Selasa, 21 Jul 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Lampaui Standar Nasional, Produktivitas Petani Mitra PalmCo Tembus 23 Ton Per Hektare

Ekbis

Lampaui Standar Nasional, Produktivitas Petani Mitra PalmCo Tembus 23 Ton Per Hektare

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 21 Jul 2026 11:04
PEKANBARU - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dijalankan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo berhasil meningkatkan produktivitas petani mitra hingga melampaui standar nasional. Rata-rata hasil panen mencapai 20,18 ton per hektare, bahkan sejumlah kelompok tani mampu menembus angka 23 ton pada usia tanaman menghasilkan ketiga.

Angka tersebut berada di atas standar Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang menetapkan 19 ton per hektare per tahun. Capaian ini dipaparkan oleh Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda yang mewakili Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa dalam diskusi panel di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (1/7/2026). Acara tersebut dipimpin oleh Ketua Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia, Rusman Heriawan.


Arya menjelaskan, peningkatan produktivitas petani merupakan inisiatif utama mengingat 42 persen areal perkebunan sawit nasional dikelola oleh rakyat. Di sisi lain, kebutuhan minyak kelapa sawit domestik terus bertambah seiring rencana implementasi mandatori biodiesel B50 yang diproyeksikan menyerap 15,1 juta ton Crude Palm Oil (CPO) per tahun mulai semester II/2026.

"Di tengah meningkatnya kebutuhan CPO untuk pangan dan energi, peningkatan produktivitas menjadi satu-satunya jalan yang paling realistis. Kita tidak lagi berbicara tentang perluasan lahan, melainkan bagaimana lahan yang ada dapat menghasilkan lebih banyak dan memberikan kesejahteraan yang lebih besar kepada petani," papar Arya.


Ia menguraikan, produktivitas perkebunan rakyat kerap tertinggal dari perkebunan besar akibat keterbatasan akses terhadap bibit unggul, pembiayaan, teknologi budidaya, serta kapasitas kelembagaan koperasi. Kondisi ini membuat biaya produksi lebih tinggi dan menekan pendapatan yang diterima petani.

Menjawab tantangan tersebut, PalmCo menerapkan model kemitraan manajemen tunggal (single management). Pola ini memadukan pengelolaan kebun antara perusahaan dan petani dengan standar operasional yang terarah, mulai dari perencanaan, penggunaan bibit unggul, pemupukan, pemeliharaan, hingga pemasaran hasil panen. Perusahaan juga bertindak sebagai pendamping teknis dan penjamin produksi (avalis) untuk memastikan kepastian pasar.

Hingga Mei 2026, total kemitraan sawit rakyat yang dibina PalmCo mencapai 52.480 hektare. Luasan tersebut mencakup program revitalisasi dan PSR yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Dari total tersebut, areal tanaman menghasilkan tercatat seluas 19.144 hektare. Salah satu capaian tertinggi ditorehkan oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Makarti Jaya di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, yang mencatatkan produktivitas 23,94 ton per hektare.

Peningkatan hasil panen ini berimbas langsung pada perekonomian petani. Melalui pola kemitraan, pendapatan rata-rata petani mencapai Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan. Selain itu, saldo koperasi secara tahunan tercatat mencapai Rp3 miliar hingga Rp5 miliar.

Sebagai perusahaan yang aktif mendampingi PSR, PalmCo telah merealisasikan peremajaan seluas 36.681 hektare sepanjang periode 2024â€"2025. Perusahaan menargetkan tambahan 64.176 hektare pada rentang 2026â€"2029 yang akan melibatkan sekitar 32.000 kepala keluarga. Keberhasilan ini dinilai akan menjadi kunci menjaga pasokan CPO nasional yang diproyeksikan melonjak dari 27,45 juta ton pada 2026 menjadi 38,83 juta ton pada 2036.

Pendekatan kemitraan ini mendapat respons positif dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir). Ketua DPP Aspekpir, Setiyono menyebutkan bahwa pola kerja sama menciptakan ekosistem yang saling membutuhkan antara perusahaan, koperasi, dan pemerintah.

"Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan, dan bermitra dengan PTPN IV merupakan pilihan yang tepat," tegas Setiyono saat peluncuran buku "Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi".

Melalui skema ini, petani didorong untuk menerapkan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) sesuai standar. Penerapan standar budidaya ini menjadi faktor krusial untuk menjaga daya saing industri kelapa sawit Indonesia di tengah tuntutan pasar global yang terus meningkat.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/lampaui-standar-nasional-produktivitas-petani-mitra-palmco-tembus-23-ton-per-hektare.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki