Rabu, 01 Jul 2026

Internasional,

Kenapa Jerman Pertimbangkan Larangan Ponsel di Sekolah?

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 29 Agu 2025 16:35
Detiknews.com
Pada hari pertama sekolah, Klara Ptak hampir saja lupa membawa ponselnya dari rumah. Dia baru saja pulang setelah menghabiskan liburan musim panas. Keteledoran itu bukti terbaik bahwa sang ketua OSIS sudah terbiasa tidak lagi membutuhkan ponsel di sekolah. Sejak akhir April, Sekolah Dalton Gymnasium di Alsdorf, Jerman, resmi memberlakukan larangan peranti komunikasi yang ketat untuk semua murid.

Siswi berusia 17 tahun itu mengatakan kepada DW: "Saya tidak bisa lagi sekadar melirik ponsel di sela-sela pelajaran atau mengirim pesan cepat saat istirahat. Awalnya banyak yang bertanya-tanya, untuk apa semua ini, tapi lama-kelamaan banyak yang sadar kalau sebenarnya tidak terlalu buruk - bahkan punya sisi positif."

Namun, pendapat tetap terbagi: "Para guru sebagian besar mendukung, murid-murid yang lebih muda bisa menerima, sementara yang lebih tua kurang puas."

Dalton Gymnasium adalah salah satu dari banyak sekolah di Jerman yang mulai membatasi konsumsi ponsel berlebihan oleh murid. Setelah libur Paskah, pihak sekolah meluncurkan konsep "Cerdas tanpa Ponsel" sebagai masa uji coba. Sejak itu, ponsel harus disimpan di tas dari awal hingga akhir pelajaran. Jika ketahuan, ponsel hanya bisa diambil orang tua pada keesokan harinya di kantor sekolah.

"Total ada 51 ponsel yang disita, cukup signifikan dengan jumlah 700 murid," kata Ptak. "Sekarang kita bisa lihat, terutama anak-anak yang dulu hanya berdiri berkelompok menatap layar, kini bermain sepak bola, bulu tangkis, atau board game bersama. Itu perubahan yang luar biasa."

Pro-kontra larangan ponsel
Debat sengit tentang ponsel di sekolah merebak di Jerman, terlebih karena belum ada aturan nasional yang seragam: apakah peranti komunikasi layak dilarang atau dibiarkan? Akademi Sains Leopoldina mengusulkan larangan ponsel hingga kelas sepuluh dan menyarankan anak di bawah 13 tahun dijauhkan dari internet serta media sosial. Hendrik Streeck, pejabat pemerintah untuk urusan kecanduan dan narkoba, mendukung pembatasan usia untuk media sosial, tetapi menolak larangan ponsel.

Konferensi OSIS Jerman juga menolak larangan menyeluruh. Mereka lebih menginginkan penguatan literasi digital di sekolah.

Lalu, bagaimana dengan orang tua? Mereka justru merasa paling tertekan. Menurut survei lembaga riset opini Forsa untuk Körber-Stiftung, faktor stres terbesar orang tua anak usia 12â€"18 tahun adalah konsumsi media anak-anak mereka.

Alsdorf: Larangan ponsel disambut positif
Martin WĂĽller, kepala sekolah Dalton Gymnasium di Alsdorf, adalah penggagas larangan ponsel sekaligus motor digitalisasi dengan penyediaan tablet sekolah mulai kelas tujuh. Dia bangga dengan hasil evaluasi proyek ini bersama murid, guru, dan orang tua.

Menurutnya, 90 persen guru mendukung larangan ponsel. Mereka melihat perbaikan signifikan dalam interaksi sosial serta konsentrasi murid, khususnya di kelas bawah. Mayoritas murid muda juga menilai larangan itu bermanfaat, meski murid kelas atas (16â€"19 tahun) masih skeptis. Sebanyak 85 persen orang tua mendukung, bahkan menilai anak-anak mereka lebih mandiri dan komunikasi meningkat - bahkan di rumah.

WĂĽller mengatakan kepada DW: "Orang tua anak-anak yang lebih kecil berterima kasih dan memuji inisiatif ini. Mereka bilang, syukurlah, di sekolah dasar kan juga begitu." Namun dia menegaskan perlunya konsistensi orang tua: "Kami tidak bisa menambal semua yang gagal di rumah. Kami selalu menekankan pentingnya menarik satu tali dengan orang tua -bahkan lebih baik jika ke arah yang sama."

Solingen: Stop media sosial untuk murid kelas 5
Sementara itu di kota Solingen, sebuah proyek unik diluncurkan: mulai tahun ajaran baru, semua murid kelas lima (usia 10â€"11 tahun) sepakat berhenti menggunakan media sosial, bahkan di rumah. Tidak ada Instagram, Snapchat, atau TikTok.

Gagasan ini datang dari Burkhard Brörken, mantan kepala sekolah yang kini menjabat di pemerintahan pendidikan DĂĽsseldorf. "Di Solingen, kami cepat sekali mendapat dukungan dari semua pimpinan 13 sekolah lanjutanâ€"dari gymnasium hingga sekolah inklusif," jelasnya. "Kami memulai kemitraan pendidikan unik antara sekolah, orang tua, dan anak-anak."

Semua pihak menandatangani deklarasi niat untuk menjalankan proyek ini setahun penuh. Brörken menekankan bahwa kesepakatan itu tidak mengikat secara hukum, melainkan hanya rekomendasi dan dukunganâ€"bukan intervensi pendidikan orang tua.

Banyak orang tua menyambut baik: "Kami sering mendengar keluhan tentang pola penggunaan berisiko, dan banyak yang bertanya kenapa baru sekarang dilakukan," kata Brörken. Menurutnya, tekanan sosial membuat larangan individu mustahil: "Kalau anak merasa jadi satu-satunya tanpa ponsel, orang tua sulit melawan. Hanya koordinasi bersama yang bisa jadi solusi."

Orang tua tuntut aturan yang lebih jelas
Alev Kanowski, orang tua murid, mengaku merasakan tekanan itu. Putrinya baru mendapat ponsel pada usia sembilan tahun, termasuk yang terakhir di kelasnya. "Trennya sudah mulai dari sekolah dasar. Kalau tidak, anak bisa terasingkan," ujarnya.

Kini sang putri duduk di kelas lima dan awalnya menolak keras larangan media sosial. "Baru setelah kami jelaskan betapa ponsel membuat anak-anak tak fokus dan sulit diajak bicara, dia mulai menerima." Kanowski berharap ada lebih banyak sosialisasi: "Sebagai orang tua, saya sering merasa kewalahan, terutama soal kapan tepatnya memberi ponsel dan akses ke media sosial. Proyek seperti ini sebaiknya ada di lebih banyak tempat agar anak bisa menikmati masa kecil tanpa distraksi."

Proyek di Solingen akan dievaluasi dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai pendukung, 50 "medienscouts" dilatih di sekolahâ€"murid usia 12â€"14 tahun yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak kelas lima dan bisa memberi arahan soal keamanan di internet.

Brörken berharap larangan media sosial ini berhasil. Dia memberi catatan serius: "Kami kini jauh lebih sering berhadapan dengan murid yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Fenomena ini sepuluh tahun lalu hampir tidak ada, tapi kini ada di semua sekolah. Pandemi memang jadi pemicu, tapi apinya sudah menyala jauh sebelumnya."***(detiknews.com)
Sumber: Detiknews.com

Internasional
Berita Terkait
  • Rabu, 17 Jun 2026 11:47

    Polres Indragiri Hulu Gelar Bakti Sosial HUT Bhayangkara Ke-80

    Rengat-Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Indragiri Hulu melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan bersilaturahmi sekaligus menyalurkan bantuan semba

  • Minggu, 14 Jun 2026 20:34

    Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP

    INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli

  • Jumat, 05 Jun 2026 09:49

    "Gunakan Manajemen Peternakan Modern", Pesan Bhabinkamtibmas Polres Inhu Untuk Ketahanan Pangan

    INHU-Upaya mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional terus dilakukan jajaran Polres Indragiri Hulu (Inhu) melalui berbagai kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh p

  • Rabu, 03 Jun 2026 09:46

    Swasembada Pangan, Bhabinkamtibmas Polres Inhu Sambangi Petani Jagung Menulis

    INHU - Upaya mendukung program swasembada dan ketahanan pangan nasional terus dilakukan jajaran Polres Indragiri Hulu (Inhu). Melalui peran aktif Bhabinkamtibmas di desa binaan, kepolisian hadir membe

  • Sabtu, 30 Mei 2026 11:58

    Satres Narkoba Polres Dumai Gulung Dua Pengedar, 68 Paket Sabu dan Ekstasi Disita Sebagai Barang Bukti

    DUMAI-Komitmen Polres Dumai dalam memberantas peredaran gelap narkotika di wilayah hukumnya kembali membuahkan hasil. Tim Opsnal Satres Narkoba Polres Dumai yang dipimpin langsung oleh Ipda Rico Salom

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor