- Home
- Internasional
- Takut Dipulangkan ke Myanmar, Rohingya Kabur dari Kamp Bangladesh
Internasional
Takut Dipulangkan ke Myanmar, Rohingya Kabur dari Kamp Bangladesh
Selasa, 13 Nov 2018 14:31
Otoritas Bangladesh berencana untuk mulai memulangkan para pengungsi Rohingya ke Myanmar pada Kamis (15/11) pekan ini. Namun rencana ini memicu kepanikan di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh. Sejumlah keluarga pengungsi yang masuk dalam kelompok pertama yang akan dipulangkan, telah kabur dari kamp.
"Otoritas telah berulang kali mencoba memotivasi mereka yang masuk dalam daftar pengungsi yang dipulangkan. Namun sebaliknya, mereka justru terintimidasi dan kabur ke kamp-kamp lain," ujar Nur Islam, pemimpin komunitas dari kamp pengungsi Jamtoli, seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (13/11/2018).
Lebih dari 720 ribu warga muslim Rohingya telah meninggalkan negara bagian Rakhine, Myanmar akibat operasi militer pada Agustus 2017 lalu. Warga Rohingya yang mengungsi mengungkapkan terjadinya pemerkosaan, pembunuhan dan penyiksaan massal oleh militer Myanmar.
Sekitar 2.260 orang Rohingya dijadwalkan untuk meninggalkan kamp-kamp pengungsi di distrik Cox's Bazar, Bangladesh dalam pemulangan pertama yang akan dimulai Kamis (15/11). Namun Nur Islam mengatakan, rencana itu telah menimbulkan "ketakutan dan kebingungan besar" di kalangan warga Rohingya dan banyak yang tidak bersedia kembali ke Rakhine kecuali mereka mendapat jaminan kewarganegaraan dan hak-hak lainnya.
Seorang pengungsi Rohingya, Mohammad Khaleque, mengaku bahwa dirinya dan keluarganya kabur ke kamp lain supaya tidak dipulangkan ke Myanmar.
"Saya tak melihat masa depan bagi keluarga saya jika kami dipaksa pulang saat ini, tanpa memastikan bahwa kami akan mendapatkan kewarganegaraan penuh Myanmar. Karena itulah saya membawa keluarga saya pergi dari kamp dan tinggal di kamp lain bersama kerabat saya. Kami tak ingin kembali seperti ini," cetusnya kepada AFP.
Seorang pejabat Bangladesh mengaku bahwa para pengungsi Rohingya "tidak siap mental untuk kembali."
"Mereka sering mengatakan pada kami bahwa mereka lebih baik mati di sini di kamp-kamp (Bangladesh) daripada pulang dan menerima rasa sakit yang mengerikan yang telah mereka alami," ujar pejabat Bangladesh yang tak ingin disebut namanya itu.
(detik.com) Internasional
Kemendes PDT dan FAO Gelar Pelatihan Perkuat Tata Kelola Sistem Pangan Berkelanjutan
JAKARTAâ€" Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), hari ini meluncurkan program pelatih
Spesialis Curanmor Dibekuk Polsek Ukui, Dadung Beraksi Dua Kali dengan Komplotan Berbeda
PELALAWAN â€" Unit Reskrim Polsek Ukui berhasil membongkar dua kasus pencurian sepeda motor (curanmor) yang terjadi di wilayah Kecamatan Ukui. Dari pengungkapan tersebut, polisi menangkap pelaku utama
LPSK Bentuk Tim Pengawal Kasus Kematian Dokter Icha
JAKARTA - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengerahkan tim untuk mengawal kasus kematian Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr Icha. Hal itu dilakukan untuk mendalami perkara yang
Dipercaya 23,3 Juta Pengusaha Ultra Mikro, Ini Rahasia Tata Kelola PNM dari Hulu ke Hilir
Survei lembaga riset independen INDEKSTAT 2025 mencatat pendapatan bersih nasabah PNM Mekaar meningkat dari Rp2,02 juta menjadi Rp2,90 juta per bulan, atau bertambah sekitar Rp875 ribu setiap bulan, d
OJK Serius Tanggapi Peringatan MSCI Terkait Risiko ke Frontier Market
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan keseriusan merespons peringatan lembaga indeks global MSCI terkait potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontie