Nusantara
MUI Minta Pesantren Waspada LGBT
Rabu, 24 Feb 2016 09:58
Bukan tidak mungkin perilaku penyimpangan seksual ini masuk ke kalangan pondok pesantren. Karena penyebaran LGBT itu dinilai mirip dengan paham aliran sesat yang mudah dipercayai oleh masyarakat, terutama kaum muda.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi mendapati potensi masuknya LGBT ke lingkungan pesantren. Kampanye yang dilakukan selama ini agar LGBT dilegalkan, mulai mengkhawatirkan. Pasalnya, kampanye tersebut kini telah banyak memunculkan simpati dari masyarakat.
"Sekarang LGBT banyak berkampanye di berbagai media, berbicara ke publik minta agar pemerintah melegalkan mereka. Kampanye ini merupakan bagian dari sebaran perilaku menyimpang. Berusaha meraih simpati masyarakat. Padahal jelas perilaku mereka ini dilarang oleh agama tapi sayangnya mereka malah bangga dan memperjuangkan perilaku ini," ujar Ketua MUI Kabupaten Bekasi Nurul Anwar, Selasa kemarin.
Diungkapkan Nurul, MUI Kabupaten Bekasi belum menemukan adanya kaum LGBT di lingkungan pesantren. Namun indikasi ke arah tersebut mulai ditemukan. Aktivitas menyimpang ini banyak menyasar anak muda termasuk para santri yang mencari jati diri.
"Kalau temuan belum ada tapi tetap harus diwaspadai. Secara umum kan menyerang anak muda sedangkan pengajian banyaknya orang-orang tua," kata dia.
Menurut Nurul, LGBT merupakan kaum yang memiliki penyimpangan perilaku hingga sakit pada sisi kejiwaannya. Mereka perlu diobati dengan pendekatan keagamaan.
"LGBT sudah sangat jelas, tidak perlu jadi polemik. Mereka adalah orang yang perlu diperbaiki dan diobati. Ada yang sakitnya penyimpangann, ada yang sakitnya kejiwaan. Yang menyimpang itu yang suka sejenis namun yang sudah sakitnya kejiwaan ini yang seperti transgender. Jadi mereka itu sudah sangat menyimpang dari ajaran Islam. Mereka sadar bahwa itu kesalahan tapi mereka bangga dengan perbuatan dosa," kata Nurul.
Kabupaten Bekasi pun dinilai rawan LGBT. Hal tersebut dipengaruhi
dari tingginya akses informasi yang didapat. Selain itu, LGBT juga masuk
dari banyaknya masyarakat pendatang di Kabupaten Bekasi
"Kabupaten Bekasi ini relatif lebih baik teknologi informasinya tapi kekhawatirannya pun tinggi. Termasuk jalur urbanisasi dari masyarakat pendatang yang ke Bekasi. Sebenarnya masyarakat Bekasinya tidak cuma ada yang masuk," kata dia.
Lebih lanjut Nurul mengindikasi ada pihak yang menggerakkan kaum LGBT. Tujuannya untuk merusak akidah bangsa melalui perilaku menyimpang. Menurut Nurul, isu LGBT pun kini telah sukses menggantikan semangat setiap orang untuk memberantas aliran sesat.
"Kami masih menduga ada pihak yang berada di belakang ini. Menariknya mengapa isu LGBT ini keluarnya berbarengan dengan Gafatar. Kami dari MUI masih terus mengkaji. LGBT bukan aliran tapi apa yang dilakukan telah keluar aturan," kata dia.
Pendapatan Negara di Riau Tumbuh 12,69 Persen, APBN Masih Surplus Rp 463 Miliar
PEKANBARU - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Provinsi Riau hingga akhir Mei 2026 menunjukkan hasil yang positif. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harg
Beredar Info Tim KPK Geledah Rumah dan Periksa Sekda Kuansing
Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan tengah sedang melakukam pemeriksaan sekaligus penggeledahan di rumah dinas Sekda Kuansing, Zulkarnain, Senin (29/2026. Informasi lain menyebutkan Bupa
Bahlil: RI Butuh 4 Juta KL Etanol Buat Program E20
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan soal kebutuhan etanol untuk menghadirkan BBM E20 tembus 4 juta kilo liter per tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (
Seskab Teddy Sebut 30 Persen Peserta Magang Nasional 2025 Langsung Diterima Kerja
JAKARTA - Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya mengungkapkan sebanyak 30 persen peserta Program Magang Nasional 2025 langsung diterima bekerja setelah menyelesaikan masa magang selama enam
Prabowo Beberkan Kunci Negara Maju: Berani Akui Kekurangan dan Fokus Cari Solusi
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa keberhasilan sebuah negara bukan ditentukan oleh kemampuannya menghindari persoalan, melainkan oleh keberaniannya menghadapi dan menyelesa