- Home
- Internasional
- Bayi Pengantin ISIS Meninggal di Pengungsian Suriah, Inggris Dikecam
Internasional
Bayi Pengantin ISIS Meninggal di Pengungsian Suriah, Inggris Dikecam
Sabtu, 09 Mar 2019 16:33
Kejadian itu memicu kritik tajam terhadap Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid. Ia disorot karena mencabut kewarganegaraan Begum sehingga remaja itu tak dapat kembali ke Inggris.
Di sisi lain, juru bicara pemerintahan Inggris menyatakan rasa duka dan menyebut kematian bayi laki-laki itu sebagai hal tragis.
Informasi kematian bayi bernama Jarrah itu dikonfirmasi Pasukan Demokratis Suriah.
Kepada BBC, seorang tenaga medis dari Bulan Sabit Merah Kurdi, menyebut Jarrah meninggal karena serangan pneumonia.
Bayi itu dilaporkan sempat dilarikan ke dokter, Kamis (07/03), sebelum dibawa ke rumah sakit bersama Begum. Namun pada hari itu juga, Jarrah mengembuskan napas terakhir.
Begum sejak Februari lalu menjadi pemberitaan setelah dikenali sebagai warga Inggris di kamp pengungsian Suriah.
Begum meninggalkan Inggris dan bergabung ke ISIS tahun 2015. Belakangan ia berupaya untuk pulang kampung, meski terhambat karena kewarganegaraannya dicabut.
Jarrah adalah anak ketiga Begum yang meninggal sejak ia menjadi bagian dari ISIS. Suaminya, seorang milisi ISIS asal Belanda bernama Yago Reidijk, kini ditahan pasukan Kurdi.
Terkait kematian bayi Begum ini, mantan pimpinan kepolisian kawasan Metropolitan London, Dal Babu, menyebut, "sebagai sebuah negara, Inggris gagal melindungi anak-anak.""Ini adalah kematian warga Inggris yang sebenarnya dapat dihindari," ujar Babu yang juga kerabat keluarga Begum di London.
"Tidak
ada pertolongan yang diupayakan Kementerian Dalam Negeri. Mengejutkan
melihat bagaimana seorang menteri menangani persoalan ini," kata Babu.
Menteri bayangan Inggris untuk urusan dalam negeri, Diane Abbot, juga mengkritik kebijakan pemerintah terhadap Begum
Melalui akun Twitter miliknya, Abbot berkata, "mencabut kewarganegaraan seseorang adalah sebuah pelanggaran HAM."
"Kini seorang anak tidak berdosa meninggal akibat pencabutan kewarganegaraan seorang perempuan Inggris."
"Ini kebijakan yang tidak berperasaan dan tidak manusiawi," kata Abbot.
Adapun, saat berbincang kepada BBC, Jumat (08/03), Javid berkata, "Menyedihkan, ada banyak anak, yang benar-benar tidak berdosa, lahir di zona perang."
"Saya sangat bersimpati terhadap anak-anak yang terseret dalam situasi itu. Ini adalah sebuah pengingat, sangat berbahaya terlibat peperangan," ujar Javid.
Koresponden BBC untuk isu dalam negeri Inggris, Daniel Sandford, menyebut pemerintah sebenarnya dapat mengeluarkan bayi itu keluar dari Suriah, meski akan terhambat isu politik."Posisi pemerintah Inggris yang tidak mungkin memulangkan orang dari kamp atas dasar keamanan terus dipaparkan, meski ternyata tidak akurat."
"Jurnalis selama ini datang dan pergi ke kamp tersebut dalam kondisi yang relatif aman," kata Sandford.
"Melalui kerja sama dengan Bulan Sabit Merah misalnya, penyelamatan orang dari kamp seharusnya bisa dilakukan, jika ada kemauan politik."
Kristy McNeill, kepala urusan kebijakan, advokasi, dan kampanye di badan kemanusiaan Save the Children, menyebut "semua anak yang terkait isu ISIS adalah korban konflik dan harus diperlakukan dalam kapasitas itu."
"Sangat mungkin kematian bayi laki-laki dan anak-anak lainnya bisa dihindari. Inggris dan negara lainnya harus bertanggung jawab pada warga negaranya yang berada di timur laut Suriah," ujar McNeill.
Permintaan maafDalam wawancara dengan BBC setelah kelahiran Jarrah, Begum menyatakan tidak menyesal telah pergi ke Suriah. Namun ia menekankan, ia tidak setuju dengan segala hal yang diperbuat ISIS.
Begum berkata, ia seharusnya tidak pernah berharap menjadi perempuan yang merepresentasikan ISIS.
"Sungguh saya hanya ingin pengampunan dari Inggris," ujarnya kepada koresponden BBC di Timur Tengah, Quentin Sommerville, Februari lalu.
"Semua yang telah saya lalui, saya tidak pernah berharap menjalaninya."
"Kehilangan anak-anak saya dengan cara seperti ini. Saya tidak ingin kehilangan mereka. Ini sungguh bukan tempat yang layak untuk membesarkan anak, kamp pengungsian ini," tutur Begum.
Viral! Pria Ini Naik Gunung Andong Bawa Sound System, Netizen: Emang Boleh?
JAKARTA - Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang pendaki membawa sound system berukuran besar saat mendaki gunung. Video tersebut diunggah oleh akun TikTok
Mitos atau Fakta: Pakai Tas Selempang Berat Bikin Tulang Belakang Melengkung ke Samping?
BANYAK orang mengira memakai tas selempang berat hanyalah kebiasaan sepele. Padahal dalam jangka panjang, tas selempang berat bisa berdampak pada postur tubuh.Salah satu isu yang s
Kenapa Vaksin Meningitis Wajib Sebelum Haji dan Umrah? Ini Penjelasannya
JAKARTA â€" Calon jemaah haji dan umrah diwajibkan menjalani vaksinasi meningitis sebelum berangkat ke Arab Saudi. Kebijakan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah pencegahan
AS Akan Kembali Berlakukan Eksekusi Mati dengan Regu Tembak dan Kamar Gas
JAKARTA â€" Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada Jumat (24/4/2026) menyatakan bahwa negara itu akan kembali menerapkan regu tembak, hukuman mati dengan sengatan listrik, dan asfiksia ga
Tampang Pelaku Penembakan di Acara Gedung Putih hingga Sebabkan Trump Dievakuasi
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pelaku penembakan saat makan malam koresponden Gedung Putih, Sabtu (25/4/2026), sudah ditangkap. Saat kejadian, T