TRIBUNPEKANBARU.COM
Telah beredar sebuah video kekerasan yang diduga dilakukan seorang ayah pada anaknya yang berusia 5 tahun di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Bikin merindingnya adalah korban yang masih kecil itu harus menerima pukulan dan juga kata-kata kotor dari si pria dalam video.
Publik makin ngenes kala si oria dalam video yang viral itu memaksa anaknya meminum air yang sengaja diambil dari closet.
Terang saja video tersebut langsung viral dan membuat publik begitu marah pada sosok pria dalam video.
Lalu, bagaimana kekersan itu terjadi dan apa saja faktanya.
Fakta Pertama : Videonya Viral dan Terlihat Kekerasan
Video kekerasan yang tersebar itu memperlihatkan bagaimana seorang pria yang dengan kuasanya melakukan intimidasi pada korban.
Dalam video yang viral, korban bahkan terlihat dipaksa meminum air dari kloset.
Polisi turun tangan dan kini sudah memeriksa pelaku serta mengamankan korban.
Video kekerasan terhadap anak ini tersebar luas di media sosial. Diduga kuat, pelaku yang juga merekam aksi tersebut adalah ENC, ayah korban.
Fakta Kedua : Ditampar Berulangkali
Dalam salah satu video yang diterima Kompas.com, terlihat sang anak ditampar berulang kali hingga menangis dan berteriak kesakitan.
"Bundamu tak videocall, tidak angkat lagi, jadi kamu yang tak tapok," ujar suara dalam video yang diduga pelaku.
Video lain menunjukkan kekerasan fisik serupa yang dilakukan secara berulang. Anak tampak histeris menahan sakit saat terus dipukul.
Fakta Ketiga : Kalimat Ibu Tak Angkat Telepon
Dari video yang beredar itu juga terdengar suara jika si pria berulangkali mengatakan bunda yang tak angkat telepon
"Apa? Sakit dua-duanya, kok bisa sakit. Oh, gara-gara bunda tidak angkat, ya? Ya sudah, ini ayah telepon lagi. Kalau tidak angkat, tak tapok lagi ya," lanjut suara pria dalam video tersebut.
Fakta Keempat : Dipaksa Minum Air Kloset
Yang paling mencengangkan, dalam video lainnya, terlihat pelaku mengambil air dari kloset menggunakan gelas, lalu menyuruh anaknya meminum air itu.
"Minum! Habisin," bentak suara dalam rekaman.
Anak malang itu tampak menangis dan tidak berdaya saat terpaksa meneguk air dari kloset tersebut.
Fakta Kelima : Pelaku Diperiksa
Kasus kekerasan ini kini ditangani oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Demak.
Kasatreskrim Polres Demak, AKP Kuseni, membenarkan adanya dugaan kekerasan terhadap anak. Pelaku dan korban kini sudah diamankan.
"Kami dari pihak kepolisian membenarkan adanya tindak pidana kekerasan terhadap anak yang terjadi tanggal 22 Juli 2025 sekitar pukul 21.00 WIB," ujar Kuseni di Mapolres Demak, Rabu (23/7/2025).
Namun demikian, Kuseni belum membeberkan detail kasus tersebut. Pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku dan korban.
"Saat ini, baik terhadap anak maupun pelaku sedang kami lakukan pemeriksaan secara detail," tutupnya.
4 Anak Tewas Seketika
Kisah lainnya, kebakaran hebat menghanguskan sebuah rumah kontrakan di Jalan Kutilang 28, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, pada Sabtu pagi (19/7/2025).
Musibah ini menelan korban jiwa empat anak di bawah umur, yang tewas terjebak di dalam rumah.
Keempat korban diketahui berinisial L (13), K (3), NA (7), dan A (4).
Tragisnya, dua di antaranya, NA dan A adalah kakak beradik.
Peristiwa ini mengguncang warga sekitar, yang sempat berupaya memadamkan api sebelum petugas pemadam datang.
Menurut laporan Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Selatan, para korban terjebak di lantai dua rumah dan tidak sempat diselamatkan oleh orangtua mereka.
“Terdapat empat orang korban jiwa dalam kondisi meninggal dunia,” ungkap Kepala Gulkarmat Jakarta Selatan Syamsul Huda, dalam keterangannya.
Penyebab kebakaran diduga akibat korsleting berdasarkan temuan awal yang diterima petugas pemadam kebakaran.
Novi (28), ibu dari dua korban, menceritakan momen ketika ia dan keempat anaknya masih terlelap di kamar lantai dua saat api mulai membesar dari lantai satu rumah.
Ia terbangun karena asap hitam masuk ke kamar dan langsung berusaha menyelamatkan anak-anaknya.
Novi sempat menggendong bayi berusia tiga bulan dan mencoba membawa ketiga anak lainnya turun ke lantai satu.
Namun, karena api sudah menyebar, mereka kembali ke lantai dua dan mencari jalan keluar melalui jendela. Novi mengajak tiga anaknya yang lain untuk melompat dari sana.
“Aku ajak lompat dia malah pergi. Saya panik dan memilih melompat," ujar Novi saat ditemui di posko pengungsian.
Novi menyaksikan rumah kontrakannya yang sudah dikepung api. Matanya bergerak ke sana kemari untuk mencari keberadaan tiga anaknya yang lain.
Setelah melompat lebih dulu, Novi sempat melihat anak sulungnya, R (9), muncul dalam kondisi selamat.
Ia kemudian meminta bantuan petugas pemadam kebakaran untuk menyelamatkan dua anak lainnya yang masih terjebak di dalam rumah.
Namun, upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil karena kobaran api yang sudah terlalu besar.***(Tribun pekanbaru.com)
Sumber: TRIBUNPEKANBARU.COM
Hukrim