Minggu, 21 Jun 2026

Inovasi Teknologi, dari Melon hingga Sapi 1 Ton

Kamis, 03 Des 2015 09:07
Okezone
Menristekdikti M Nasir.
JAKARTA - Riset tidak melulu untuk bidang teknologi mekanis. Penelitian untuk menghasilkan teknologi terbaru di bidang bahan pangan dan agrikultur juga sangat terbuka lebar.

Inilah yang dilakukan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dengan menggandeng berbagai mitra petani Indonesia. Menristekdikti M Nasir bercerita, salah satu hasil riset unggulan di bidang pertanian adalah melon.

"Dulu, kita makan melon dengan daging buah berwarna oranye itu diimpor dari Thailand. Sekarang semua sudah produksi Indonesia," ujar Nasir ketika berbincang dengan Okezone di kantornya, belum lama ini.

Nasir memaparkan, hasil riset rekayasa genetika itu memungkinkan petani membuat beragam warna melon; bisa kuning, oranye hingga merah. Rasanya pun bisa ditakar tingkat kemanisannya. Tidak hanya itu, daging melon juga lebih renyah, tidak lagi lembek jika sudah terlampau masak.

"Ini hasil riset petani Indonesia yang kami bina. Hasil panen mereka juga sudah disuplai ke semua hipermarket Indonesia," imbuh Nasir.

Inovasi bidang peternakan juga tidak kalah unggul. Nasir menyebutkan, jika bobot sapi biasa rata-rata 200 kg, maka peternak sapi yang dibina Kemristekdikti bisa menghasilkan sapi seberat 525-570 kg.

"Bahkan ada juga yang mencapai 800 kg hingga satu ton. Anak sapi yang umumnya 15-18 kg bisa dikembangkan hingga berbobot 35 kg. Hal tersebut dimungkinkan melalui riset rekayasa genetik," imbuh Nasir.

Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro itu juga mendorong lahirnya inovasi unggul dalam bidang kesehatan dan obat-obatan. Pasalnya, 92 persen obat Indonesia saat ini masih impor.

"Kami dorong peneliti untuk mengembangkan biodiversitas Nusantara menjadi obat asli Indonesia. Misalnya, daun imbau dibuat jadi obat diabetes. Obat kanker juga sedang kami kembangkan," ujarnya.

Selain impor, banyak juga obat berbahaya beredar di Indonesia. Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melansir nama 54 jenis obat yang mengandung bahan kimia yang membahayakan kesehatan.

"Itu dia, banyak orang mengeluarkan obat tanpa uji klinis. Saya juga sudah minta ke BPOM, seharusnya bisa manfaatkan laboratorium di kampus," tandas Nasir.

(okezone.com)
Pendidikan
Berita Terkait
  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:12

    Simpatisan Komitmen Kawal Realisasi Target Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

    Ribuan massa aksi yang mengatasnamakan Simpatisan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Malang Raya menyelenggarakan Apel Akbar dan Senam Bersama di Alun-Alun Tugu, Kota Malang, Jawa Timur pada Sabtu (20

  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:02

    Presiden Prabowo Setujui Gagasan Pelatnas Multiyears, Mensetneg dan Seskab Follow Up Anggaran

    BOGOR - Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan besar untuk memperkuat pengembangan ekosistem olahraga nasional. Hal itu disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) E

  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:01

    Delegasi Malaysia Lirik Potensi Besar Kelapa Rangsang Meranti

    SELATPANJANG - Pasar internasional kembali melirik kekayaan alam Kabupaten Kepulauan Meranti. Perusahaan asal Malaysia, Grisek Jaya Sdn. Bhd, terjun langsung menjajaki peluang bisnis dan perdagangan k

  • Sabtu, 20 Jun 2026 15:05

    Bupati Tabanan Buka Festival Jatiluwih Ke-7, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pariwisata Lokal

    Bupati Tabanan, Bali, I Komang Gede Sanjaya, secara resmi membuka Festival Jatiluwih Ke-7 Tahun 2026 pada Sabtu, 20 Juni 2026. Acara ini akan berlangsung hingga Minggu, 21 Juni 2026, dengan tujuan uta

  • Sabtu, 20 Jun 2026 15:02

    Pemerintah Perluas Akses Internet Pendidikan dengan Starlink di Nias Utara: Solusi Daerah 3T

    Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat Akses Internet Pendidikan, khususnya di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T). Upaya ini diwujudkan melalui penye

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.