Jumat, 15 Mei 2026
  • Home
  • Internasional
  • Perang Iran Hambat Distribusi Pupuk, Puluhan Juta Orang Terancam Kelaparan

Perang Iran Hambat Distribusi Pupuk, Puluhan Juta Orang Terancam Kelaparan

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 12 Mei 2026 09:22
Paris-Puluhan juta orang berpotensi menghadapi kelaparan dan ancaman kelaparan akut jika pupuk tidak segera diizinkan melintasi Selat Hormuz. Peringatan itu disampaikan kepala gugus tugas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dibentuk untuk mencegah krisis kemanusiaan yang disebut semakin mendekat, kepada AFP pada Senin (11/5/2026).

Iran telah "mencekik" akses ke jalur perairan strategis tersebut selama berbulan-bulan sebagai bentuk balasan atas perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari. Kondisi itu mengganggu perdagangan pupuk global yang sangat penting bagi para petani di berbagai negara, di tengah upaya berpacu dengan waktu sebelum musim tanam berakhir.

"Kita hanya memiliki beberapa minggu ke depan untuk mencegah apa yang kemungkinan besar akan menjadi krisis kemanusiaan besar," kata Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Layanan Proyek (UNOPS) Jorge Moreira da Silva sekaligus pemimpin gugus tugas tersebut, dalam wawancara dengan AFP di Paris.

"Kita bisa menyaksikan krisis yang akan mendorong 45 juta orang tambahan ke dalam kelaparan dan ancaman kelaparan."

Sekretaris Jenderal PBB membentuk gugus tugas itu pada Maret untuk memimpin mekanisme yang memungkinkan pupuk dan bahan baku terkait seperti amonia, sulfur, dan urea dapat melintasi selat tersebut.

Selama berminggu-minggu, Moreira da Silva berupaya meyakinkan pihak-pihak yang terlibat konflik agar mengizinkan setidaknya beberapa kapal melintas. Ia juga telah bertemu dengan "lebih dari 100 negara" guna menggalang dukungan negara-negara anggota PBB terhadap mekanisme tersebut.

Menurutnya, semakin banyak negara mulai mendukung rencana itu. Namun, AS dan Iran, serta negara-negara Teluk yang merupakan produsen utama pupuk, masih belum sepenuhnya mendukung.

Meski harapan utama tetap tercapainya perdamaian yang langgeng di kawasan dan kebebasan navigasi bagi seluruh komoditas melalui selat tersebut, Moreira da Silva menegaskan bahwa masalahnya, musim tanam tidak bisa menunggu. Ia mengatakan musim tanam di sejumlah negara Afrika akan berakhir dalam beberapa minggu mendatang.

Perhatian global sejauh ini lebih banyak tertuju pada dampak ekonomi akibat terganggunya perdagangan minyak dan gas. Namun, PBB terus memperingatkan ancaman blokade tersebut terhadap ketahanan pangan dunia, dengan negara-negara di Afrika dan Asia diperkirakan akan terdampak paling besar.

 

Kehendak Politik
Moreira da Silva mengaku PBB sebenarnya dapat menjalankan skema darurat agar pupuk dan bahan baku terkait tetap dapat melintasi Selat Hormuz hanya dalam waktu tujuh hari. Namun, meskipun selat itu kembali dibuka sekarang, perdagangan diperkirakan tetap membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan untuk kembali normal.

"Ini hanya masalah waktu. Jika kita tidak segera menghentikan sumber krisis ini, kita harus menghadapi konsekuensinya melalui bantuan kemanusiaan," katanya.

Meski harga pangan belum melonjak tajam, Moreira da Silva menuturkan telah terjadi kenaikan besar-besaran pada biaya pupuk. Para ahli menilai kondisi itu kemungkinan akan menyebabkan penurunan produktivitas pertanian dan memicu lonjakan harga pangan.

Moreira da Silva menerangkan pengiriman rata-rata lima kapal per hari yang membawa pupuk dan bahan baku terkait melalui selat tersebut sudah cukup untuk mencegah krisis bagi para petani.

Menurutnya, yang masih kurang saat ini adalah kehendak politik.

"Kita tidak bisa terus menunda apa yang sebenarnya mungkin dilakukan dan mendesak untuk dilakukan â€" yaitu membiarkan pupuk melintasi selat dan, melalui langkah itu, meminimalkan risiko ketidakamanan pangan besar-besaran di tingkat global(liputan6).
Sumber: https://www.liputan6.com/global/read/6416952/perang-iran-hambat-distribusi-pupuk-puluhan-juta-orang-terancam-kelaparan

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.