Minggu, 14 Jun 2026

Bersatu untuk Iklim Global

Kamis, 03 Des 2015 09:54
Ilustrasi

Pertemuan tahunan dari negara-negara yang ikut serta dalam mengambil langkah atas iklim, yang tahun ini akan berlangsung di Perancis dari tanggal 30 November hingga 11 Desember 2015, tepatnya di Le Bourget. Pertemuan tahunan ini merupakan ke-21 yang lebih populer dengan nama COP-21 (The 21st United Nation Conference on Climate Change).

Pada awalnya issue tentang perubahan iklim kurang ditanggapi dengan serius. Hingga sekarang  masih banyak manusia yang tidak perduli dengan topik ini, meskipun perubahan iklim yang sangat anomalis sudah nyata dirasakan. Iklim telah berubah sangat tidak normal. Di sebagian belahan bumi terjadi kekeringan yang berkepanjangan, musim-musim berubah dan sulit untuk diprediksi membuat prediksi. Musim hujan berkepanjangan serta badai besar terjadi di beberapa negara. Kenaikan suhu bumi terjadi secara global dan sudah dirasakan. Dampaknya terhadap perubahan iklim akhirnya menjadi topik penting untuk sama-sama dibicarakan dan ditanggulangi bersama oleh penduduk di planet bumi yang ditinggali bersama ini.

Sepanjang 100 tahun terakhir telah terjadi peningkatan suhu antara 0.3° and 0.6°C. Jika dibandingkan dengan tahun 1850-an suhu bumi sekarang mengalami peningkatan sekitar 0,8°C. Indonesia sendiri dalam rentang 1970 - 2004 mengalami kenaikan suhu rata-rata tahunan antara 0,2 – 1 °C. Panel Antar pemerintah Tentang Perubahan Iklim  (IPPC/Intergovernmental Panel on Climate Change ) menyebutkan bahwa apabila kenaikan suhu global mencapai 2 °C dampaknya akan semakin serius terhadap kehidupan di bumi.

Bagaimana terjadinya peningkatan suhu bumi?  Setiap hari planet bumi menerima pancaran (radiasi) sinar matahari dalam bentuk gelombang pendek dan gelombang panjang, yang sampai ke bumi setelah melalui lapisan-lapisan atmosfer bumi. Ketika melewati permukaan lapisan atmosfer bumi sebagian radiasi sinar matahari yang menuju bumi dipantulkan kembali, sebagian lagi radiasi tersebut akan menembus dan memasuki lapisan atmosfer dan diteruskan ke permukaan bumi. Radiasi dalam bentuk gelombang panjang yang memasuki bumi sebagian akan diserap, dan sebagian lagi kembali dipantulkan oleh permukaan bumi baik laut, daratan dan benda-benda di permukaan bumi. Proses pemantulan ini akan mengembalikan radiasi gelombang panjang lepas ke luar lingkungan atmosfer bumi. Demikianlah proses ini  berlangsung menyebabkan bumi tetap hangat dan nyaman mendukung kehidupan di bumi.  Dengan demikian suhu bumi sangat tergantung kepada kemampuan lapisan atmosfer bumi dalam memantulkan dan melepaskan sebagian radiasi matahari.  

Perubahan suhu bumi akan sangat mempengaruhi kehidupan yang ada di atasnya.

Adanya lapisan gas-gas di atmosfer, khususnya di lapisan troposfer yang tingginya 7 km di atas kutub dan 17 km di atas ekuator, yang dikenal dengan kelompok gas rumah kaca (GRK) ikut berperan menahan pancaran radiasi panas bumi. Radiasi dalam bentuk gelombang panjang yang sebagian seharusnya terlepas ke luar ditahan oleh di atmosfer oleh gas-gas rumah kaca, serta akan terkurung di lapisan atmosfer bumi menyebabkan peningkatan panas di bumi dibanding dengan keadaan normal yang selama ini kita rasakan.

Gas-gas rumah kaca terdiri lebih dari 30 jenis, dengan  karbondioksida (CO2) sebagai gas utama (26 persen), metana (4 – 9 persen) dan selebihnya berupa dinitroksida (NO2), hidroflorokarbon (HFCs), perflorokarbon (PFCs) dan sulfurheksaflorida (SF6) dan lainnya. Setiap gas rumah kaca tersebut memiliki kemampuan memerangkap panas yang berbeda-beda, tetapi mengingat karbondioksida sebagai komponen gas rumah kaca paling banyak maka sering disebut bahwa pemicu utama pemanasan global adalah meningkatnya jumlah karbon dioksida di atmosfer yang diakibatkan peningkatan gas buangan karbon yang di lepas ke atmosfer.

Gas Rumah Kaca

Aktifitas hidup manusia dengan segala kemajuan dalam peradabannya menghasilkan gas-gas rumah kaca. Sebut saja CO2 adalah buangan gas hasil pembakaran minyak bumi seperti bensin, solar dan bahan bakar lainnya yang dikeluarkan oleh semua mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar tersebut, baik mesin kenderaan bermotor, mesin-mesin pabrik, mesin-mesin penghasil energi listrik.

Ditengarai sejak revolusi industri dimulai tahun 1850, terjadi peningkatan gas buang karbon ke atmosfer oleh aktifitas manusia seiring dengan peningkatan penggunaan sumber energi yang berasal dari fosil (minyak, batubara dan gas) tersebut. Peningkatan pembakaran sumber-sumber energi batubara hingga minyak bumi untuk transportasi, industri maupun rumah tangga merupakan penyumbang terbesar gas sisa hasil pembakaran berupa karbondioksida ke atmosfer. Hanya dari aktifitas pembakaran sumber energi asal fosil ini saja sebanyak 6,3 giga ton gas buangan karbondioksida dihasilkan dan dilepas ke atmosfer setiap tahunnya. Saat ini kalau diambil nilai rata-ratanya maka setiap individu di dunia mengeluarkan karbon dioksida sebesar 4.060 kilogram setiap tahunnya.

Suhu bumi semakin memanas akibat lapisan gas rumah kaca yang semakin lama menumpuk dan menebal sehingga memerangkap panas yang lebih banyak. Ini jugalah yang memicu  pencairan es di kutub, air pasang dan badai, serta perubahan iklim secara global. Pencairan lapisan es yang berada di Antartic and Greenland telah berlangsung lama, dan telah terjadi pencairan hingga 75 persen saat ini. Setiap tahunnya, lapisan es di Greenland mencair dengan kecepatan sebesar 239 cubic kilometres. Selain menurunkan efek pendinginan untuk bumi, pencairan lapisan es juga akan menaikkan tinggi permukaan air laut hingga beberapa meter dari permukaan semula, dan dikhawatirkan banyak pulau-pulau kecil baik yang didiami maupun tidak suatu waktu akan tenggelam. Sekitar 42 negara kepulauan kecil akan hilang tenggelam, belum sejumlah pulau yang berada di negara kepulauan besar.

Hutan mendukung dunia bukan hanya sebagai tempat resapan air, tetapi sekaligus mempengaruhi iklim melalui tiga cara, yang pertama: hutan menyerap gas karbondioksida dari atmosfer sehingga membantu mendinginkan bumi, menguapkan air ke atmosfer sehingga membentuk awan yang berefek meneduhkan bumi, hutan gelap dan menyerap sinar matahari sehingga ikut menjaga kehangatan bumi. Sehubungan dengan efek rumah kaca, hutan berperan sebagai penyerap karbondioksida yang sekaligus melepaskan oksigen dan air ke atmosfer, dimana sekitar 80 persen penyerapan karbon terjadi oleh vegetasi hutan.

Kenyataannya daya serap alam terhadap CO2 tidak lagi seimbang dengan produksi CO2 yang dilepas ke atmosfer. Artinya di satu sisi eksploitasi manusia khususnya atas sumber-sumber energi fosil telah menghasilkan gas buang yang sangat besar, di sisi lain alam tidak mampu lagi menyerap buangan karbondioksida. Ketidakseimbangan ini diperparah lagi oleh laju kehilangan hutan yang sangat besar oleh kerusakan hutan, kebakaran hutan maupun penggundulan hutan baik legal maupun illegal.

Perhatian terhadap gas rumah kaca tersebut berhubungan erat dengan issue tentang pemanasan global yakni terjadinya kenaikan suhu bumi yang memicu terjadinya perubahan iklim.  Usaha untuk mempertahankan hutan tropis ada di tangan manusia yang tinggal di daerah tropis, usaha yang berdampak pada kebaikan seisi dunia. Usaha ini didukung oleh negara-negara yang tinggal di daerah sub-tropis dengan melakukan usaha-usaha pemberian insentif atas setiap usaha mengurangi buangan gas rumah kaca maupun usaha-usaha memperluas/mempertahankan hutan yang mampu menyerap gas buangan karbondioksida.

Tantangan yang harus dijawab manusia yang mendiami planet ini serta yang diserahi tanggungjawab memelihara bumi. Semenjak konferensi  pertama yang berlangsung  3 – 14 Juni 1979 di Jenewa, Swiss, minggu-minggu ini lah kali ke 21 negara-negara yang tergabung dalam perserikatan bangsa-bangsa melakukan konferensi tentang iklim global. Dalam perjalanannya, protokol penanganan perubahan iklim global  dengan target emisi negara industri yang dikenal dengan protokol Kyoto (1-12 Desember 1997) dianggap gagal diimplementasikan. Kemudian pada COP-15 , 7 – 18 Desember 2009, dalam Kesepakatan Kopenhagen (Kopenhagen Accord) oleh sebagian (sekian dari 190 negara) negara peserta hanya disebutkan emisi karbon harus dikurangi hingga kenaikan suhu bumi global tidak melampai 2 derajat Celsius.  Tawar menawar, lobby-lobby dan perdebatan akan terjadi tentang  dan penetapan atas target emisi gas rumah kaca negara-negara, kelanjutan REDD, dan mungkin aksi-aksi dan kesepakatan baru akan diajukan. Mari kita tunggu hasilnya, dan sementara itu setiap orang agar melakukan aksinya untuk menyelamatkan bumi.

(analisadaily.com)
Opini
Berita Terkait
  • Minggu, 14 Jun 2026 18:14

    ANKER Soundcore Luncurkan TWS Berbasis AI Liberty 5 Pro Series, Cek Fitur dan Harganya

    JAKARTA â€" Brand audio terkemuka, ANKER soundcore, resmi merilis true wireless earbuds (TWS) premium generasi terbarunya, ANKER soundcore Liberty 5 Pro Series, di pasar Indonesia. Mengusung kons

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:13

    Xiaomi Pamerkan Lengan Robotik Pengisi Daya Otomatis untuk Mobil Listrik

    JAKARTA â€" Xiaomi mendemonstrasikan lengan robot yang dapat mengotomatisasikan pengisian daya mobil listrik di rumah. Perangkat ini ditujukan untuk para pemilik mobil listrik (EV) yang tidak suk

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:10

    Ngeri! Wanita 21 Tahun Tewas Gegara Staf Lupa Pasang Tali Pengaman saat Bermain Ayunan Jembatan Ekstrem

    JAKARTA - Sebuah insiden tragis terjadi di Brasil ketika seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari wahana ayunan ekstrem. Dia jatuh akibat tidak terpasangnya tali p

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:07

    Menjajal Pesona China: Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie

    LIBURAN ke China tidak melulu soal Shanghai atau Beijing. Jika Anda mencari pengalaman liburan yang benar-benar berbeda, perpaduan antara suasana kota yang ramai dan pesona pegunungan yang cantik

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:05

    Ketombe Tak Mempan Diusir dengan Shampo? Ini Penyebabnya

    JAKARTA - Sudah rutin keramas tetapi ketombe tetap muncul dan bahkan semakin membandel? Kondisi ini ternyata tidak selalu disebabkan oleh kurangnya menjaga kebersihan rambut. Dalam bebe

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.