Menjadi subvarian yang mendominasi, para ahli kesehatan dari CDC Amerika Serikat dan Kementerian Kesehatan Singapura menyampaikan bahwa KP.2 ini tidak menunjukkan tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan varian lain.
Hanya saja perbedaan kecil dalam protein puncak KP.2 memungkinkan varian ini untuk lebih mudah menghindari pertahanan kekebalan tubuh dan membuatnya sedikit lebih menular daripada varian JN.1 seperti disampaikan Professor Microbiology dan Immunolog dari Columbia University, David Ho.
KP.2 bahkan berpotensi menginfeksi orang yang telah menerima vaksin terbaru, karena vaksin tersebut dirancang untuk menargetkan XBB.1.5, varian yang berbeda dari JN.1.
"Varian ini bisa menghindari kekebalan yang diberikan oleh vaksinasi sebelumnya atau infeksi sebelum JN.1," kata Dr. Leong Hoe Nam, seorang ahli penyakit menular di Klinik Rophi Singapura.
Leong Hoe Nam memprediksikan akan terjadi "peningkatan kecil" dalam kasus COVID-19 dalam beberapa minggu ke depan karena varian ini.
Namun, dia meyakinkan bahwa peningkatan ini akan "relatif kecil dibandingkan dengan JN.1", karena infeksi JN.1 sebelumnya memberikan "perlindungan yang signifikan" terhadap KP.1 dan KP.2.
Meskipun risiko keparahan dan kematian akibat varian KP.1 dan KP.2 tergolong rendah, Dr. Fikadu Tafesse, seorang ahli virologi di Universitas Kesehatan & Sains Oregon, mengingatkan bahwa infeksi berulang dapat meningkatkan risiko komplikasi COVID-19 jangka panjang.
Dr. Leong menegaskan bahwa saat ini belum ada obat untuk COVID-19 jangka panjang, dan vaksinasi merupakan langkah penting untuk menghindari risiko komplikasi tersebut.
Perlukah Indonesia Khawatir?
Kenaikan kasus COVID-19 di Singapura membuat sebagian masyarakat jadi kepikiran. Diketahui, varian KP yang terdeteksi di ASEAN tidak hanya bersirkulasi di Singapura saja, melainkan ada juga di Malaysia, Thailand dan Kamboja. Meski demikian, varian KP belum ditemukan di Indonesia.
“Sampai Mei 2024, kasus COVID-19 yang beredar di Indonesia didominasi oleh subvarian Omicron JN.1.1, JN.1, dan JN.1.39. Kalau subvarian KP, belum ditemukan,” ujar Juru Bicara Kemenkes RI dr Mohammad Syahril melalui keterangan tertulis, Rabu, 22 Mei 2024.
Meski saat ini, KP.1 dan KP.2 belum terdeteksi masuk Indonesia, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin berpendapat bakal masuk dalam waktu dekat. Hal ini terkait dengan traffic antara Indonesia - Singapura yang tinggi.
"Singapura tetangga ya dan traffic-nya antara Singapura dan Indonesia juga cukup tinggi, saya rasa sih pasti akan masuk ke Indonesia," kata Menkes Budi di Gedung DPR RI pada Selasa, 21 Mei 2024.
Meski begitu, Budi yakin bila strain tersebut masuk, angkanya tidak bakal terlalu mengkhawatirkan lantaran kebanyakan masyarakat Indonesia sudah memiliki imunitas. Hal serupa juga disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan dokter Siti Nadia Tarmizi di kesempatan berbeda.
Nadia juga mengungkapkan belum ada rencana untuk membatasi masuknya orang yang berasal dari Singapura ke Indonesia. Meski begitu, Kemenkes terus memonitor penyebaran infeksi kasus COVID-19.
"Nggak (red: tidak membatasi orang dari Singapura masuk Indonesia). Kita hanya jaga surveilans. Memonitor saja," kata Nadia dalam pesan tertulis pada Liputan6.com.
Situasi COVID-19 di Indonesia
Mengenai situasi COVID-19 di Indonesia hingga Mei 2024, kasus konfirmasi mengalami peningkatan pada minggu ke-18 tahun 2024 sebesar 11,76% dibandingkan minggu sebelumnya. Merujuk data GISAID Indonesia 2024, saat ini sebagian besar kasus masih didominasi varian JN.1.
Meski terjadi peningkatan kasus COVID, Syahril menekankan, hal itu tidak diikuti dengan peningkatan angka rawat inap (hospitalisasi) dan kematian.
Data Laporan Mingguan Nasional COVID-19 Kemenkes RI periode 12-18 Mei 2024 mencatat, terdapat 19 kasus konfirmasi, 44 kasus rawat ICU, dan 153 kasus rawat isolasi. Tren positivity rate mingguan di angka 0,65% dan nol kematian. Tren orang yang dites per minggu mencapai 2.474 orang.
Belajar dari lonjakan kasus saat pandemi, Indonesia telah memiliki strategi dalam penanggulangan COVID-19, yaitu mengintensifkan kapasitas mencakup manajemen klinis, surveilans, imunisasi, promosi kesehatan dan sebagainya.
“Upaya yang telah disiapkan adalah rumah sakit sudah memiliki peringatan dini (early warning) dalam konversi tempat tidur, adanya tenaga cadangan, kesiapan perbekalan kesehatan seperti oksigen, obat-obatan serta vaksinasi, terutama bagi kelompok berisiko,” kata Juru Bicara Syahril.
Kemenkes terus memantau pola penyebaran penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB), termasuk COVID-19. Saat ini, sudah terbentuk jejaring pada lebih 15.000 fasilitas kesehatan, laboratorium, dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) di seluruh Indonesia untuk memantau penyebaran penyakit potensial tersebut.
“Selain itu, integrasi surveilans influenza dan COVID-19 sudah dilakukan sesuai dengan rekomendasi global. Rumah sakit-rumah sakit di Indonesia sudah siap jika memang ada potensi peningkatan kasus,” terang Syahril.
“Ini terus kami pantau melalui laporan Bed Occupation Rate (BOR) ruang isolasi dan/atau ICU, baik itu secara harian/mingguan.”
Belum Ada Urgensi Pembatasan Perjalanan
Mengenai pembatasan perjalanan terkait peningkatan kasus COVID-19 akibat varian KP.1 dan KP.2 di Singapura, Mohammad Syahril menegaskan, belum ada urgensi melakukan langkah tersebut. Hal ini sebagaimana laporan yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan Singapura.
“Menurut informasi yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan Singapura, berdasarkan penilaian risiko yang ada saat ini, belum ada urgensi untuk melakukan pembatasan perjalanan dari atau ke Singapura,” tegasnya.
“Situasi transmisi COVID-19 masih terkendali. Jadi, sekarang ini belum memerlukan pembatasan mobilitas dan aktivitas masyarakat meskipun ada lonjakan kasus.”
Kemenkes melalui Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) pun selalu melakukan skrining untuk pelaku perjalanan, termasuk dengan menerapkan kegiatan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di pintu masuk Indonesia.