Nasional
Di Depan Para Purnawirawan, Panglima TNI Ungkap Ketakutannya
Kamis, 02 Jun 2016 13:46
JAKARTA – Di hadapan para purnawirawan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan kekhawatirannya terhadap persoalan ledakan penduduk. Terlebih saat ini, untuk populasi sebanyak satu miliar, hanya dibutuhkan waktu selama enam tahun.
"Ketakutan saya terhadap bangsa ini kedepan, pertumbuhan penduduk dunia. 1 miliar dulu butuh 130 tahun, lalu turun 30 tahun, 12 tahun, dan 6 tahun," ujar Gatot di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (2/6/2016).
Mantan KSAD itu menambahkan, idealnya, bumi hanya menampung 3-4 miliar penduduk. Adapun dampak ledakan polulasi saat ini ialah, 41 ribu anak meninggal lantaran kemiskinan, kelaparan, dan gizi buruk.
"Populasi dan kapasitas bumi, idealnya hanya menampung 3-4 miliar. 1 hari 41 ribu anak meninggal dunia karena kemiskinan, kelaparan dan gizi buruk," imbuhnya.
Sementara itu, disisi lain, Gatot membeberkan bahwa peta konflik dunia dipengaruhi oleh faktor energi. Bahkan, ia mengklaim 70 persen pertempuran, dilatarbelakangi oleh penguasaan sumber daya energi, khususnya minyak. "Di sisi lain, konflik dunia, 70 persen karena berlatar belakang energi fosil," sambungnya.
Bahkan, Gatot memprediksi, pada 2043 mendatang, energi minyak yang bersumber dari fosil bakal habis. Apalagi, sumber energi tersebut tidak dapat diperbaharui. Alhasil, sejumlah negara pun mulai melirik energi alternatif, salah satunya yang berasal dari tumbuhan (nabati). "Energi fosil habis 2043, karena tidak bisa terbaharui dan tidak tergantikan. Ada energi alternatif, tumbuh-tumbuhan," jelas Gatot.
Sementara kawasan ekuator, memiliki potensi pertanian yang melimpah, termasuk untuk ditanami tumbuhan yang bisa memproduksi energi alternatif. Alhasil, pada 2043, jumlah penduduk yang berada di luar ekuator, bakal berjumlah 9,8 milar dari 12,3 milar penduduk dunia. Hal tersebut, selanjutnya juga berdampak pada pergeseran peta konflik dunia.
"Kesuburan daerah ekuator memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun. 2043, jumlah penduduk 12,3 mliar, yang tinggal diluar ekuator 9,8 milar. Peta konflik bergeser, dari energi ke ekonomi (pangan-air)," sambungnya.
Sebab itu, Panglima TNI mengingatkan Indonesia yang berada di wilayah ekuator untuk bersiap dengan tantangan tersebut. "Indonesia, negara kepulauan terbesar di ekuator. Ir Soekarno pernah berpesan negara lain suatu saat akan iri dengan kekayaan alam Indonesia. Inilah ancaman nyata bangsa Indonesia kedepan," tandasnya. (okezone.com)
PWI Pusat Gelar Takziah dan Doa Bersama, Sekjen Zulmansyah Sekedang Dikenang Sosok Total dan Berdedikasi
Jakarta-Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, mengenang Sekjen PWI Pusat, almarhum Zulmansyah Sekedang sebagai sosok yang tidak hanya berdedikasi tinggi, tetapi juga mendapatkan penghormatan luas dari b
Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa Jurnalistik
JAKARTA-Dewan Pers menggelar diskusi bertajuk “Membaca Kasus Magdalene.id dari Kacamata Pers” di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mem
Aklamasi, Purnomo Yusgiantoro Nahkodai DPP IKAL Lemhannas
Jakarta-Prof Dr Ir Purnomo Yusgiantoro MSc MA PhD IPU terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL Lemhannas) periode 2025-2030.Menteri Perta
Kemenhan Fasilitasi Retret Bela Negara 200 Wartawan Sambut HPN 2026
JAKARTA-Kementerian Pertahanan RI bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menyiapkan retret khusus wartawan di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah, pada akhir Januari atau awal Febr
Dukung Kelancaran Operasi Hulu Migas, 13 Sertipikat Hak Pakai Lahan WK Rokan Diserahkan kepada PHR
Jakarta-PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 â€" Sumatra kembali menerima Sertipikat Hak Pakai (SHP) atas Barang Milik Negara (BMN) berupa tanah hulu migas di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Provinsi Ri