Senin, 04 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Teganya Mutmainah Memutilasi Buah Hatinya Sendiri

Opini

Teganya Mutmainah Memutilasi Buah Hatinya Sendiri

Oleh: Fransiska Ayu Kumalasari SH, MKn
Minggu, 09 Okt 2016 10:58
Internet
Ilustrasi
Aksi Mutmainah (28) yang menghabisi nyawa anaknya, Arjuna (1), lalu memutilasi menjadi beberapa bagian di rumah kontrakan yang terletak di Jalan Jaya 24, nomor 24, RT 4, RW 10, Tegal Alur, Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (2/10/2016) malam, benar-benar tragis.

Salah satu saksi mata Lestari (32), menceritakan kesaksiannya. Ketika itu sekitar jam 19.30 WIB. Suami Mutmainah, anggota Polda Metro Jaya berpangkat Aipda, Denny Siregar baru pulang kerja. Karena pintu dikunci dari dalam, ia pun tak bisa langsung masuk. "Sekitar jam tujuh atau setengah delapan bapaknya pulang kerja. Karena ke kunci meminta pertolongan warga dan dicoba didobrak sama suaminya bersama warga," kata Lestari. Setelah masuk ke dalam kontrakan, suasananya sunyi. Ternyata, Mutmainah berdiam berada di dalam kamar tidur bersama anak Arjuna. "Ibunya berada di kamar tidur, dengan kondisi telanjang duduk diam, anaknya terlentang di samping kasur," kata Lestari. "Saya langsung tutup tubuh ibunya pakai sprei kasur, pas itu lihat anaknya sudah terpotong," Lestari menambahkan.

Saat ini, Mutmainah diperiksa kejiwaannya di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Kasusnya ditangani Polsek Cengkareng. Belakangan Mutmainah disebut-sebut mengikuti ilmu tertentu yang didalaminya selama dua tahun. Bahkan istri dari Aipda Deni Siregar, Anggota Subdi Provos, Bidang Propam Polda Metro Jaya sering mendapat bisikan untuk menghabisi nyawanya. Bahkan suaminya sendiri sering diajak berkelahi, hanya saja suaminya tak menggubrisnya.

Urat Tega Putus

Jika masyarakat mengeluarkan serapah kebencian atas apa yang dibuat Mutmainah, hal tersebut wajar. Boleh dikatakan peristiwa seperti ini jarang terjadi, karenanya ketika membaca berita tersebut, seolah kita sedang dalam mimpi. Pepatah China yang mengatakan harimau tak rela memakan anaknya sendiri, nampaknya tidak berlaku untuk kasus ini. Seorang ibu dengan mudahnya mematikan urat tega dan kemanusiaannya di hadapan buah kandungnya sendiri. Naluri kasih sayang, mengasuh, memproteksi belahan hati dari seorang ibu seakan mudah digantikan luapan nafsu dan marah yang menggejuju, yang sampai saat ini kita pun tak tahu apa penyebabnya.

Kalau benar, si ibu ini sedang menekuni ilmu tertentu, atau katakanlah ilmu gaib, kita tentu wajar mempertanyakan untuk apa ia mendalami ilmu membahayakan seperti itu. Apakah karena ada misi tertentu yang selama ini ia pendam, hingga suaminya pun tak pernah tahu aktifitas yang ia lakukan di belakangnya. Apakah masalah tersebut terkait masalah rumah tangga, keluarga atau ekonomi yang mendesak? Secara kausalitas, banyak faktor yang menstimulasi seorang melakukan hal-hal yang cenderung kontroversial atau suatu perbuatan penyimpangan.

Biasanya dari hasil riset yang dilakukan selama ini, tuntutan ekonomi masih menjadi penyebab nomor satu lahirnya berbagai kriminalitas baik secara kolektif maupun individu. Biasanya orang rela melakukan apa saja, demi bisa menebus kesulitan sekonomi. Memang selama ini tindakan memutilasi seseorang dalam banyak kasus yang terjadi lebih disebabkan oleh karena motivasi untuk menaikkan level penguasaan ilmu hitam yang mengharuskannya menumbalkan korban.

Kerja ilmu-ilmu gaib seperti itu memang selalu mengonsekuensikan munculnya hal-hal yang irasional, yang melenceng dari kewarasan berpikir atau batas toleransi sebuah kejahatan dilakukan pada lazimnya. Namun kita bisa membuat hubungan motif peristiwa tersebut dari aspek suatu ketegangan psikologis yang didasari oleh eskalasi masalah sosial yang terus mendera masyarakat dengan potensi pemecahan masalah yang kian menipis. Kesenjangan ini menjadi lahan subur bagi masuknya perilaku kriminogen sosial seperti pembunuhan berantai yang melibatkan kawan atau saudara dekat, tetangga, atasan di tempat kerja atau bahkan suami atau isteri sendiri, maupun pembunuhan yang disertai dengan mutilasi.

Dipilihnya lingkaran terdekat, semata-mata untuk memperoleh derajat kenikmatan untuk apa yang ia imitasikan sebagai langkah untuk "menemukan solusi" atas masalah yang dihadapinya. Ada yang melihat proses penyimpangan perilaku tersebut menjadi bagian dari proses rekreatif deviasi, di mana pelaku akan menikmati adegan kejahatan yang dilakukannya untuk menunjukkan kekuasaan atau kemampuan diri di hadapan orang-orang lain. Kemampuan untuk keluar dari tekanan yang dihadapinya dengan cara mempraktekkan perbuatan irasional tadi, setidaknya akan memantulkan situasi yang mengarahkan ia pada status tertentu dalam relasi sosial, setidaknya ia tidak lagi berada dalam pengaruh atau kendali orang.

Jika Mutmainah benar menempuh cara mutilasi karena bisikan-bisikan halus, maka kita akan mempertanyakan kenapa ia tega mengambil putusan untuk masuk dalam konsekuensi perangkap ilmu sesat tersebut. Mungkin seperti sudah disampaikan di atas hal tersebut karena didorong oleh masalah pribadi atau keluarga. Kebetulan jika ditarik benang merahnya, sejauh ini ada yang mengatakan bahwa keluarga polisi tersebut terbilang hidup sederhana, tinggal dikontrakan yang seadanya, tentu saja plus dengan masalah-masalah ikutan di dalam rumah tangga.

Kesejahteraan Polisi

Memang sampai saat ini kesejahteraan keluarga polisi boleh dikata masih jauh dari apa yang mereka bayangkan dengan profesi yang dianggap mulia tersebut. Di NTB misalnya ada polisi yang hanya tinggal di tenda. Lalu masih banyak asrama yang bolong-bolong dengan gaji yang minim, yang harus dipakai untuk membayar uang kos/kontrakan mereka. Dengan kondisi yang demikian, mereka juga harus menanggung biaya sekolah anak, termasuk urusan-urusan sosial. Kondisi memprihatinkan tersebut mendorong seorang polisi menempuh cara-cara yang bahkan nyerempet dengan kriminalitas, untuk menyelesaikan masalahnya. Kasus isteri polisi stres, bunuh diri, atau sebaliknya kasus polisi nembak isterinya, nembak tubuh (kepala)-nya seperti yang terjadi di Yogyakarta belum lama ini, bukanlah peristiwa yang asing di telinga kita. Belum lagi polisi yang melakukan pekerjaan-pekerjaan di luar kompetensi hanya demi bisa menambah penghasilannya.

Sebelumnya dalam pemaparan visi dan misinya, Kapolri Tito Karnavian pun telah menjelaskan kalau dia akan berusaha meningkatkan kesejahteraan dari para anggota polisi tersebut. Dirinya mengaku akan juga memperhatikan polisi-polisi yang tugas di daerah. Selama ini ada polisi yang tidak pernah diberikan kesempatan untuk mempromosikan karirnya dengan menjalani rotasi. Menurutnya ada 2 macam polisi yaitu polisi berdarah biru dan merah. Polisi berdarah biru lebih punya peluang untuk meningkatkan karir dan pengalamannya, sedangkan polisi berdarah merah hanya diam saja di daerahnya alias karirnya mentok di situ, terutama untuk polisi setingkat perwira menengah.

Kita berharap mimpi Kapolri untuk mensejahterakan anggota Polri bisa terealisasi dalam waktu dekat. Agar korps berbaju cokelat ini lebih berkomitmen dan profesional menjalankan tugas mereka, tanpa harus diganggu oleh masalah-masalah keseharian yang membebani pikiran dan loyalitas mereka kepada negara. Kita berharap polisi secara profesional dan tuntas menyelidiki kasus Mutmainah supaya jelas apa motif penyebabnya, sehingga kejadian serupa tidak terus terjadi dan merusak kenyamanan bermasyarakat. Apakah itu ada kaitan khusus dengan latar belakang suaminya? Atau hubungan sebab akibat lain terutama di dalam keluarga mereka, tugas polisi menyelidikinya.

Yang jelas, kita tak ingin kejahatan serupa menjadi inspirasi negatif bagi yang lain, yang mungkin saja saat ini tinggal selangkah lagi akan menempuh cara tragis demikian karena dihimpit masalah yang ia pendam atau gumuli.***

* Penulis adalah pemerhati sosial
sumber:harian.analisadaily.com
Berita Terkait
  • Kamis, 05 Des 2019 01:04

    Modal Tarigan Diduga Sebar "Hoax" Soal Perceraian EP Dengan Suaminya

    MEDAN | Lagi Lagi , Modal (MT) menjadi Sorotan Sejumlah Media , Kemarean soal tudingan dugaan perselingkuhan nya dengan seorang wanita inisial EP . Namun kali ini , MT kembali di Flow Up ke

  • Rabu, 04 Des 2019 20:28

    Ustaz Abdul Somad Gugat Cerai Istrinya

    PEKANBARU-Ustaz Abdul Somad Batubara (UAS) menggugat cerai istrinya. Istri UAS, Mellya Juniarti, membenarkan gugatan cerai dari suaminya. Dilansir dari detik.com, Informasi ini dibenarkan istri UAS, M

  • Rabu, 04 Des 2019 18:58

    ITA Riau Akan Buka Wisata Alam Di Kampar

    PEKANBARU - Ikatan Trail Adventure (ITA) Riau, akan membuka Wisata Alam Riau Dua (WAR2) dengan seluruh Koordinator Wilayah (Korwil) se-Provinsi Riau. Acara akan digelar, Minggu (8/12) mendatang t

  • Rabu, 04 Des 2019 18:52

    Polsek Rokan IV Koto Lakukan Pencari Balita Yang Hanyut

    ROKAN HULU - Polisi Sektor (Polsek) Rokan IV Koto Resort Rokan Hulu turun langsung membantu mencari seorang anak laki-laki yang Hanyut saat mandi sambil mencari ikan dengan menggunakan Tangkuo (Alat p

  • Rabu, 04 Des 2019 17:40

    Wartawan Pelalawan Berduka, Supendi Wafat

    PELALAWAN-Kepergian Wartawan Haluan Riau, Supendi  memberikan duka yang mendalam bagi insan Pers kususnya  di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.Supendi  berpulang di usianya yang ke 39

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.