Selasa, 02 Jun 2026
26 Tahun Dimakamkan, Jenazah Abu Zamroh Warga Inhu Riau Ditemukan Masih utuh Saat Pemindahan Makam
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 02 Jun 2026 16:22
Saat sang ayah meninggal dunia, Miyos baru saja menyelesaikan pendidikan SMP dan berusia sekitar 15 tahun.
Ia masih mengingat kondisi keluarga mereka saat itu yang hidup dalam kondisi susah.
Rumah sederhana milik keluarga mereka, menjadi saksi perjuangan Abu Zamroh membesarkan tujuh orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan lima perempuan.
"Alhamdulillah sekarang kami tidak susah seperti dulu," katanya.
Dari sekian banyak kenangan tentang sang ayah, ada satu pesan yang paling membekas dalam ingatan Miyos.
"Yang saya ingat, bapak selalu berpesan supaya rukun dengan keluarga," ujarnya.
Menurut Miyos, tidak ada hal yang terasa janggal saat proses itu berlangsung
Pas diangkat tidak berat. Bahkan jenazah ayah saya tidak ada berbau," katanya.
Sejak peristiwa itu menjadi perbincangan masyarakat, Miyos mengaku banyak menerima pertanyaan dari teman-teman dan kerabat.
Pertanyaannya hampir selalu sama. Amalan apa yang dilakukan Abu Zamroh semasa hidup hingga jasadnya ditemukan masih berkafan utuh setelah 26 tahun dimakamkan.
Namun Miyos tidak pernah berani menjawabnya.
Baginya, hanya Allah yang mengetahui seluruh amal seseorang selama hidup
Sudah banyak pertanyaan dari sahabat-sahabat terkait amalan apa yang sudah beliau lakukan semasa hidupnya," katanya.
Ia lalu mencoba mengingat kembali sosok ayah yang dikenalnya sejak kecil.
Tidak ada jabatan penting. Tidak ada pula kehidupan yang serba berkecukupan.
Yang ia ingat hanyalah seorang ayah yang bekerja keras, hidup sederhana, dan penyabar.
"Seingat saya, beliau orang yang sederhana, sabar dan selalu mengalah. Kalau ada yang lain, itu hanya Allah yang tahu," ujar Miyos.
Kesaksian serupa disampaikan Aven Putranto, warga yang ikut dalam proses penggalian makam.
Menurut Aven, makam Abu Zamroh menjadi perhatian setelah para penggali melihat masih adanya kain kafan saat tanah mulai dibersihkan.
"Awalnya makam yang dibongkar hanya tinggal tulang-tulang yang dikumpulkan. Tapi ketika terlihat masih ada kain, penggalian dilakukan hati-hati, dicongkel sedikit demi sedikit pakai cangkul," ujarnya.
Saat jenazah berhasil diangkat dari liang makam, kondisi kafan masih terlihat jelas.
"Diangkat masih terselimut tanah. Kain kafan yang lama masih bagus, tali pengikat masih lengkap," kata Aven.
Setelah itu, jenazah kembali dibungkus menggunakan kain kafan baru sebelum dipindahkan ke makam yang baru.
"Ditambah kain baru, diangkat bertiga. Tidak ada aroma bau sama sekali," ujarnya.
Aven mengaku pernah mendengar cerita tentang sosok Abu Zamroh dari warga sekitar.
"Beliau orangnya tidak neko-neko," katanya.
Makam di Lokasi Tebing Rawan Longsor
Sekretaris Desa Candirejo, Ade Putra SE, mengatakan pemindahan makam dilakukan karena lokasi pemakaman lama berada di atas tebing yang rawan longsor.
Menurutnya, kawasan pemakaman tersebut sudah ada sejak tahun 1990-an dan berdiri di atas tanah hibah masyarakat yang diberikan sejak 1980-an.
"Dulu akses jalan belum ada, hanya akses di daerah bukit. Sekarang setelah jalan dibuka di bagian bawah, makam dirapikan. Nanti akan ada pemerataan lahan lagi," ujarnya.
Ade mengatakan total ada delapan makam yang dipindahkan dalam kegiatan gotong royong tersebut.
Ia juga ikut menyaksikan langsung proses pembongkaran makam Abu Zamroh yang merupakan makam keempat yang dibuka hari itu.
"Kebetulan saya ikut langsung menyaksikan. Pas sudah ketemu, kelihatan kain kafan," katanya.
Makam itu memiliki kedalaman sekitar dua meter.
Menurut Ade, kondisi makam Abu Zamroh berbeda dengan makam lainnya.
"Pas diangkat, kain kafan masih utuh. Tidak ada tulang yang lepas. Cuma kain yang menempel pada jenazah mulai tumbuh serabut, tetapi tali pengikatnya masih ada," ujarnya.
Sementara pada makam lain, yang tersisa hanya tulang-belulang.
"Makam yang lain jenazahnya sudah hancur, tinggal tulang-belulang. Kain kafannya juga sudah tidak ada," katanya.
Hal lain yang membuat warga takjub adalah tidak adanya aroma menyengat saat proses pemindahan berlangsung.
"Kalau berbau tidak. Tidak menyengat, tidak amis," kata Ade.
Suasana haru pun tak terhindarkan.
Beberapa anggota keluarga terlihat menangis. Sebagian warga terdiam menyaksikan proses tersebut.
"Ada yang nangis, terharu. Masyarakat juga takjub. Banyak yang mengatakan inilah keajaiban yang Allah tunjukkan kepada kita," ujarnya.
Tokoh masyarakat sekaligus konten kreator, Haji Harpen Arsadi, mengatakan pemindahan makam tersebut dihadiri perangkat desa, masyarakat, dan ahli waris keluarga.
Menurutnya, langkah pemindahan memang perlu dilakukan demi keselamatan.
"Pemindahan dilakukan ke lokasi yang lebih baik karena lokasi pertama berada di daerah lereng yang rawan longsor," katanya.
Mengenai sosok Abu Zamroh, Harpen mengaku tidak mengetahuinya secara pasti.
Namun ia melihat penghormatan yang diberikan keluarga dan masyarakat kepada almarhum.
"Bagaimana beliau semasa hidup saya kurang tahu, itu pihak keluarga yang tahu. Yang jelas beliau pasti orang baik," ujarnya.
Menjelang pukul 14.00 WIB, proses pemindahan delapan makam akhirnya selesai.
Warga mulai meninggalkan pemakaman di atas bukit itu. Tanah kembali dirapikan. Doa-doa dipanjatkan.
Namun bagi Miyos dan keluarganya, hari itu bukan sekadar pemindahan makam.
Hari itu menjadi momen ketika kenangan tentang seorang ayah kembali hadir begitu dekat.
Seorang ayah yang semasa hidup bekerja serabutan, membesarkan tujuh anak dalam kesederhanaan, dan mewariskan satu pesan yang masih diingat hingga hari ini: tetap rukun dalam keluarga.
Setelah 26 tahun kepergiannya, sosok Abu Zamroh kembali membuat banyak orang mengenangnya.(tribunpekanbaru).
Sumber: https://pekanbaru.tribunnews.com/riau-region/1106517/26-tahun-dimakamkan-jenazah-abu-zamroh-warga-inhu-riau-ditemukan-masih-utuh-saat-pemindahan-makam?page=4
komentar Pembaca