Selasa, 30 Jun 2026
Pendapatan Negara di Riau Tumbuh 12,69 Persen, APBN Masih Surplus Rp 463 Miliar
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 29 Jun 2026 16:14
PEKANBARU - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Provinsi Riau hingga akhir Mei 2026 menunjukkan hasil yang positif.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas dunia, pendapatan negara di Riau justru mengalami pertumbuhan dua digit dan APBN regional masih mencatatkan surplus ratusan miliar rupiah.
Berdasarkan data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau, realisasi pendapatan negara hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp11,83 triliun atau 40,40 persen dari target APBN tahun 2026. Angka tersebut tumbuh 12,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp11,36 triliun atau 42,74 persen dari pagu anggaran. Dengan capaian tersebut, APBN Regional Riau masih membukukan surplus sebesar Rp463,49 miliar.
"Pertumbuhan pendapatan negara ditopang oleh tiga sumber penerimaan utama, yakni pajak, kepabeanan dan cukai, serta penerimaan negara bukan pajak," kata Kepala Kanwil DJPb Riau, Adnan Wimbyarto, Senin (29/6/2026).
Adnan menjalankan, penerimaan pajak menjadi penyumbang terbesar dengan realisasi Rp6,93 triliun. Nilai tersebut meningkat 12,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kenaikan ini dipengaruhi meningkatnya penerimaan Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), PPnBM, serta pajak lainnya," ujarnya.
Sementara di sektor kepabeanan dan cukai, penerimaan mencapai Rp4,31 triliun atau 52,44 persen dari target tahunan. Penerimaan ini tumbuh 1,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara PNBP terealisasi Rp579,19 miliar, meningkat 14,98 persen secara tahunan."Meski kondisi ekonomi dunia masih dibayangi berbagai tantangan, APBN tetap menjalankan fungsinya sebagai instrumen fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pembangunan di daerah," kata Adnan.
Data DJPb juga menunjukkan pertumbuhan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi di Provinsi Riau masih berlangsung cukup baik.
"Pendapatan negara yang meningkat memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk terus membiayai berbagai program pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.
Selain menjaga keseimbangan fiskal, kata Adnan, belanja negara juga terus diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, hingga program-program prioritas pemerintah. Dengan surplus yang masih terjaga hingga Mei 2026, kondisi fiskal Provinsi Riau dinilai masih berada dalam kondisi yang sehat.
"Kami berharap tren positif tersebut dapat terus dipertahankan hingga akhir tahun anggaran seiring membaiknya aktivitas ekonomi dan tetap terjaganya penerimaan negara," ujarnya.
Sementara untuk kinerja keuangan pemerintah daerah di Provinsi Riau menunjukkan tren positif hingga akhir Mei 2026. Hal ini terlihat dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami lonjakan signifikan dan mendorong Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mencatat surplus hingga Rp1,81 triliun.
"Kondisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat pelaksanaan berbagai program pembangunan pada semester kedua tahun ini," ujarnya.
Data yang dirilis Kanwil DJPb Provinsi Riau, realisasi pendapatan seluruh pemerintah daerah di Riau hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp9,85 triliun atau 30,26 persen dari target APBD tahun 2026. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pendapatan daerah tumbuh 17,93 persen.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh melonjaknya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hingga akhir Mei, PAD tumbuh 61,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara pendapatan transfer dari pemerintah pusat juga masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,21 persen.
Di sisi lain, realisasi belanja daerah mencapai Rp8,05 triliun atau 23,91 persen dari pagu APBD. Secara tahunan, realisasi belanja mengalami kontraksi tipis sebesar 0,97 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi masih rendahnya realisasi belanja modal, belanja transfer, dan belanja tidak terduga.
Meski demikian, kondisi tersebut membuat posisi kas pemerintah daerah tetap terjaga. Hingga akhir Mei 2026, selisih antara pendapatan dan belanja menghasilkan surplus APBD sebesar Rp1,81 triliun.
"Surplus tersebut menunjukkan pemerintah daerah masih memiliki kapasitas fiskal yang cukup kuat untuk membiayai berbagai program prioritas pada bulan-bulan berikutnya," katanya.
Ruang fiskal yang tersedia tersebut kata Adnan, diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat sektor pendidikan dan kesehatan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Di sisi lain, percepatan realisasi belanja juga menjadi tantangan bagi pemerintah daerah. Penyerapan anggaran yang lebih optimal dinilai penting agar dana yang tersedia segera berputar di masyarakat dan memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.
"Data APBN KiTa juga menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas fiskal di Provinsi Riau,"(tribunpekanbaru)
Sumber: https://pekanbaru.tribunnews.com/riau-region/1108284/pendapatan-negara-di-riau-tumbuh-1269-persen-apbn-masih-surplus-rp-463-miliar?page=2
komentar Pembaca