Jumat, 05 Jun 2026
  • Home
  • Opini
  • AI di Ruang Kelas: Guru Terbantu atau Tersaingi?

Opini,

AI di Ruang Kelas: Guru Terbantu atau Tersaingi?

Oleh : Riau Wika, S.Pd., M.Sn
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 05 Jun 2026 06:30

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Teknologi yang dahulu hanya ditemukan dalam film-film fiksi ilmiah kini hadir dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pencarian informasi, penerjemahan bahasa, pembuatan desain, hingga membantu menyusun dokumen dan menyelesaikan pekerjaan. Dunia pendidikan pun tidak luput dari pengaruh perkembangan tersebut. Kehadiran AI di ruang kelas memunculkan pertanyaan yang semakin sering diperbincangkan: apakah guru akan terbantu atau justru tersaingi oleh teknologi ini?

Pertanyaan tersebut bukanlah kekhawatiran yang berlebihan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai aplikasi berbasis AI semakin mudah diakses oleh siswa dan guru. Dengan mengetikkan sebuah pertanyaan, siswa dapat memperoleh penjelasan materi, rangkuman bacaan, bahkan jawaban tugas dalam hitungan detik. Di sisi lain, guru juga mulai memanfaatkan AI untuk menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal, merancang media pembelajaran, hingga melakukan evaluasi belajar. Kondisi ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan modern.
Bagi sebagian orang, kehadiran AI dianggap sebagai ancaman bagi profesi guru. Mereka khawatir teknologi ini akan menggantikan peran pendidik dalam proses pembelajaran. Kekhawatiran tersebut muncul karena AI mampu menyediakan informasi secara cepat, menjawab berbagai pertanyaan, dan memberikan penjelasan yang tampak sistematis. Jika siswa dapat belajar langsung dari AI, apakah mereka masih membutuhkan guru?

Namun, pandangan tersebut perlu dilihat secara lebih bijaksana. Pada dasarnya, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk karakter, menanamkan nilai, mengembangkan keterampilan sosial, dan membangun kepribadian peserta didik. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara AI dan manusia. AI mungkin dapat menjelaskan rumus matematika atau teori ilmiah dengan cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan sentuhan emosional, empati, keteladanan, dan hubungan interpersonal yang dimiliki seorang guru.

Seorang guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing. Ketika seorang siswa kehilangan motivasi belajar, mengalami masalah keluarga, atau menghadapi tekanan sosial, yang dibutuhkan bukanlah jawaban otomatis dari mesin, melainkan kehadiran seorang pendidik yang mampu memahami kondisi mereka. Guru dapat membaca ekspresi wajah, memahami bahasa tubuh, dan memberikan dukungan emosional yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kemampuan seperti ini masih menjadi keunggulan manusia yang belum dapat digantikan oleh teknologi.

Alih-alih menjadi pesaing, AI sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi mitra guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu tantangan yang selama ini dihadapi guru adalah beban administrasi yang cukup besar. Penyusunan perangkat pembelajaran, pembuatan soal, pengolahan nilai, hingga penyusunan laporan sering kali menyita waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk berinteraksi lebih intensif dengan siswa. Dengan bantuan AI, berbagai tugas administratif tersebut dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Sebagai contoh, seorang guru dapat memanfaatkan AI untuk menghasilkan variasi soal sesuai tingkat kemampuan siswa. Guru juga dapat meminta AI menyusun ringkasan materi, membuat skenario pembelajaran, atau memberikan ide aktivitas yang lebih kreatif. Dengan demikian, waktu dan energi guru dapat difokuskan pada aspek yang lebih penting, yaitu membimbing dan mendampingi proses belajar siswa.

Di sisi lain, kehadiran AI juga menuntut perubahan dalam cara mengajar. Model pembelajaran yang hanya berfokus pada hafalan dan reproduksi informasi menjadi semakin kurang relevan. Ketika informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui AI, kemampuan yang perlu dikembangkan pada siswa adalah berpikir kritis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, kolaborasi, dan literasi digital. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membantu siswa memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak.

Perubahan ini menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi. Literasi teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Guru perlu memahami cara kerja AI, kelebihan dan keterbatasannya, serta strategi pemanfaatannya dalam pembelajaran. Dengan pemahaman yang baik, guru dapat mengarahkan siswa menggunakan AI secara produktif, bukan sekadar sebagai alat untuk mencari jawaban instan.
Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah munculnya ketergantungan siswa terhadap AI. Kemudahan memperoleh jawaban dapat membuat sebagian siswa kehilangan semangat untuk berpikir dan berusaha. Jika tidak diimbangi dengan pengawasan dan strategi pembelajaran yang tepat, AI berpotensi mendorong perilaku belajar yang pasif. Siswa mungkin lebih memilih menyalin hasil dari AI dibandingkan memahami proses berpikir di balik jawaban tersebut.

Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam menanamkan etika penggunaan teknologi. Siswa perlu diajarkan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses belajar. Mereka harus memahami pentingnya verifikasi informasi, kejujuran akademik, serta kemampuan berpikir mandiri. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai pembimbing yang membantu siswa memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Selain itu, tidak semua informasi yang diberikan AI selalu benar. AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya mengandung kesalahan atau informasi yang tidak akurat. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Guru perlu mengajarkan siswa untuk tidak menerima informasi secara mentah, melainkan melakukan pengecekan, membandingkan sumber, dan menganalisis kebenarannya.

Dalam dunia pendidikan seni, misalnya, AI dapat membantu membuat ilustrasi, menghasilkan aransemen musik sederhana, atau memberikan referensi kreatif. Namun, AI tidak dapat menggantikan pengalaman estetis, ekspresi emosional, dan nilai budaya yang menjadi inti dari proses berkesenian. Kreativitas manusia tetap menjadi faktor utama dalam menghasilkan karya yang bermakna. Oleh sebab itu, pemanfaatan AI dalam pendidikan seni seharusnya dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti kreativitas manusia.

Ke depan, perdebatan mengenai apakah AI akan menggantikan guru kemungkinan masih akan terus berlangsung. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap perkembangan teknologi selalu membawa perubahan dalam cara manusia bekerja, bukan serta-merta menghilangkan profesi tertentu. Kehadiran kalkulator tidak menghapus peran guru matematika, begitu pula internet tidak menghilangkan kebutuhan akan sekolah. Teknologi mengubah cara kerja, sementara peran manusia beradaptasi dan berkembang.
Demikian pula dengan AI. Masa depan pendidikan bukanlah tentang pertarungan antara guru dan teknologi, melainkan tentang kolaborasi keduanya. Guru yang mampu memanfaatkan AI secara bijak akan memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Sebaliknya, menolak perkembangan teknologi justru berisiko membuat pendidikan tertinggal dari realitas kehidupan yang dihadapi peserta didik.

Pada akhirnya, pertanyaan "guru terbantu atau tersaingi?" dapat dijawab dengan sederhana: guru akan terbantu jika mampu beradaptasi, tetapi akan merasa tersaingi jika enggan berubah. AI tidak hadir untuk menggantikan peran guru, melainkan untuk mendukung proses pendidikan yang lebih baik. Di tengah kemajuan teknologi yang terus melaju, sosok guru tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan sebagai pendidik, pembimbing, teladan, dan inspirasi bagi generasi masa depan. Karena secanggih apa pun teknologi yang diciptakan manusia, pendidikan tetap membutuhkan sentuhan manusiawi yang hanya dapat diberikan oleh seorang guru.

Penulis :Oleh : Riau Wika, S.Pd., M.Sn
Dosen Program Studi Pendidikan Sendratasik, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Negeri Makassar

Opini
Berita Terkait
  • Kamis, 04 Jun 2026 16:35

    Diduga Angkut Kayu Ilegal, Dua Unit Colt Diesel Ditinggalkan di Wilayah Bunut

    PELALAWAN â€" Jajaran Polsek Bunut mengamankan dua unit mobil colt diesel yang diduga bermuatan kayu alam tanpa dokumen resmi di Jalan Lintas Bono, Desa Balam Merah, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalaw

  • Kamis, 04 Jun 2026 16:33

    Putra Asal Kuansing Priandi Firdaus Dilantik Jadi Kasidik Kejati Kepri

    KUANTAN SINGINGI-Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Putra daerah asal Rantau Kuantan, Priandi Firdaus Bahar, SH, MH, resmi mendapat promosi jabatan di lingkung

  • Kamis, 04 Jun 2026 16:30

    Ratusan Personel Gabungan Kawal Pemindahan 986 Narapidana ke Lapas Tanah Putih

    TANAH PUTIH-Poses pemindahan narapidana dari Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi di Kecamatan Bangko menuju Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi yang berada di Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, berlang

  • Kamis, 04 Jun 2026 16:28

    Tangkap 3 Tersangka, Polres Inhu Berhasil Amankan 8 Kg Sabu dan 19 Ribu Butir Ekstasi

    RENGAT-Satres Narkoba Polres Indragiri Hulu (Inhu) menorehkan prestasi membanggakan dengan berhasil mengungkap jaringan peredaran Narkoba jenis sabu sabu dan pil ekstasi, tak tanggung tanggung 8 kilog

  • Kamis, 04 Jun 2026 16:07

    3 Pria WNA Nigeria Ditemukan Mengenaskan di Apartemen Jakbar, 2 Tewas

    Tiga warga negara (WN) Nigeria ditemukan dalam kondisi mengenaskan tergeletak di sebuah unit apartemen di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Dua di antaranya tewas, sedangkan seorang lainnya ditemukan

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.