Memaknai Kemenangan dan Kekalahan Pilkada
Senin, 28 Des 2015 09:46
Pilkada serentak tanggal 9 Desember 2015, berlangsung di 260 daerah kabupaten kota dan 9 provinsi dengan aman, dan tertib, sebagai bukti kedewasaan demokrasi masyarakat, walau di sana-sini muncul riak-riak kecil, itu hanya bagian dari dinamika politik saja. Dalam kontestasi politik pilkada tentu ada yang kalah dan menang tidak dapat dihindari terjadi. Bila elit politik mampu memaknai kekalahan dan kemenangan dengan jiwa besar, maka akan dapat menekan kegaduhan ditengah masyarakat. Sesungguhnya keberadaan politik pilkada bila mampu dimaknai dengan utuh, intinya bermuara pada politik pengabdian untuk kesejahteraan rakyat. Pada dasarnya pemimpin yang tampil harus mampu mengejawantahkan aspirasi politik rakyat secara bijak, penuh kejujuran, dan rasa tanggung jawab. Ini komitmen politik pilkada yang mesti dikedepankan oleh paslon yang menang.
Dari hasil hitung cepat (quick count) yang dilakukan Lingkar Survei Indonesia ( LSI ), dimana 70 persen pasangan petahana dapat memenangkan pilkada kembali. Untuk di Bali PDI Perjuangan unggul di lima kabupaten/kota, cuma kalah di Karangasem. Kita harapkan elit politik dari PDI Perjuangan Bali mampu mengemban amanat politik rakyat secara terhormat. Kalau kita perhatikan partisipasi politik masyarakat cukup tinggi dalam pilkada, rata-rata mencapai 55 persen. Keadaan ini mengindikasikan tingkat kesadaran masyarakat dalam menentukan pemimpin daerah dalam pilkada cukup tinggi peran sertanya. Terselenggaranya pilkada adalah bagian dari proses demokrasi memilih pemimpin daerah secara cerdas, bebas dari intimidasi, dengan lebih mengedepankan persatuan bangsa.
Penyelenggaraan pilkada dapat berlangsung secara obyektif, adil, netral, transparan, serta independen sehingga mampu melahirkan pemimpin daerah yang terbaik. Tertanamnya komitmen politik pilkada yang dewasa dari elit politik akan dapat mendidik masyarakat semakin cerdas berpolitik. Untuk itu peranserta segenap stakeholder menyukseskan terselenggaranya pilkada bagian dari membangun jiwa siap kalah dan siap menang secara terhormat. Kemenangan adalah bagian dari penghargaan publik atas kepercayaan yang diberikan, untuk dapat merealisasikan janji kampanye secara utuh. Sementara kekalahan adalah bagian dari perjuangan yang belum maksimal mampu menggugah masyarakat dalam memberikan kepercayaan secara utuh. Untuk itu menyikapi kemenangan dan kekalahan dalam kompetisi politik pilkada harus dapat diletakan dalam membangun peradaban politik masyarakat lebih dewasa.
Dapat membangun budaya menerima kekalahan yang disandingkan dengan kemenangan yang mampu berjalan beriringan, maka keberadaan pilkada bukan menjadi masalah krusial yang harus ditakutkan. Memadukan keduanya dapat bersinergi dengan baik harus dapat diupayakan terus menerus oleh elit politik secara sadar. Dalam kompetisi politik pilkada tidak ada sifat yang menang berarti menjatuhkan yang kalah. Konsekwensi kompetisi tersebut hakekatnya bukan menaklukan sebagai sebuah jajahan dalam kekuasaan terhadap rival politiknya. Dengan demikian budaya menerima kekalahan mesti mampu ditransformasikan dengan budaya menerima kemenangan. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam kompetisi politik yang mencerdaskan.
Dalam masyarakat yang masih paternalistik, kebesaran jiwa elit politik menerima kekalahan sangat menentukan dalam menjaga ketertiban masyarakat. Untuk itu keteladanan jiwa elit politik tidak akan membiarkan pendukungnya yang prustasi membikin tindakan anarkis dalam menyikapi kekalahan dalam pilkada yang ada. Peran elit politik sebagai pemimpin panutan harus dapat menanamkan sportifitas kompetisi politik pilkada secara holistik. Bukan melihat kemenangan dan kekalahan secara sesaat, dengan membuat manuver yang memalukan. Membangun kualitas kompetisi pilkada secara bermartabat sangat ditentukan oleh cara pandang terhadap kemenangan dan kekalahan itu sendiri.
Bila kita mampu menyikapi kekalahan dengan baik/lapang dada, maka ini akan dapat digunakan sebagai momentum untuk introspeksi dan kotemplasi diri, secara bijak.Ini akan menjadiflash back dalam meraih kemenangan yang membanggakan selanjutnya bagi semua pihak. Kekalahan pada intinya kemenangan yang tertunda. Untuk itu bila mampu memaknai kekalahan secara sportif sebagai bagian dari sebuah kompetisi politik yang fair play, maka akan melahirkan spirit untuk dapat tampil lebih prima berikutnya. Di sini ditentukan oleh sikap mental dalam menerima kekalahan tersebut. Bila pada akhirnya kekalahan memicu puncak kemarahan, kecemasan, tidak percaya diri, maka akan merusak citra diri sendiri dan tatanan lingkungan sosial yang telah dibangun dalam perjuangan. Kekalahan bukan akhir dari segalanya, melainkan babak baru menata strategi politik yang lebih holistik. Bila kekalahan membawa jiwa keputusasaan, niscaya akan menuai kekalahan yang lebih fatal lagi.
Kekalahan sejati, bila tidak mampu bangkit dari kekalahan itu sendiri, dengan melakukan perbaikan/pembenahan dan melanjutkan perjuangan lebih spartan, maka inilah makna kekalahan sebenarnya. Sudah tidak berdaya samasekali mengatasi situasi lingkungan sosial masyarakat yang ada. Setiap kompetisi tidak ada orang yang mengharapkan kekalahan, tapi kalau pada akhirnya kita kalah harus siap menerima dengan berjiwa besar/lapang dada. Kekalahan dan kemenangan akan melahirkan kemuliaan jiwa dalam berkompetisi. Hakekat kemenangan adalah kekalahan itu sendiri, bila mampu memaknai dengan baik dan benar.
Memaknai Pilkada.
Elit politik harus mampu memaknai kompetisi politik dalam pilkada secara dewasa. Mampu menjujung sikap sportif dengan mengedepankan fair play, sehingga akan dapat menepis kegaduhan yang muncul kepermukaan. Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan itu sendiri. Bila mampu menyikapi dengan dewasa, maka akan memberi dampak positif atas terselenggaranya pilkada lebih berkualitas. Mampu mengedepankan sikap jujur, transparan, acountable, dan adil, akan memberi nilai tambah yang maksimal atas terselenggaranya pilkada. Bagaimana elit politik mampu memberi peran secara utuh, sehingga menggunggah iklim kondusif yang kuat terbangun ditengah masyarakat.
Pilkada yang bermartabat harus mampu melahirkan pemimpin yang terhormat, sehingga tidak sia-sia dalam menyikapi kekalahan dan kemenangan itu sendiri. Bila ujung-ujungnya hanya mengedepankan kekuasaan yang diraih, maka segala jalan pintas pun akan dianggap pantas karena sudah terjebak oleh sikap serakah mau menang sendiri. Sikap elit politik seperti ini cenderung tidak matang dalam berpolitik.
Kualitas dalam penyelengaraan pilkada sangat tergantung pada perilaku elit politik itu sendiri. Bila perilaku elit politik mampu menjadi figur panutan yang mumpuni, maka partisipasi politik masyarakat dalam pilkada akan dapat berjalan lebih baik. Munculnya figur yang sportif, berjiwa besar akan menjadi magnet bagi rakyat dapat berpartisipasi secara dewasa. Munculnya rasa damai dengan menerima hasil pilkada sebagai kemenangan bersama, saling bergandeng tangan dengan menghargai pilihan rakyat secara bijak akan melahirkan pemimpin yang mumpuni.
Jiwa keteladanan yang lahir dari komitmen politik bersama secara dewasa akan mampu menepis kegaduhan yang muncul. Mampu menciptakan keseimbangan politik antara kekuatan/kecerdasan politik rakyat dengan kualitas pemimpin yang tampil akan meredam segala perilaku yang memalukan. Keseimbangan antara supply and demmand ini, akan mampu menekan disharmonisasi hubungan yang terjal antara kedewasaan/kecerdasan politik rakyat dengan kualitas pemimpin yang tampil sebagai pemenang.
Kedewasaan sikap menerima kekalahan sebagai bagian dari kelebihan pihak lawan, adalah sikap yang dewasa. Mampu mengevaluasi kelemahan sebagai kekuatan baru akan melahirkan perjuangan berikutnya yang lebih siap. Menerima kekalahan hindari sikap saling menyalahkan, sikap cemas, takut, minder. Sementara itu sikap pemenang/juara harus mempunyai mental tahan terhadap cobaan yang menghadang. Kedewasaan sikap elit politik sangat ditentukan oleh kecerdasan menghadapi setiap permasalahan yang ada. Cobaan adalah bagian dari bentuk pematangan diri untuk mampu tampil lebih kuat.
Kebesaran jiwa elit politik menerima kekalahan, dan memberi ucapan kemenangan rivalnya secara legowo sangat berpengaruh dalam menjaga ketertiban masyarakat. Elit politik yang bertanggung jawab tidak akan membiarkan pendukungnya melakukan tindakan anarkis dalam menyikapi kekalahan dalam pilkada. Bagaimana mampu menanamkan kekalahan dan kemenangan dalam sebuah kompetisi politik sebagai hal yang wajar. Sikap ksatria elit politik menerima kekalahan dan kemenangan secara bijak adalah bagian dari pendidikan politik yang mendewasakan. Kualitas perjuangan itu sangat memberi dampak pada kualitas terhadap hasil akhir. Jangan terlalu membanggakan kemenangan dan merendahkan/meremehkan yang kalah. Bagaimana mampu merangkul yang kalah sebagai bagian dari perjuangan politik pilkada yang lebih bermartabat dalam mencapai kesejahteraan rakyat yang seutuhnya.
Dalam psikologi sosial setiap kompetisi politik dimana setiap orang menyikapi kemenangan cenderung melakukan atribut internal, berupaya merasionalisasikan kemenangan atas dasar kemampuan dan usaha yang telah dilakukannya. Orang yang menang memberi pengakuan atas dirinya lebih baik/unggul dibandingkan pihak lawan. Sebaliknya pihak yang kalah akan cenderung melihat kekalahan melalui sisi lingkungan eksternalnya, dengan mencari-cari kesalahan mulai dari sistem, situasi, bentuk kecurangan, tindakan ini tidak membenarkan kekalahanya.
Adanya sikap dalam kompetisi politik yang tidak elok ditengah masyarakat, dimana kekalahan dipersepsikan sebagai momok memalukan yang merendahkan harga diri. Adanya konstruksi posisi budaya kalah diposisi dengan menang, sehingga keadaan ini melahirkan dimana kemenangan di-identikan dengan kepuasan, puncak kejayaan, dengan segala euforia yang menyertai. Kondisi ini melahirkan orang berlomba-lomba meraih kemenangan dan tidak pernah siap menerima kekalahan. Untuk itu kita sepatutnya mesti mampu meredefinisikan makna menang dan kalah secara dewasa dalam kontek kompetisi politik yang sehat.
Meletakan korelasi menang dan kalah dalam bingkai hubungan dialog yang mendewasakan, merupakan bagian dari esensi kompetisi politik yang bersifat dinamis. Kemenangan dan kekalahan adalah sebuah proses politik pilkada yang mesti dilalui secara dewasa dalam kompetisi. Mampu memaknai kompetisi dalam perebutan kemenangan sebagai bagian dari persaingan untuk mampu tampil terbaik. Pada dasarnya bagaimana setiap kontestan elit politik mampu tampil berbuat baik sebagai daya tarik publik. Memilih diantara yang baik, adalah proses pematangan publik dalam memberikan garansi politik yang mendewasakan. Dalam posisi ini, kekalahan dan kemenagnan diantara yang terbaik adalah bagian dari resiko pilihan publik yang semakin rigit.
Kita bisa banyak belajar dari kompetisi liga Premiere Inggris, dimana spirit para pemain bertanding begitu tinggi dengan memegang sportivitas yang kuat. Kualiatas permainan tim adalah bagian dari kualitas kemenangan itu sendiri. Senua tim menjaga privacy secara terhormat, sebagai bentuk kepercayaan publik untuk mau datang menonton. Dalam kondisi ini, bagi yang kalah maupun menang dapat tampil dengan kepala tegak, meninggalkan lapangan karena sudah mencurahkan segala kemampuan yang optimal dalam bertanding. Tentu kita harus mampu meletakan spirit kompetisi politik pilkada secara bermartabat dengan menjaga privacy keberadaan elit politik secara terhormat. Dapat memaknai kekalahan dan kemenangan dalam satu kompetisi politik yang sehat menjadi bagian dari mendewasakan politik masyarakat lebih bermartabat.
(analisadaily.com)
Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP
INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli
Nobar Piala Dunia dan Makan Bersama, Koramil 1710-02/Timika Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat
Mimika-Koramil 1710-02/Timika menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Aula Makoramil 1710-02/Timika, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Minggu (14/
ANKER Soundcore Luncurkan TWS Berbasis AI Liberty 5 Pro Series, Cek Fitur dan Harganya
JAKARTA â€" Brand audio terkemuka, ANKER soundcore, resmi merilis true wireless earbuds (TWS) premium generasi terbarunya, ANKER soundcore Liberty 5 Pro Series, di pasar Indonesia. Mengusung kons
Xiaomi Pamerkan Lengan Robotik Pengisi Daya Otomatis untuk Mobil Listrik
JAKARTA â€" Xiaomi mendemonstrasikan lengan robot yang dapat mengotomatisasikan pengisian daya mobil listrik di rumah. Perangkat ini ditujukan untuk para pemilik mobil listrik (EV) yang tidak suk
Ngeri! Wanita 21 Tahun Tewas Gegara Staf Lupa Pasang Tali Pengaman saat Bermain Ayunan Jembatan Ekstrem
JAKARTA - Sebuah insiden tragis terjadi di Brasil ketika seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari wahana ayunan ekstrem. Dia jatuh akibat tidak terpasangnya tali p