peringkat Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market,” ujar Iman di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Fokus utama MSCI adalah keterbukaan data kepemilikan saham di bawah 5 persen yang selama ini dianggap kurang transparan. Saat ini, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI tengah berupaya keras merapikan data tersebut agar sesuai dengan tuntutan pasar global.
Iman mengeklaim bahwa langkah pemenuhan data ini bukan sekadar untuk menyenangkan MSCI, melainkan demi penguatan industri pasar modal nasional secara keseluruhan. Namun, tekanan pasar sudah terasa lebih dulu melalui aksi jual yang membuat indeks merosot tajam.
“Transparansi data ini bukan hanya baik untuk MSCI, tetapi juga baik untuk pasar modal Indonesia,” tuturnya.
Meski dihantam sentimen negatif, BEI memastikan bahwa dalam periode Februari hingga Mei 2026 tidak akan ada perubahan langsung pada konstituen maupun bobot Indonesia di indeks MSCI. Pangsa pasar Indonesia yang saat ini berada di angka 1,5 persen dipastikan tetap bertahan selama proses pembenahan data berlangsung. Kini, pelaku pasar menunggu apakah otoritas mampu memenangkan kepercayaan investor global sebelum batas waktu berakhir.***
Lembaga indeks global tersebut memberikan tenggat waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk membenahi data kepemilikan saham. Jika gagal memenuhi standar transparansi yang diminta, klasifikasi pasar saham Indonesia terancam turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengakui bahwa data yang disodorkan otoritas pasar modal saat ini dinilai belum memenuhi metodologi transparansi MSCI. Jika penurunan peringkat ini benar-benar terjadi, posisi Indonesia akan merosot dan berada sejajar dengan negara seperti Vietnam dan Filipina.
“Apabila transparansi data yang mereka harapkan tidak terpenuhi sampai dengan bulan Mei, MSCI akan menurunkan peringkat Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market,” ujar Iman di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Fokus utama MSCI adalah keterbukaan data kepemilikan saham di bawah 5 persen yang selama ini dianggap kurang transparan. Saat ini, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI tengah berupaya keras merapikan data tersebut agar sesuai dengan tuntutan pasar global.
Iman mengeklaim bahwa langkah pemenuhan data ini bukan sekadar untuk menyenangkan MSCI, melainkan demi penguatan industri pasar modal nasional secara keseluruhan. Namun, tekanan pasar sudah terasa lebih dulu melalui aksi jual yang membuat indeks merosot tajam.
“Transparansi data ini bukan hanya baik untuk MSCI, tetapi juga baik untuk pasar modal Indonesia,” tuturnya.
Meski dihantam sentimen negatif, BEI memastikan bahwa dalam periode Februari hingga Mei 2026 tidak akan ada perubahan langsung pada konstituen maupun bobot Indonesia di indeks MSCI. Pangsa pasar Indonesia yang saat ini berada di angka 1,5 persen dipastikan tetap bertahan selama proses pembenahan data berlangsung. Kini, pelaku pasar menunggu apakah otoritas mampu memenangkan kepercayaan investor global sebelum batas waktu berakhir.(grc)
Berita