Senin, 04 Mei 2026
Di mana Ada Gula, Di Situ Harganya Mahal
admin
Senin, 18 Mei 2020 15:07
Belakang ini gula sangat sulit dicari di pasar dan di mini market. Jika pun ada harganya bisa mencapai Rp 23 ribu. Padahal jika normal harga hanya kisaran Rp 10 ribu-Rp 13 Ribu. Lalu apa yang membuat harga gula eceran melambung tinggi?
Panic Buying
Sebuah startup edukasi berbelanja online, telunjuk.com melakukan riset selama 16 hari sejak tanggal 1 Maret sampai 16 Maret 2020 untuk memantau pergerakan harga gula di e-commerce.
Hasilnya, harga gula naik hingga 76 persen menjadi Rp 22.000 per kg dibanding Harga Eceran Tertinggi (HET) yang hanya Rp 12.500 per kg. Harga gula tertinggi mencapai Rp 22.000 per kg pada tanggal 15 Maret 2020.
Seperti dilansir Kumparan.com CEO Telunjuk.com Hanindia Narendrata mengasumsikan, kenaikan harga gula di e-commerce salah satunya disebabkan adanya panic buying efek corona. Selain itu, ia bilang, kenaikan harga gula eceran di e-commerce seiring dengan situasi gula eceran di pasaran (offline) yang sulit dicari.
“Harga kenaikan gula 76 persen. Puncak sempat Rp 22 ribu per kg. Meskipun harga mahal tetapi kebutuhan gula (ada), (masyarakat) cari di online. Efek corona (panic buying),” katanya.
Stok Menipis
Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mencatatkan stok gula konsumsi nasional saat ini sebesar 150 ribu ton. Stok gula ini berdasarkan rapat koordinasi di Bareskrim, Jakarta Senin lalu (16/3).
"150 ribu ton (Stok gula nasional) sesuai rakor (rapat koordinasi) di Bareskrim Senin (16/3) pagi," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia, Budi Hidayat
Terbatasnya stok membuat gula langka di pasaran. Budi mengaku tidak diundang dalam rakor tersebut. Hingga kini pihaknya belum mengetahui secara pasti apakah impor gula sudah direalisasikan.
Dugaan Spekulan
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) memastikan stok gula cukup hingga bulan Mei 2020. Sekretaris Jenderal APTRI M Nur Khabsyin mencatat stok gula sebanyak 1,35 juta ton pada awal tahun sudah mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri hingga masa produksi.
Secara rinci, sisa stok akhir 2019 sebanyak 1,08 juta ton, ditambah sisa impor tahun 2019 sebesar 270 ribu ton. Jadi stok gula awal tahun sekitar 1,35 juta ton.
“Stok sesuai data, cukup sampai Mei 2020 (musim penggilingan/produksi),” katanya
M Nur menambahkan, kelangkaan yang terjadi pada akhir-akhir ini lantaran ada spekulan yang sengaja mempermainkan harga. Tujuannya untuk mendorong impor gula.
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan pasokan gula sudah seret sejak Desember 2019. Pada saat itu, stok gula mentah (raw sugar) untuk gula rafinasi yang dibutuhkan industri sudah menipis. Dampaknya, industri makanan dan minuman terpaksa memakai gula konsumsi untuk masyarakat sehingga terjadi kelangkaan.
Pada awal 2020 juga terjadi berbagai bencana seperti banjir dan longsor. Hal ini berdampak juga pada distribusi gula ke ritel-ritel modern. Harga gula konsumsi di pasar ritel pun meningkat, di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram (kg).
"Pada prinsipnya mengapa hal ini sampai terjadi? Karena pasokan gula sangat kurang, lebih cenderung tidak ada sama sekali. Kita tidak tahu ke mana gulanya," ujarnya
Roy mengungkapkan bahwa pengusaha ritel sangat bergantung dengan pasokan dari pabrik gula. Sayangnya, kata Roy, pabrik gula swasta enggan menjual sisa stok gula kepada ritel modern karena dianggap kurang menguntungkan.
Penyebabnya, ritel modern tetap menjual gula dengan harga sesuai HET. Maka harganya dari pabrik gula harus di bawah Rp 12.500 per kg.
Selanjutnya, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto melakukan pertemuan dengan seluruh pemangku kepentingan pada 22 April 2020 terkait pengelolaan sisa 160 ribu ton pasokan gula rafinasi.
"Diberikan arahan untuk kami bisa mendapat stok gula rafinasi yang sudah layak jadi gula konsumsi. Proses setelah 160 ribu ton tinggal 93 ribu ton, hilang sekitar 70 ribu ton dalam dua hari!" tegasnya.
Pada akhirnya, Roy menuturkan bahwa ritel modern hanya meminta sekitar 30 ribu ton untuk kebutuhan gula selama satu bulan. Lagi-lagi pada saat pelaksanaanya, hanya sekitar 25 persen yang mampu diperoleh dari total 30 ribu ton tersebut. Kelangkaan gula pun terus terjadi.
Diatasi Dengan Impor Gula
Perum Bulog sudah merealisasi impor gula kristal putih (GKP) sebanyak 22.000 ton dari India. Direktur Utama Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan, gula-gula tersebut akan mulai masuk ke pasar-pasar tradisional pada akhir pekan ini.
Dengan memasok gula tersebut, harapannya harga gula bisa kembali normal. Perlu diketahui, harga gula rata-rata nasional dari data terakhir pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS) pada Rabu (13/5) kemarin itu masih tembus Rp 17.650/kg. Sementara, harga acuan di tingkat konsumen yang tertuang dalam Permendag nomor 7 tahun 2020 hanya Rp 12.500/kg.
"Bulog siap menyalurkan GKP ke pasar pada akhir pekan ini, guna menjamin ketersediaan gula untuk rakyat, terutama menjelang lebaran, sehingga harga kebutuhan pokok tersebut bisa tetap terjangkau oleh masyarakat luas," kata Buwas
Buwas memastikan, gula dari Bulog yang nantinya dibeli masyarakat ini akan dapat dibeli dengan harga sesuai acuan tersebut. "Dengan stok yang dikuasai, Perum Bulog sangat optimis dapat menekan harga gula kembali ke HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp.12.500/kg," imbuh dia.
Sebelumnya, Direktur Komersial Bulog Mansur mengatakan, gula impor ini dijual Bulog dengan harga Rp 11.900/kg kepada para agen Bulog (Rumah Pangan Kita/RPK) dan juga distributor lain.
Ia pun memastikan, RPK dan distributor akan menjual ke masyarakat dengan harga tak melebihi Rp 12.500/kg. "Kita jual Rp 11.900/kg. Jualnya ke seluruh Indonesia. Jadi kita menjaga HET. Setiap pembelian di Bulog siapa pun yang membeli baik RPK, maupun distributor ada pernyataan menjual sesuai dengan HET. Kalau ada yang menjual di atas HET kita dapat, langsung kita cabut," tegas Mansur seperti dilansir Detik.com
Sumber: Opini.id
komentar Pembaca