Rabu, 03 Jun 2026
  • Home
  • Opini
  • Kemerdekaan, Nilai Keindonesiaan, dan Media Sosial

Opini

Kemerdekaan, Nilai Keindonesiaan, dan Media Sosial

Oleh: Al-Mahfud
Minggu, 18 Agu 2019 08:07
(Foto:Google)
ILustrasi

Nuansa Merah Putih su­dah me­ng­­hiasi se­tiap pandangan. Di depan rumah-rumah, di de­pan kantor-kantor pemerin­tahan dan di pinggir-ping­gir jalan, bendera dan umbul-umbul sudah ramai ber­kibar-kibar dengan do­minasi warna me­rah putih. Bangsa Indonesia ber­suka cita menyambut HUT ke-74 Kemer­dekaan Republik Indonesia.

Merayakan hari kemerdekaan menjadi momentum memperkuat rasa cinta kita terhadap tanah air. Narasi perjuangan dan heroisme para pahlawan dan pendiri bangsa yang selalu ramai dikumandangkan setiap 17 Agustus tak pernah gagal membawa emosi kita untuk sema­kin mencintai bangsa ini. Kuman­dang lagu kebangsaan Indonesia Raya yang kita dengar selalu ber­hasil menerbitkan rasa haru se­kaligus bangga menjadi bagian dari bangsa besar ini.

Namun, hari kemerdekaan tak sekadar tentang suka cita kemer­de­kaan. Lebih dari itu, kita mesti bisa menjadikannya sebagai momentum memperkuat komitmen merawat dan menjaga bangsa ini dari segala bentuk ancaman. Jika para pejuang dan pendiri bangsa sudah memer­dekakan bangsa ini, kini menjadi tugas kita untuk mengisi kemer­de­kaan ini dengan terus merawat dan menjaganya.

Terlebih, beberapa tahun ter­akhir, kita menghadapi berbagai tan­tangan yang mengancam nilai-ni­lai kebang­saan. Seperti merebak­nya perdeba­tan, aksi saling hujat, uja­ran keben­cian (hate speech) antar­sesama sau­dara sebangsa—ter­utama di momentum Pilpres 2019, menguatnya sentimen pri­mor­dial, isu rasial, hingga intoleransi.

Gotong -royong

Jika kita cermati, problem-problem kebangsaan tersebut muncul dan berkembang berawal dari lun­tur­nya nilai-nilai khas bangsa Indonesia di tengah masyarakat kita. Se­mangat gotong royong, kerja sama, toleransi, dan persaudaraan ke­bang­saan, yang sejak dulu menjadi ciri khas bangsa ini, seakan luntur ka­rena digerus kebencian, sentimen primordial, juga egoisme kelompok berbentuk saling hujat, pertikaian, bahkan sikap intoleran dan ke­kerasan pada sesama.

Lunturnya semangat gotong royong bisa menjadi awal dari munculnya pelbagai problem ke­bang­saan. Ketika kesadaran untuk saling menghargai dan bekerja sama dalam semangat kebangsaan sudah luntur, yang muncul adalah sikap-sikap egois yang lebih memen­tingkan kepentingan pribadi dan golongan ketimbang kepentingan bersama (bangsa).

Gotong royong adalah nilai khas In­donesia yang membuat bangsa ini bisa terus bersatu dan berdiri kokoh mesti beragam, baik dalam hal suku, aga­ma, ras, dan golongan. Se­ma­ngat gotong royong merupakan nilai yang digali dan digaungkan Soekar­no sejak awal mendirikan bangsa ini.

Bagi Soekarno, seperti dipapar­kan Agustinus W Dewantara di buku Alangkah Hebatnya Negara Go­tong Royong; Indonesia dalam Ka­camata Soekarno (2017), sebagai ne­gara gotong-royong, maka tak boleh ada klaim-klaim golongan, pri­badi, dan kelompok mana pun yang memaksakan kepentingan mereka sendiri dengan meng­or­ban­kan kepentingan bersama. Indonesia didirikan untuk menjamin ke­pen­tingan semua warga Indonesia, apapun agamanya, golongannya, sukunya, dan keadaan ekonominya.

Selaras dengan pandangan ter­sebut, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sebagaimana diungkapkan Nur Khalik Ridwan dalam buku Negara Bukan-Bukan; Prisma Pe­mi­kiran Gus Dur tentang Negara Pancasila (2018) mengatakan bah­wa yang disebut "paling Indonesia" di antara semua nilai yang diikuti warga bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali dengan masa lampau. Gus Dur mengistilahkannya dengan "pencarian harmoni".

Ada hubungan antara semangat "gotong royong" yang digaungkan Soe­karno dengan "pencarian har­moni" dalam pandangan Gus Dur. Soekarno menginginkan bang­sa ini dibangun, berdiri, dan ber­jalan atas dasar semangat kego­tongroyongan, kebersamaan, dan keadilan tanpa ada kelompok atau golongan yang merasa paling superior atau ber­kuasa ketimbang yang lainnya. Sedangkan Gus Dur mem­beri kita gambaran tentang kehar­monisan yang mesti terus-menerus diu­sahakan atau "dicari" di tengah kemajemukan dan dinamika pem­bangunan bangsa. Dan dalam upaya mencari keharmonisan tersebut, kita tak boleh melupakan nilai-nilai yang ada di masyarakat nusantara sejak dahulu.

Dari pandangan dua tokoh bang­sa tersebut, kita sadar bahwa sema­ngat yang harus terus dikem­bang­kan adalah kebersamaan, tolong-menolong, saling menghargai, sekaligus kesetaraan, toleransi, dan keadilan. Dan hal tersebut akan sulit di­ca­pai jika kita terus-menerus di­san­dera keegoisan dan kebencian antarkelompok atau golongan. Hal tersebut hanya akan merusak sendi-sendi persaudaraan dan kehar­mo­nisan yang mestinya harus selalu diupayakan dan dijaga bersama.

Era digital

Saat ini, media sosial telah menjadi suatu kekuatan baru, bah­kan telah menjadi alat pergerakan ge­nerasi sekarang. Lewat penetrasi­nya yang begitu masif, media sosial telah terbukti mampu meng­gerak­kan massa hingga membawa peru­ba­han besar, bahkan revolusi di suatu negara.

Pada 2010, misalnya, masyarakat Tunisia pro perubahan meman­faatkan Facebook dan Twitter untuk menggalang kekuatan melawan rezim Presiden Zine El Abidine Ben Ali, yang berbuah "Revolusi Tunisia". Kemudian tahun 2011, di Mesir, ribuan orang menyemut di Tahrir Square, Kairo, untuk menu­runkan Presiden Hosni Mubarak yang telah lama berkuasa. Salah satu pemicunya adalah laman di Face­book "Simple, Anonymous". The Guardian mencatat lonjakan Tweet yang begitu besar, tagar #Jan25 yang semula berjumlah 2.300 Tweet melonjak menjadi 130.000 Tweet per hari selama se­minggu, sebelum akhirnya Presiden Mubarak mundur (tirto.id, 16/6/2017).

Belajar dari fenomena-fenomena tersebut, kita sadar betapa besar kekuatan perubahan yang bisa ditumbuhkan dari media sosial. Maka, di momentum HUT Kemer­dekaan RI ini, kita bisa meman­faatkan media sosial untuk menye­barkan semangat nasionalisme dan menumbuhkan nilai-nilai ke­indo­nesiaan. Di tengah maraknya kon­ten-konten negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, maupun pro­vokasi pemecah-belah, menyebar­kan nilai-nilai keindonesiaan bisa menjadi kontra narasi untuk mere­dam penyebaran konten-konten negatif tersebut.

Spirit keindonesiaan seperti semangat gotong-royong, toleransi dan penghargaan atas perbedaan, semangat persatuan dan persau­daraan, semua bisa ditebarkan di dunia maya melalui berbagai bentuk dan jenis konten. Baik yang ber­bentuk tulisan dengan narasi-narasi kebangasaan, gambar-gambar krea­tif tentang semangat persaudaraan, video atau film pendek yang meng­gugah semangat persatuan, dan sebagainya.

Akhirnya, bulan kemerdekaan mesti bisa menjadi momentum ber­sama untuk semakin mem­per­kokoh persatuan dan persau­daraan di masya­rakat. Sebab, pada dasar­nya menjaga dan merawat bangsa ini sudah men­jadi tanggung jawab seluruh warga bangsa. Baik peme­rin­tah, para pe­mim­pin, tokoh ma­sya­rakat, maupun se­luruh kom­po­nen masyarakat, semua diharapkan bisa aktif me­nyeb­arkan semangat ke­bangsaan dan persatuan lewat tu­gas dan peran masing-masing. Si­ner­gi antarmasing-masing elemen ba­ngsa tersebut diha­rapkan bisa meng­antarkan bangsa ini menuju kehidupan yang lebih baik, har­monis, damai, beradab, adil, sejah­tera, dan selalu kokoh bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). ***

Penulis bergiat di Paradigma Institute.

Sumber:http://harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.