Minggu, 03 Mei 2026

Pendidikan

Kecurangan Buat Hasil UN Tak Valid

Sabtu, 09 Apr 2016 12:36
okezone.com
Ilustrasi

JAKARTA – Sejak tak dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa, laporan pengaduan pada ujian nasional (UN) mengalami penurunan yang cukup signifikan. Para siswa sudah tidak terlalu menjadikan ujian negara tersebut sebagai momok. Sayangnya, hal tersebut tak serta-merta menghilangkan masalah dan kecurangan.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) sendiri selama UN berlangsung rutin merekap berbagai kendala yang muncul dalam pelaksanaan ujian. Menurut Sekjen FSGI, Retno Listyarti, masalah tetap banyak dan memprihatinkan.

"Menurun jumlah laporan, tetapi kalau masalah tetap banyak dan memperihatinkan, terutama terkait kebocoran kunci dan soal," tuturnya melalui pesang singkat kepada Okezone, Sabtu (9/4/2016).

Terhadap kecurangan dan beredarnya kunci jawaban dan soal, kata Retno, membuat hasil UN tak valid untuk mengukur parameter apa pun. Dia mengungkapkan, indeks integritas yang digadang-gadang mampu menilai tingkat kejujuran suatu sekolah bahkan tak valid lantaran berbagai temuan kecurangan tersebut.

"UN seharusnya tidak digunakan untuk parameter lain, selain sebagai pemetaan. Walau UN tidak lagi jadi penentu kelulusan, tetapi masih dijadikan penentu masuk jenjang pendidikan tinggi. Maka potensi kecurangan akan terus terjadi," ujarnya.

UN sebagai pemetaan, ucap dia, merupakan perintah UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dengan diberlakukan hanya sebagai pemetaan, kasus kecurangan otomatis hilang. Sekolah tidak lagi berlomba-lomba meraih nilai tertinggi UN bagi para siswanya.

"Pemetaan itu bukan untuk prestise, tetapi untuk melakukan intervensi peningkatan kualitas pendidikan dan memberikan bantuan kepada sekolah. Misalnya, hasil UN bahasa Inggris jelek, ternyata setelah di survei sekolah tersebut tak punya laboratorium bahasa. maka negara membangunkan laboratorium. Kemudian tiga tahun lagi dievaluasi hasil UN-nya, ada peningkatan tidak," paparnya.

Retno menyebut, selama ini UN baik di Papua maupun Jakarta sama-sama lulus 100 persen. Sehingga tak tergambar masalah pendidikan dan intervensinya harus berdasarkan apa.

"Pemerintah cukup mengganti kebijakan UN hanya sebagai pemetaan, kemudian kecurangan akan berhenti," tandasnya. (okezone.com)

Pendidikan
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 09:53

    Kemenag Apresiasi Tradisi Khotmul Alquran di MAN 3 Pekanbaru

    PEKANBARU - Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pekanbaru memberikan apresiasi terhadap kegiatan Khotmul Alquran siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Pekanbaru.Apresiasi tersebut disampaikan Pl

  • Sabtu, 14 Mar 2026 09:30

    Peduli Pendidikan, Anggota DPRD Rohil Amansyah Apresiasi Yayasan Asham As Ari dan Siswa MDTA Ar Rahman

    KUBU - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Rokan Hilir dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Amansyah, memberikan apresiasi kepada Yayasan Asham As Ari Rokan Hilir dan siswa-si

  • Jumat, 13 Mar 2026 16:35

    Program S2 Matematika UIR Resmi Dibuka, Berbasis Teknologi Modern

    Pekanbaru â€" Universitas Islam Riau (UIR) menambah daftar program studi baru di Program Pascasarjana. Menjelang akhir Ramadan 1447 H, UIR resmi membuka Program Magister Pendidikan Matematika, sebagai

  • Rabu, 11 Mar 2026 08:53

    Dua Pekan Libur, Jadwal Libur Idulfitri SMA dan SMK di Riau Berlaku Mulai 13 Maret 2026

    PEKANBARU - Pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Riau resmi mendapatkan jatah libur Hari Raya Idulfitri selama dua pekan. Masa liburan ini diteta

  • Sabtu, 07 Mar 2026 10:25

    BKD Riau Siapkan Sanksi Pemecatan untuk Guru SMAN 18 Pekanbaru

    PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau mengambil langkah cepat menyikapi dugaan pelecehan seksual di SMAN 18 Pekanbaru. Seorang oknum guru di sekolah tersebut diduga melakukan tindakan tidak pantas terh

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.