- Home
- Internasional
- Diam-Diam, Presiden Palestina ke Israel Bertemu Menteri Pertahanan
Diam-Diam, Presiden Palestina ke Israel Bertemu Menteri Pertahanan
Admin
Kamis, 30 Des 2021 09:47
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas melakukan kunjungan yang langka ke Israel pada Selasa untuk berunding dengan Menteri Pertahanan Israel. Ini merupakan pertemuan terbaru dari serangkaian pertemuan pejabat tinggi Israel dengan pemimpin Palestina tersebut.
Perdana Menteri Israel yang baru, Naftali Bennet, menentang kemerdekaan Palestina dan menolak perundingan damai formal. Namun Bennet mengatakan dia ingin mengurangi gesekan dengan Otoritas Palestina (PA) dan meningkatkan kondisi kehidupan di Tepi Barat yang diduduki Israel.
Terlepas dari janji tersebut, terjadi peningkatan kekerasan di Tepi Barat dalam beberapa pekan terakhir, di mana terjadi lonjakan kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga sipil Palestina.
Seorang pejabat senior Palestina mengatakan, pertemuan tengah malam itu berlangsung di rumah Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz di Israel tengah. Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena itu adalah pertemuan tertutup, mengatakan itu pertama kalinya Presiden Abbas bertemu dengan pejabat Israel sejak 2010.
Dikutip dari Al Arabiya, Rabu (29/12), Gantz mengatakan dia berkomitmen untuk memajukan langkah-langkah membangun kepercayaan, seperti yang dibahas dalam pertemuan sebelumnya dengan Abbas, serta mempererat koordinasi keamanan.
Hussein Al Sheikh, pejabat tinggi yang dekat dengan Abbas, mengatakan pertemuan itu"berurusan dengan pentingnya menciptakan cakrawala politik," serta "kondisi lapangan yang tegang karena praktik para pemukim." Dia mengatakan masalah keamanan, ekonomi dan kemanusiaan juga dibahas dalam pertemuan tersebut.
Abbas, yang pemerintahannya mengelola daerah otonom Tepi Barat yang diduduki Israel, menginginkan negara merdeka yang mencakup semua Tepi Barat, Yerusalem timur, dan Jalur Gaza.
Israel merebut ketiga wilayah tersebut pada tahun 1967, meskipun menarik diri dari Gaza pada tahun 2005. Dua tahun kemudian, militan Hamas merebut wilayah dari pasukan Abbas, sehingga Palestina terbagii antara dua pemerintah yang bersaing.
Tidak ada pembicaraan damai substantif antara kedua pihak dalam lebih dari satu dekade.