Senin, 04 Mei 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Mengenal Fenomena Rojali yang Bikin UMKM Ketar-ketir

Ekonomi,

Mengenal Fenomena Rojali yang Bikin UMKM Ketar-ketir

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 22 Jul 2025 15:44
Berita satu.com
Media sosial kembali dihebohkan dengan istilah baru bernama rojali, singkatan dari rombongan jarang beli. Istilah ini tidak sekadar menjadi tren bahasa di dunia maya, tetapi mencerminkan fenomena sosial dan ekonomi yang semakin nyata di tengah masyarakat urban.

Di balik istilah yang terkesan lucu dan ringan ini, terdapat refleksi akan perubahan pola konsumsi masyarakat yang terjadi akibat tekanan ekonomi dan melemahnya daya beli.

Apa Itu Fenomena Rojali?
Fenomena rojali menggambarkan kebiasaan sekelompok orang yang datang berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan, restoran, atau kafe, tetapi tidak melakukan pembelian yang berarti. Mereka hanya duduk, bersantai, berfoto, menikmati Wi-Fi gratis, pendingin udara, dan suasana tempat, tanpa benar-benar melakukan transaksi apa pun.

Kehadiran mereka cenderung memanfaatkan fasilitas tanpa memberi kontribusi pendapatan kepada pemilik usaha. Istilah ini semakin populer di berbagai platform media sosial, seperti TikTok, Instagram, hingga X (dahulu Twitter). Banyak warganet menggunakan istilah ini sebagai bentuk kritik sekaligus sindiran kepada pengunjung tukang nongkrong yang tidak membeli.

Tidak sedikit pelaku UMKM dan pemilik bisnis pada sektor food and beverage (F&B) yang mulai merasa resah dengan keberadaan rojali. Mereka memanfaatkan fasilitas, seperti kursi, meja, listrik, dan internet yang seharusnya digunakan pelanggan aktif, tetapi tanpa melakukan transaksi yang menghasilkan pendapatan.

Dalam jangka panjang, kehadiran rojali dapat menyebabkan bisnis mengalami stagnasi. Terlebih, usaha kecil dan menengah di sektor kuliner sangat bergantung pada volume transaksi harian. Penggunaan fasilitas tanpa adanya pembelian nyata bisa menyebabkan kerugian yang tak terlihat secara langsung, tetapi berdampak signifikan terhadap kesehatan finansial usaha.

Fenomena Rojali tidak bisa dilepaskan dari persoalan ketimpangan ekonomi. Banyak masyarakat urban mengaku hanya sekadar refreshing di pusat perbelanjaan karena tidak mampu membeli barang-barang yang semakin mahal. Harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi terus meningkat, sedangkan pendapatan masyarakat cenderung stagnan. Akibatnya, masyarakat memprioritaskan kebutuhan pokok daripada pengeluaran untuk gaya hidup konsumtif.

Rojali menjadi bukti masyarakat Indonesia semakin selektif dalam mengelola pengeluaran. Banyak orang lebih memilih sekadar mencari pengalaman sosial, kenyamanan tempat, hingga konten media sosial, tanpa harus membeli produk atau layanan yang ada.

Pada akhirnya, istilah rojali bukan hanya fenomena sementara atau sekadar istilah lucu di media sosial. Ia adalah cerminan realitas sosial dan ekonomi masyarakat urban Indonesia hari ini.

Pemerintah dan sektor bisnis perlu memandang fenomena rojali ini sebagai sinyal penting. Ada urgensi untuk memahami perubahan perilaku konsumen sekaligus membangun strategi bisnis yang lebih adaptif, agar ekosistem ekonomi digital dan ritel di Indonesia tetap sehat, inklusif, dan berkelanjutan.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com

Ekbis
Berita Terkait
  • Senin, 04 Mei 2026 16:47

    Harga Cabai Naik di Pasar Bengkalis, Ayam Potong dan Kampung Malah Turun

    BENGKALIS - Harga cabai merah di pasar Terubuk Bengkalis kembali mengalami kenaikan.Sejak tiga hari terakhir cabai merah di jual pedagang Pasar Terubuk kisaran Rp 40 ribu perkilogramnya.Bahkan kenaika

  • Senin, 04 Mei 2026 15:13

    Benarkah Makan Buah Apel Bisa Bikin Kurus?

    JAKARTA - Benarkah makan buah apel bisa bikin kurus? Yuk simak jawabannya. Di balik tampilan buah apel yang biasa, terdapat manfaat besar yang bisa didapat oleh tubuh, salah satunya dalam penurunan be

  • Senin, 04 Mei 2026 15:08

    Dokter Internship Meninggal, Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia Desak Bentuk Tim Audit

    JAKARTA - Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) mendesak adanya audit dan pembentukan tim audit terkait kasus meninggalnya dokter internship.Salah satu kasus terbarunya adalah kepergian dr.

  • Senin, 04 Mei 2026 14:29

    Waspada Heatstroke Saat Haji, Dokter Ingatkan Bahaya Suhu 40 Derajat Celsius

    Madinah - Cuaca panas ekstrem mulai menjadi perhatian serius bagi jemaah haji Indonesia. Suhu siang hingga sore hari mendekati musim haji diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius. Suhu ekstrem ini men

  • Senin, 04 Mei 2026 14:16

    Kronologi dan Modus Pengasuh Pondok Pesantren di Pati Cabuli Puluhan Santriwati

    Kasus asusila ini terungkap saat Ali Yusron sebagai pengacara salah satu korban, membongkar modus terduga pelaku yang tega mencabuli puluhan santriwati. Ali menyebut bahwa terduga kiai cabul awalnya m

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.