Di Sidang PBB, Indonesia Menentang Pengakuan Atas Yerusalem
Internasional
Di Sidang PBB, Indonesia Menentang Pengakuan Atas Yerusalem
Jumat, 22 Des 2017 10:34
AFP
Di Sidang PBB, Indonesia Menentang Pengakuan Atas Yerusalem
New York - Pengakuan sepihak (unilateral decision) Amerika Serikat pada 6 Desember 2017, bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel dan
keputusan untuk memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem bertentangan
dengan resolusi PBB dan hukum internasional. Karenanya, langkah
tersebut harus ditolak seluruh negara di dunia yang cinta damai.
Hal tersebut disampaikan oleh Dubes Dian Triansyah Djani, Dubes RI
untuk PBB, di hadapan 192 negara anggota PBB di New York dalam Emergency
Special Session (Sidang Khusus) Majelis Umum PBB mengenai "The Illegal
Israel Actions in the Occupied East Yerusalem and the rest of the
Occupied Palestinian People". Pertemuan darurat ini diselenggarakan pada
Kamis, 21 Desember 2017.
Dalam sidang khusus tersebut, disahkan Resolusi Majelis Umum PBB (nomor A/ES-10/L.22) tentang "Status of Yerusalem", yang didukung oleh 128 negara.
Sementara AS dan Israel serta 9 negara lainnya, yakni Guatemala,
Togo, Kepulauan Marshall, Federasi Mikronesia, Nauru, Honduras, dan
Palau menolak resolusi PBB atau dengan kata lain mendukung pengakuan
Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Sedangkan negara yang abstain tercatat sebanyak 35 negara. Tercatat
pula sebanyak 21 negara tidak hadir untuk memberikan suaranya.
Indonesia menjadi salah satu negara yang pertama menjadi co-sponsor resolusi tersebut. Demikian keterangan pers Kantor Perutusan Tetap Republik Indonesia di New York yang diterima Liputan6.com pada Jumat (22/12/2017).
Dubes Dian juga menegaskan, keputusan Trump mengakui Yerusalem
sebagai ibu kota Israel sangat berbahaya bagi keamanan Timur Tengah dan
melukai perasaan umat muslim. Bagi masyarakat dunia, status kota suci Yerusalem atau Al Quds-As Sharif dijamin oleh seluruh resolusi Dewan Keamanan maupun Majelis Umum PBB.
Karenanya, Indonesia mengimbau masyarakat internasional untuk menolak
keputusan AS, sebagai sesuatu yang bertentangan dengan berbagai
kesepakatan internasional.
Desakan Indonesia, bersama-sama negara-negara OKI, Liga Arab dan
negara-negara GNB, yang meminta Majelis Umum PBB menyelenggarakan
"Emergency Special Session General Assembly", diambil sebagai sikap
terhadap langkah veto AS di Dewan Keamanan PBB terhadap resolusi status
Yerusalem pada 18 Desember 2017.
Melalui resolusi yang telah disahkan di Majelis Umum PBB ini,
kebijakan AS tidak sah karena bertentangan dengan seluruh keputusan PBB
sebelumnya dan meminta semua negara tidak mengikuti atau mengakui
langkah AS.
Negara-negara pendukung resolusi juga diharapkan dapat mencegah
dampak keputusan, yang dapat mengancam proses perundingan damai, serta
situasi perdamaian dan keamanan di Timur Tengah.
Peran Pemerintah Indonesia dalam menyikapi perkembangan isu ini
adalah sikap konsisten yang diwariskan para pendiri bangsa hingga
pemerintahan kini, yang didasarkan pada jiwa dan amanat konstitusi.
Gerak langkah diplomasi RI dalam mendukung perjuangan bangsa
Palestina ini secara serentak dilakukan pada tingkat nasional, baik oleh
Presiden RI maupun oleh Menlu RI yang mengawal langsung diplomasi total
Indonesia, termasuk diplomasi di PBB untuk Yerusalem.
Hal ini sejalan dengan penegasan Dubes Dian di hadapan Sidang Majelis
Umum PBB, "Indonesia tidak akan pernah mundur sejengkal pun dalam
memperjuangkan kemerdekaan Palestina".
Ancaman Trump bagi Negara yang Menentang Pengakuan Yerusalem
Menyikapi
sidang darurat Majelis Umum PBB, Trump pun melontarkan ancaman.
Presiden AS ke-45 itu memperingatkan akan menahan kucuran bantuan
"miliaran" dolar AS bagi negara-negara pendukung rancangan resolusi
penolakan atas pengakuan Yerusalem.
Ancaman Trump tersebut muncul setelah Duta Besar AS untuk PBB, Nikki
Haley, lebih dulu merilis ultimatum bahwa ia akan "mencatat"
negara-negara mana saja yang mendukung lahirnya resolusi tersebut.
"Biarkan mereka memilih untuk melawan kita," ujar Trump. Demikian dikutip dari laman The Guardian.
Trump melanjutkan, "Kita akan banyak berhemat. Kami tidak peduli.
Tapi ini tidak akan seperti dulu lagi di mana mereka memilih melawan dan
kemudian kita memberi mereka ratusan juta dolar. Kita tidak lagi bisa
dimanfaatkan."
"Saya menyukai pesan yang disampaikan Nikki (Dubes AS)," tegas Trump.
Pernyataan Trump tersebut dinilai ditujukan pada negara anggota PBB
asal Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang dianggap lebih rentan terhadap
tekanan AS. Termasuk, Mesir yang merancang resolusi di forum DK PBB.
Tahun lalu, Negeri Piramida itu menerima bantuan dari AS senilai US$ 1,2
miliar.
Namun, tidak menutup kemungkinan ancaman Trump juga beresonansi di
kawasan lain seperti Inggris misalnya. Negeri Ratu Elizabeth itu tengah
harap-harap cemas agar dapat cepat menegosiasikan kesepakatan dagang
dengan AS pasca-Brexit.
Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v
Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat
Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga
Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener