Selasa, 14 Jul 2026
Bekunci, Cara Warga OKI Menghadapi Virus Corona
admin
Rabu, 20 Mei 2020 14:40
Masyarakat Desa Jermun, Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, memiliki cara tersendiri dalam menangani penyebaran virus Covid-19. Salah satunya menggelar sedekah adat 'bekunci' yang muncul jauh lebih dulu ketimbang istilah lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Plt Kepala Bidang Pelayanan Komunikasi Publik Diskominfo OKI Adi Yanto mengungkapkan, kata lockdown digunakan untuk menjelaskan suatu upaya pengendalian penyebaran infeksi dengan cara mengharuskan sebuah wilayah menutup akses masuk maupun keluar sepenuhnya. Definisi lockdown sebenarnya belum disepakati secara global. Penerapan pun berbeda di setiap wilayah.
Di China, lockdown diterapkan secara total, seluruh warga dilarang keluar rumah dan semua area publik ditutup. Di Spanyol dan Italia, kebijakan lockdown di sana masih memperbolehkan warganya pergi keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan membeli obat-obatan.
Lain lagi di Indonesia, pemerintah mengenalkan istilah PSBB. Sejauh ini ada beberapa kota dan provinsi yang telah menerapkan PSBB dalam rangka mencegah penularan Corona meluas.
"Jauh sebelum istilah lockdown dan PSBB tenar, warga kami tepatnya di Desa Jermun Kecamatan Pampangan, sejak puluhan tahun lalu telah mengenal istilah 'bekunci' yang memiliki makna hampir serupa," ungkap Adi dalam ketrangannya kepada merdeka.com, Rabu (20/5).
Dijelaskannya, bekunci merupakan rangkaian dari prosesi upacara adat 'sedekah ubat' yang digelar dalam rangka mencegah wabah penyakit. Ritual sedekah ubat digelar dalam rangkaian empat hari.
Di malam hari pertama disebut dengan tolak balak. Di malam itu selepas Magrib, tua, muda, bahkan anak-anak diajak berkumpul di tanah lapang untuk mengikuti ritual sedekah obat. Sekelompok pemuda mengelilingi warga yang berkumpul itu dengan kayu, sejenis kayu gaharu yang telah dikupas bersih. Kayu tersebut disusun rapi mengurung warga peserta ritual sedekah obat.
"Jika telah masuk waktu ritual, tidak seorang pun diperbolehkan keluar masuk dari lingkaran tersebut," terangnya.
Berselang beberapa menit ketua adat desa pun keluar dengan membawa teko besar berisi air yang sudah dicampur rempah daun paya. Di belakangnya berbaris anak-anak muda yang membawa teko dengan ukuran yang sama. Air dalam teko tersebut lalu dipercikan satu per satu kepada tiap warga.
Keesokan harinya hingga hari ketiga warga harus berpantang, yaitu dilarang pergi ke sawah ataupun ke kebun bahkan dilarang keras memegang senjata tajam. Warga percaya, bila dilanggar akan mendatangkan mara bahaya apalagi di hari ketiga yang disebut dengan pantang perit (pantang ketat), warga dilarang melakukan aktivitas berat.
Selama tiga hari berturut-turut itu, menjelang Magrib, setiap rumah menyalakan api dengan sabut kelapa sebagai simbol mengusir setiap mara bahaya. Ritual ini dilakukan oleh kepala keluarga atau anak laki-laki. Malam harinya, tidak ada seorang wargapun yang berani keluar rumah.
Selain menyalakan api, kepala keluarga juga memasang bambu kuning yang diselipkan di atap plafon rumah. Bambu kuning itu melambangkan keberanian dan kesejahteraan. Banyaknya bambu kuning yang melekat di atap rumah, menggambarkan sudah berapa kali penghuni rumah tersebut mengikuti sedekah obat.
Di hari keempat selepas berpantang, digelar sedekah dawet. Warga yang mampu membuat kolak dawet di rumah masing-masing lalu dibagikan ke warga yang kurang mampu serta jiron tetangga.
"Hidangan lain yang disediakan juga unik. Ada lemang, ada sagon yang terbuat dari tepung terigu dicampur kelapa dimasak dengan gula pasir. Ada juga gulo puan, yaitu hasil permentasi susu kerbau yang jadi ciri khas kecamatan Pampangan," kata dia.
Hidangan yang disediakan menurut warga memiliki makna tersendiri dan jarang dimasak kecuali digelaran sedekah ubat. Hidangan disiapkan secara bersama-sama. Warga dengan ikhlas menyisihkan rezeki sekedar membuat dan membawa sejumlah hidangan, untuk disantap bersama seusai upacara.
"Tidak ada jarak yang memisahkan baik miskin, kaya, tua, dan muda, semua larut dalam kebersamaan. Semua kebutuhan sedekah ditanggung bersama-sama bahkan dimasak dengan bersama-sama pula," ujarnya.
Dikatakannya, semasa pandemi dan pada bulan Ramadan, warga tidak melaksanakan prosesi sedekah obat. Mereka patuh pada iimbauan jaga jarak oleh pemerintah.
Meski demikian, sejak awal pandemi mereka telah 'bekunci' tidak keluar kampung jika bukan karena urusan penting. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka makan dari sumber daya alam yang ada.
"Sayur mereka ambil dari pekarangan rumah atau kebun. Jika ingin makan ikan, mereka cukup turun ke sungai memancing atau melempar jala. Hidup sederhana yang sudah biasa mereka jalani jauh sebelum pandemi," tuturnya.
Kepala Desa Jermun Abus Roni mengatakan, untuk menjaga desa dari virus corona dia mendirikan pos jaga yang dijaga secara bergantian. Setiap pendatang akan diperiksa kesehatannya oleh bidan desa.
"Alhamdulillah sampai kini belum ada warganya yang terpapar Corona. Hal itu karena kehidupan mereka yang sederhana dan patuh pada ajaran leluhur," kata dia.
"Bekunci bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri tapi saling jaga untuk sesama," tutupnya.
Sumber: merdeka.com
komentar Pembaca