Jumat, 19 Jun 2026
  • Home
  • Internasional
  • Dua Jenderal Mali Dipecat Pasca Serangan Etnis yang Menewaskan 134 Orang

Internasional

Dua Jenderal Mali Dipecat Pasca Serangan Etnis yang Menewaskan 134 Orang

Senin, 25 Mar 2019 13:17
okezone.com
Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita.

BAMAKO – Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita pada Minggu memecat dan mengganti dua jenderal serta membubarkan pasukan siaga anti-jihadis menyusul pembantaian 134 penggembala etnis Fulani oleh kelompok bersenjata di wilayah tengah Mali yang bergejolak.

Konflik etnis berdarah itu terjadi hanya sepekan setelah serangan jihadis di sebuah pos militer di Mali bagian tengah menewaskan sedikitnya 23 tentara. Serangan tersebut diklaim oleh kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda.

Diwartakan Reuters, Senin (25/3/2019), Kepala staf Angkatan Darat Jenderal Bemba Moussa Keita dipindahkan dan digantikan oleh Jenderal Abdoulaye Coulibaly, sementara kepala pasukan darat Jenderal Abdrahamane Baby digantikan oleh Brigadir Jenderal Keba Sangare.

Warga Mali telah lama dibuat frustrasi atas ketidakmampuan pemerintah untuk melindungi mereka dari serangan jihadis dan kekerasan etnis. Namun, pembantaian warga sipil di Desa Ogossagou dan Welingara pada Sabtu, yang meninggalkan tubuh perempuan dan anak-anak yang hangus terbakar di rumah mereka, telah mengejutkan populasi yang sudah terbiasa dengan pembunuhan tanpa alasan.

Perdana Menteri Mali Soumeylou Boubeye Maiga mengatakan bahwa Presiden Keita juga telah memerintahkan pembubaran kelompok anti-jihadis Dan Na Amassagou. Beberapa pejuang etnik Dogon dalam kelompok itu diduga berada di belakang serangan terhadap dua desa yang menewaskan 134 orang pekan lalu.

"Perlindungan populasi tetap dan akan tetap menjadi monopoli negara," kata Maiga. "Pasukan kita akan secara aktif melucuti setiap orang yang tidak boleh dipersenjatai."

Meskipun ada 4.500 pasukan Prancis di wilayah Sahel, serangan jihadis telah berlipat ganda sejak mereka pertama kali campur tangan memukul militan Islamis dan pemberontak Tuareg yang mengambil alih bagian utara Mali pada 2013.

Kementerian luar negeri Prancis mengatakan pihaknya menyambut "upaya pemerintah Mali untuk membubarkan milisi yang telah menciptakan teror di wilayah tersebut dan sekarang harus dilucuti."


Sumber: okezone.com

Internasional
Berita Terkait
  • Jumat, 19 Jun 2026 17:15

    Lewat Literasi Digital, PHR Dukung Wartawan Semakin Adaptif dan Profesional

    DURI - Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan kompleksitas informasi industri hulu migas, kolaborasi solid antara industri dan jurnalis menjadi kunci utama dalam mengawal kedaulatan energi nas

  • Jumat, 19 Jun 2026 17:11

    Kodim 1714/Puncak Jaya Laksanakan Kegiatan Jumat Sehat

    Mulia â€" Kodim 1714/Puncak Jaya kembali melaksanakan kegiatan Jumat Sehat yang diikuti oleh prajurit dan anggota Persit KCK Cabang XLI Dim 1714/PJ. Kegiatan ini merupakan agenda rutin satuan yang ber

  • Jumat, 19 Jun 2026 16:26

    Hadir di Ttengah Kesulitan, Satlantas Polres Inhu Salurkan Air Bersih untuk Warga

    RENGAT-Kepedulian terhadap sesama ditunjukan jajaran Satuan Lalulintas (Satlantas) Polres Indragiri Hulu (Inhu) yang hadir ditengah kesulitan warga yang membutuhkan, dengan menyalurkan bantuan air ber

  • Jumat, 19 Jun 2026 16:23

    Tepis Isu Sulit Dikonfirmasi, Kabid Humas Polda Riau Jelaskan Aturan Baru Ekspos Berita Sesuai Perkap Nomor 6 Tahun 2023

    PEKANBARU - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, SH, MSi memaparkan mekanisme terbaru terkait komunikasi publik di lingkung

  • Jumat, 19 Jun 2026 16:19

    Lewat Literasi Digital, PHR Dukung Wartawan Semakin Adaptif dan Profesional

    DURI, 19 Juni 2026 â€" Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan kompleksitas informasi industri hulu migas, kolaborasi solid antara industri dan jurnalis menjadi kunci utama dalam mengawal kedau

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.