Liputan6.com
Menristek Dikti, Muhammad Nasir menyampaikan paparan dalam diskusi Forum Medan Merdeka Barat (FMB) di Jakarta, Senin (23/10). Beberapa kementerian memberikan presentasi pencapaian kerja 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK.
JAKARTA - Kemenristekdikti dan para rektor menetapkan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) hanya menggunakan satu model tes, yaitu Ujuan Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Metode tersebut akan diberlakukan pada SBMPTN 2019.
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti)
Mohamad Nasir mengatakan, penunjukkan UTBK sebagai metode tes bertujuan
untuk memberikan layanan dan keuntungan bagi para peserta seleksi.
Perubahan ini juga dapat meminimalisir kesalahan penulisan data diri.
"Ujian berbasis komputer mengurangi kesalahan pengisian identitas,
kode soal, dan pengisian lembar jawaban bila dilaksanakaan ujian
berbasis cetak," katanya dalam wawancara khusus dengan Liputan6.com di Jakarta, Jumat (15/2/2019).
Materi UTBK terdiri dari Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes
Kompetensi Akademik (TKA). TPS dapat mengukur kemampuan kognitif yang
tidak berkorelasi dengan pelajaran di sekolah, sedangkan TKA masih
berkaitan dengan konten pelajaran.
Maksimal 2 Kali Tes
Nasir
menyoroti pengadaan materi TPS. Menurutnya, jenis tes tersebut
memberikan kesempatan untuk peserta tertentu agar bisa lulus seleksi
berbasis komputer ini.
"TPS memberikan peluang kepada siswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang kurang terfasilitasi," tambah Nasir.
Nasir menjelaskan, hasil UTBK berupa nilai TPS dan sub tes TKA akan
diberikan kepada peserta secara individu 10 hari setelah pelaksanaan tes
melalui laman resmi SBMPTN 2019.
Tes itu akan dilaksanakan di 73 lokasi pusat UTBK PTN sebanyak 10
kali periode 13 April sampai 26 Mei. Dalam satu tempat, UTBK rencananya
akan dibagi menjadi dua sesi.
Berdasarkan regulasi dari kemenristekdikti, setiap peserta diberi kesempatan mengikuti tes maksimal 2 kali.
Sumber: Liputan6.com
Pendidikan