- Home
- Internasional
- Lewatkan Pertemuan KTT ASEAN Demi Tidur Siang, Duterte Membela Diri
Internasional
Lewatkan Pertemuan KTT ASEAN Demi Tidur Siang, Duterte Membela Diri
Kamis, 15 Nov 2018 14:39
"Apa yang salah dengan tidur siang saya?" tanya Duterte yang kini berusia 73 tahun kepada wartawan di sela-sela KTT ASEAN, seperti dilansir AFP, Kamis (15/11/2018).
Saat ditanya wartawan apakah dirinya telah beristirahat dengan baik, Duterte menjawab: "Masih tidak cukup baik, tapi cukup untuk mendukung daya tahan dalam beberapa hari terakhir."
Duterte diketahui sedang menghadiri KTT ASEAN di Singapura yang juga dihadiri para pemimpin dunia seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Perdana Menteri China Li Keqiang dan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence.
Pada Rabu (14/11) kemarin, Duterte diketahui tidak hadir pada empat dari 11 pertemuan yang dijadwalkan. Tidak hanya itu, Duterte juga tidak menghadiri acara makan malam yang dijamu Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Dalam pernyataan resmi menanggapi ketidakhadiran Duterte tersebut, kantor kepresidenan Filipina menjelaskan bahwa Duterte hanya tidur selama 3 jam pada malam sebelumnya, atau pada Selasa (13/11) malam waktu setempat. Tidur siang Duterte disebut sebagai 'power nap' oleh kantor kepresidenan Filipina.
"Dia (Duterte-red) melakukan power nap untuk membayar kekurangan tidur," sebut juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador S Panelo. "Beberapa pihak mempermasalahkan presiden yang melewatkan sejumlah kecil pertemuan," imbuhnya.
"Kami memastikan bahwa ketidakhadirannya seperti tersebut di atas tidak ada kaitannya dengan kesehatan fisiknya dan kondisinya yang telah menjadi subjek spekulasi," sebut Panelo dalam pernyataannya.
Duterte yang kontroversial ini tergolong sebagai pemimpin populer di negaranya, meskipun pemerintahannya menggencarkan perang melawan narkoba yang memicu banyak korban tewas dan menuai kritikan internasional.
Namun diketahui Duterte beberapa kali memicu spekulasi ketika melewatkan sejumlah acara penting atau saat membahas penyakitnya di depan publik sejak menjabat tahun 2016. Sebelumnya Duterte menyebut dirinya menderita migrain setiap hari dan sejumlah penyakit termasuk penyakit Buerger's, penyakit yang mempengaruhi pembuluh darah pada anggota tubuh dan biasanya dipicu oleh rokok.
Tahun 2016, Duterte mengungkapkan dirinya mengonsumsi fentanyl -- opiate penghilang rasa sakit -- karena cedera tulang belakang akibat kecelakaan sepeda motor. Duterte merupakan presiden tertua yang pernah menjabat di Filipina. Namun dia masih 20 tahun lebih muda dari Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, yang kini memegang gelar sebagai pemimpin tertua di dunia dengan usia 93 tahun.
(detik.com) Internasional
Kemendes PDT dan FAO Gelar Pelatihan Perkuat Tata Kelola Sistem Pangan Berkelanjutan
JAKARTAâ€" Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), hari ini meluncurkan program pelatih
Spesialis Curanmor Dibekuk Polsek Ukui, Dadung Beraksi Dua Kali dengan Komplotan Berbeda
PELALAWAN â€" Unit Reskrim Polsek Ukui berhasil membongkar dua kasus pencurian sepeda motor (curanmor) yang terjadi di wilayah Kecamatan Ukui. Dari pengungkapan tersebut, polisi menangkap pelaku utama
LPSK Bentuk Tim Pengawal Kasus Kematian Dokter Icha
JAKARTA - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengerahkan tim untuk mengawal kasus kematian Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr Icha. Hal itu dilakukan untuk mendalami perkara yang
Dipercaya 23,3 Juta Pengusaha Ultra Mikro, Ini Rahasia Tata Kelola PNM dari Hulu ke Hilir
Survei lembaga riset independen INDEKSTAT 2025 mencatat pendapatan bersih nasabah PNM Mekaar meningkat dari Rp2,02 juta menjadi Rp2,90 juta per bulan, atau bertambah sekitar Rp875 ribu setiap bulan, d
OJK Serius Tanggapi Peringatan MSCI Terkait Risiko ke Frontier Market
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan keseriusan merespons peringatan lembaga indeks global MSCI terkait potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontie