Minggu, 14 Jun 2026
  • Home
  • Opini
  • Prostitusi Online dan Cerminan Moralitas Kita

Prostitusi Online dan Cerminan Moralitas Kita

Kamis, 17 Des 2015 08:51
Ilustrasi

Hebohnya pengungkapan kasus prostitusi online yang melibatkan artis berinisial NM, sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Sudah sejak lama fenomena ini terjadi dan menyelinap dalam denyut nadi kehidupan sosial masyarakat. Hanya saja, upaya untuk menyingkapnya tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Setidaknya dari gaya dan penampilan NM yang kerap mengenakan pakaian seksi di media selama ini, tidak mengejutkan para pemirsa Tanah Air kalau kemudian ia akhirnya harus berurusan dengan aparat lantaran terseret "bisnis prostitusi". NM diamankan Bareskrim di sebuah Hotel di kawasan Hotel Indonesia, pada hari Kamis 10 Desember 2015 malam, bersama artis berinisial PR dalam serangkaian upaya kepolisian melakukan pengusutan kasus perdagangan orang yang dijalankan oleh tersangka O dan F, yang diduga merupakan muncikari 2 artis dan model seksi tersebut. Polisi pun berhasil menangkap O dan F di lokasi yang sama. Dua orang tersangka ini dijerat pasal 2 Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau UU 21/2007, dengan dugaan melakukan praktik perdagangan orang dan mengambil keuntungan dari pidana tersebut.

Selain itu, dari hasil pengamanan terhadap NM, polisi juga menyita kondom dan pakaian dalam dari tasnya. Menurut Kepala Subdit III Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Umar Fana, penangkapan NM diawali ketika anak buahnya melakukan penyamaran sebagai pelanggan jasa esek-esek kalangan artis hingga akhirnya dikirimkan foto NM. Usai itu, uang muka sebesar Rp 10 juta pun dikirimkan.Usai membayar uang muka, penyidik bertemu mereka, yang salah satunya adalah NM di sebuah hotel kawasan HI. Tak lama kemudian, polisi pun mengamankan NM.

Kedua artis tersebut diduga berat sudah kerap kali melayani pria hidung belang dengan tarif yang lumayan fantastis. "NM bertarif Rp 65 juta. Sementara PR memasang tarif Rp 50 juta," ucap Umar Fana di Jakarta (Tempo.co 11/12). Lalu apa pelajaran yang bisa kita petik dari kasus ini?

Cerminan Moralitas

Sudah tentu inilah cerminan moralitas kita yang makin terkikis oleh perkembangan zaman. Dunia keartisan yang serba-gemerlap, glamour, tidak saja memancing aplaus terhadap karya seni dan kebudayaan tetapi juga menjadi lahan subur transaksi esek-esek yang menjual keindahan lekuk tubuh dan nilai gengsi profesi. Kekuatan fulus bagai dewa yang menyihir para seniman panggung dan layar kaca untuk menjual kehormatan dan nilai keperempuanannya demi perbaikan status dan tentu saja ekonomi. 

Fenomena di atas juga menegaskan bahwa ruang publik sudah dipenuhi oleh benih-benih patologi kultural postmodernisme yang memboikot kesadaran insaniah kita mulai dari gaya hidup, orientasi dan persetubuhan dengan westernisasi yang merengguti makna kepantasan moral. Daya sensor moral bangsa makin hancur karena terhisap promiskuitas hasrat biologis dan pengakuan status sebagai "agama baru" yang disembah di mana-mana.     

Lihat bagaimana produk-produk impor membanjiri pasar kita dari pakaian, asesori tubuh, makanan, teknologi komunikasi, sarana perbelanjaan modern sampai tontonan vulgar  maupun liberasi gay di sudut-sudut metropolis yang tidak lain distimulasi efek konsumerisme dan hedonisme. Pengaruh kebudayaan impor inilah yang melipatgandakan benih-benih kemerdekaan individu (individual freedom) untuk mengeksploitasi "nafsu biologis"-nya. 

Penghambaan pada budaya barat yang menjadi "agama baru" keseharian  membuat bangsa ini makin terancam kehilangan pijakan ideologi dari yang dulunya sangat selektif terhadap nilai-nilai asing menjadi market friendly terhadap berbagai piranti paham barat kapitalistik yang senang menonjolkan kegembiraan riuh antimoral yang kemudian membuat kita seakan terinferiorisasi oleh budaya sendiri yakni sopan, bersahaja, beretiket, religius. 

Apresiasi terhadap nilai-nilai keagamaan kian sobek oleh mengakutnya apatisme sosial terhadap modal etika dan moralitas berinteraksi sehingga tak heran jika anak dan generasi muda saat ini sangat mudah terjerumus dalam penyimpangan pergaulan, termasuk seks bebas. Sebuah dunia yang mestinya hanya bisa dimasuki oleh kaum dewasa.

Kekhawatiran merapuhnya benteng moral bangsa sudah lama divisionerkan Soekarno yang menyorakkan "penemuan kembali revolusi" bangsa seraya menolak paham-paham luar dengan go te hell Amerika-nya. Ia mengecam penerimaan total masyarakat terhadap keindahan filmis musik-musik, dansa dan tarian-tarian eksentrik barat yang memacu adrenalin untuk secara tidak sadar memotong jantung budaya (culture lobotomy) kita sendiri. 

Pelajar tidak lagi menganggap tabu ketika mempraktekkan pelecehan seksual terhadap lawan jenisnya di sekolah, ramai-ramai menonton video porno, mengenakan pakaian-pakaian dengan mode yang mencetuskan birahi hingga praktek aborsi yang tak kalah marak. Bahkan media (televisi, majalah, video youtube) menjadi eskalator untuk memopulerkan trend pergaulan (seks) bebas di tengah fungsi penjaga moral masyarakat baik pemerintah, lembaga pendidikan maupun agama yang minim. Bahkan dari lembaga terhormat dan bermoral (DPR) kita menjumpai anggotanya asyik menonton video porno saat sidang berlangsung. 

Masyarakat Komoditas

Mungkin benar kata Baudrillard bahwa saat ini kita makin terjerumus di dalam jerat di mana 'segala sesuatunya' diperbolehkan oleh produk kapitalisme mutakhir (Jean Baudrillard, 2005) yang mementingkan kesenangan tubuh/badaniah ketimbang daya kritis dan keseimbangan moral: bagaimana membelanjakan secara habis-habisan naluri dan kepuasan-kepuasan sekuler dengan nilai-nilai tradisi, kesantunan dan etika yang digadaikan komoditifisme menyesatkan. Sehingga kita, menurut Theodor Adorno, menjadi "masyarakat komoditas", membiarkan tubuh dijajah berbagai galeri kemegahan visual dan lipstik. Sehingga yang dihasilkan bukan lagi kebudayaan manusia yang sarat cipta, rasa dan karsa positif  tetapi potongan kebudayaan 'hewaniah' yang identik dengan kepuasan (perut) sesaat atau biologisasi hidup semata.

Memberantas prostitusi online adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Kita berharap aparat serius membongkar sistem dan jaringan yang selama ini menjadi pelindung maraknya prostitusi terutama di kalangan artis. Sinyalemen bahwa prostitusi artis terkait dengan pejabat-pejabat tinggi harus diusut. Karena kalau benar demikian, bisa diduga, maraknya kejahatan korupsi saat ini tak lain disumbang oleh kasus-kasus seperti itu. 

Kita tak ingin dunia artis Indonesia yang terhormat dicemari oleh perilaku oknum-oknum nakal. Sebab bagaimanapun mereka adalah bagian dari kelompok perubahan di bawah siraman cahaya kamera yang harus memberikan teladan dan edukasi kepada publik lewat sikap dan aksi-aksi positifnya. Bukan sibuk "bekerja" dalam keremangan malam demi segepok fulus haram. 

Polisi mengaku kesulitan untuk membongkar praktik prostitusi online di kalangan artis. Karena hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjadi konsumen mereka.

(analisadaily.com)
Opini
Berita Terkait
  • Minggu, 14 Jun 2026 20:34

    Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP

    INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli

  • Minggu, 14 Jun 2026 20:32

    Nobar Piala Dunia dan Makan Bersama, Koramil 1710-02/Timika Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat

    Mimika-Koramil 1710-02/Timika menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Aula Makoramil 1710-02/Timika, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Minggu (14/

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:14

    ANKER Soundcore Luncurkan TWS Berbasis AI Liberty 5 Pro Series, Cek Fitur dan Harganya

    JAKARTA â€" Brand audio terkemuka, ANKER soundcore, resmi merilis true wireless earbuds (TWS) premium generasi terbarunya, ANKER soundcore Liberty 5 Pro Series, di pasar Indonesia. Mengusung kons

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:13

    Xiaomi Pamerkan Lengan Robotik Pengisi Daya Otomatis untuk Mobil Listrik

    JAKARTA â€" Xiaomi mendemonstrasikan lengan robot yang dapat mengotomatisasikan pengisian daya mobil listrik di rumah. Perangkat ini ditujukan untuk para pemilik mobil listrik (EV) yang tidak suk

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:10

    Ngeri! Wanita 21 Tahun Tewas Gegara Staf Lupa Pasang Tali Pengaman saat Bermain Ayunan Jembatan Ekstrem

    JAKARTA - Sebuah insiden tragis terjadi di Brasil ketika seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari wahana ayunan ekstrem. Dia jatuh akibat tidak terpasangnya tali p

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.