Kisruh Heli Presiden, Pengamat: PT DI Harus Siap Dikritik
Senin, 30 Nov 2015 08:33
Menqanggapi hal tersebut, pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menilai, nasionalisme dalam wujud penggunaan produk dalam negeri memang butuh bukti nyata. Terlebih di awal masa pemerintahannya, Presiden Jokowi telah menekankan fokus pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan yang juga meliputi kemandirian alutsista.
"Namun tentunya bagi industri strategis yang bakal 'banjir order' ini, perhatian terhadap kualitas produk dan layanan konsumen juga penting, termasuk PT DI. TNI AU beberapa waktu lalu pernah pesan sejumlah armada ke PT DI, tapi hingga saat ini kabarnya belum satupun yang diserahkan," ujar Fahmi kepada Okezone, Senin (30/11/2015).
Selain itu, masalah perawatan, pengadaan suku cadang yang harus satu pintu serta kerugian tidak adanya transfer teknologi jika membeli dari industri nasional juga harus menjadi pertimbangan. Fahmi menambahkan, padahal pengembangan produksi alutsista nasional juga masih butuh transfer kemampuan dari luar.
"Nah, keluhan-keluhan pengguna ini tentu harus diperhatikan dan dikonfirmasi oleh PT DI," imbuhnya.
Meski demikian, Fahmi meminta, KSAU juga harus secara gamblang membeberkan alasannya ingin memakai AW-101. Bahkan, ia menyebut, konon permintaan KSAU untuk menggunakan produk ini sudah muncul, jauh sebelum unit-unit yang berkepentingan terhadap penggunaan alutsista ini menuntaskan evaluasi terhadap kebutuhan pengadaannya.
"Padahal mestinya pengajuan dilakukan setelah hasil evaluasi di lapangan menyimpulkan adanya kebutuhan oleh pengguna akhir, yang kemudian dikomparasi dengan berbagai varian produk yang ada. Nah kesimpulan itulah yang mestinya jadi acuan kepada Kementerian Pertahanan selaku penanggungjawab pengadaan dalam rangka pengembangan kemampuan pertahanan," sambungnya.
Sebab itu, ia mengimbau agar para pemangku kepentingan duduk bersama dan mendiskusikan persoalan ini tanpa gaduh di media.
Fahmi meminta agar PT DI harus siap dikritik, sedangkan lalu KSAU juga harus siap membeberkan alasannya terkait penggunaan vendor tertentu. Apa plus-minusnya bagi negara, dari aspek teknis, ekonomi, politik maupun bagi keamanan nasional.
"Jangan sampai publik melihat bahwa sebenarnya tak ada yang spesial dari pengadaan alutsista ini. Sama dengan pengadaan di instansi lainnya, ini hanya pertarungan soal bendera siapa, bawaan siapa, speknya kuncian siapa, pertarungan user atau pembuat komitmen. Lalu soal berapa besar komitmen 'bribery' dan 'kick-back'. Tanpa peduli soal logika ideal pengadaan barang dan jasa pemerintah terutama soal urgensi, besaran anggaran dan taat asas," pungkasnya.
Dua Korban Tanah Longsor Subang Ditemukan Meninggal Dunia, Operasi SAR Resmi Ditutup
Dua individu yang sebelumnya dilaporkan hilang akibat bencana tanah longsor di Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Subang, Jawa Barat, telah ditemukan. Kedua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia
Awal Mula Oknum TNI Diduga Tembak Rekannya di Kafe Palembang, Dipicu Senggolan saat Joget.
Peristiwa penembakan antar sesama anggota TNI terjadi di sebuah kafe dan tempat hiburan malam di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (16/5/2026) dini hari.Insiden tersebut mengakibatkan seorang pr
Viral Ibu-Ibu Ricuh Bawa Sound System di Konser Afgan, Netizen Sebut Pernah Berulah Sebelumnya
JAKARTA-Jagat maya tengah diramaikan dengan video viral yang memperlihatkan ibu-ibu membuat kericuhan saat gelaran konser Afgan di mal Grand Indonesia. Video tersebut viral setelah diunggah oleh akun
Banjir Bandang Terjang 2 Kecamatan di Semarang, 2 Orang Tewas
SEMARANG, iNews.id â€" Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (15/5/2026) malam mengakibatkan banjir bandang di dua kecamatan. Bencana ini memakan korb
Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih, Targetkan 20 Ribu Unit Berdiri pada Agustus 2026.
JAKARTA-Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Tidak tanggung-ta